ka'bahPada zaman Rasulullah saw, lewatlah seseorang di depan para sahabat sembari mengucapkan salam. Setelah orang itu pergi, salah seorang berkata, ’Aku membenci dia’. Mendengar itu, sahabat lain menceritakan hal itu pada pria tersebut. Kemudian, keduanya menghadap Rasulullah saw. Nabi saw bertanya, ’Mengapa engkau membencinya?’ Ia berkata, ’Ya Rasulullah, aku ini tetangganya. Aku tahu kelakuannya. Dia tidak salat kecuali salat wajib saja, yang dilakukan orang soleh maupun durhaka.’

Pria yang dibenci itu berkata, ’Ya Rasulullah, tanyalah dia, salahkah wudhuku atau apakah aku mengakhirkan salatku?’ Orang itu menjawab tidak,lalu berkata, ’Ya Rasulullah, dia tidak memberikan selain zakat, yang dilakukan oleh orang soleh maupun durhaka.’

Pria yang dibenci itu berkata, ’Ya Rasulullah, tanyalah dia, pernahkah aku menahan hak orang lain yang memintanya?’ Orang itu menjawab tidak, tetapi berkata lagi, ’Ya Rasulullah, dia tidak berpuasa kecuali pada bulan Ramadhan, ketika orang soleh dan durhaka sama-sama melakukannya.’

Pria yang dibenci itu berkata, ’Ya Rasulullah, tanyakan kepadanya, pernahkah aku berbuka satu hari saja bukan karena sakit atau musafir.’ Sekali lagi orang itu menjawab tidak. Kemudian Nabi saw berkata kepada si pembenci tadi, ’Sungguh aku tidak tahu, boleh jadi dia lebih baik dari kamu.’

Kisah di atas menceritakan seseorang yang telah masuk dalam jebakan prasangka. Prasangka (prejudice) adalah penilaian negatif terhadap suatu kelompok atau individu yang dilakukan sejak awal dan terus berlanjut walaupun faktanya tidak sesuai dengan penilaiannya tersebut. Gordon W. Allport dalam The Nature of Prejudice menyatakan bahwa prasangka merupakan pernyataan yang hanya didasarkan pada suka dan tidak suka, mendukung dan tidak mendukung, hingga pandangan yang emosional dan bersifat negatif terhadap individu atau kelompok tertentu. Karenanya, prasangka merupakan salah satu rintangan komunikasi atau hambatan bagi hubungan antar sesama karena orang yang berprasangka belum apa-apa sudah curiga kepada orang lain. Dalam prasangka, emosi memaksa kita untuk menarik kesimpulan atas dasar syakwasangka tanpa menggunakan pikiran dan pandangan secara objektif. Karena itulah, sekali dicekam prasangka, maka seseorang tidak akan dapat berpikir objektif dan segala apa yang dilihatnya akan dinilai secara negatif. Karenanya, salah satu ciri dari prasangka kata Zastrow adalah memandang kelompok lain dengan pandangan sinis (Outhwaite, Ensiklopedi Pemikiran Sosial Modern, 2008: 676-677).

Kita jatuh pada prasangka, jika kita mencurigai akidah, ibadah, dan perilaku orang lain. Karena kecurigaan dan prasangka buruk itu, membuat kita membenci orang yang berbuat baik, orang yang salat, yang puasa dan yang zakat, seperti kisah di atas. Prasangka itu di dahului oleh dugaan hati, menguat menjadi kebencian, selanjutnya muncul dalam kata-kata dan tindakan. Prasangka dalam akhlak Islam di sebut zhan, yang memiliki dua macam bentuk, yaitu husnuzahan (prasangka baik) dan su’uzhan (prasangka buruk). Jadi, berbeda dengan Allport dan Zastrow di atas, dalam Islam prasangka itu bisa saja baik, bukan hanya kebencian dan sisnisme semata.

Islam mengajarkan kepada manusia untuk berprasangka baik, dan melarang berprasangka buruk, karena prasangka baik membawa manusia untuk berpikir dan bersikap secara positif dan tidak tergesa-gesa menilai perbuatan orang lain, ”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), Karena sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain...” (Q.S. al-Hujurat : 12)

Perhatikan, ayat di atas menyebutkan jalannya prasangka dan konsekuensinya. Awalnya adalah prasangka, kemudian berlanjut mencari-cari keburukan, dan kemudian menggunjingkannya. Pada tingkatan terakhir ini, prasangka di hati berubah menjadi ghibah di lidahbahkan mungkin fitnah. Sungguh ini dosa yang besar. Karenanya berhati-hatilah pada prasangka kita. Jangan sampai prasangka kepada seseorang atau kelompok orang menjadikan kita juru ghibah dan juru fitnah hanya karena kita mencurigai akidah, ibadah dan akhlak orang lain. Bebaskan diri dari su’uzhan dengan membangun husnuzhan. Sebab, perilaku husnuzhan berarti mempertahankan kehormatan kaum muslimin, sedangkan su’uzhan bertujuan menghinakan kehormatan orang muslim, padahal kehormatan kaum muslim itu lebih besar dari ka’bah, kiblat umat Islam. Rasulullah saw bersabda,

”Sesungguhnya kehormatan orang Islam lebih besar di sisi Allah daripada kehormatan ka’bah. Hartanya dan darahnya, harus dihormati, dan tidak boleh berprasangka apapun kepadanya kecuali yang baik saja.”

Kita mengetahui bahwa ka’bah itu sangat terhormat karena kedudukannya sebagai kiblat, syiar tauhid, dan tempat mengagungkan Allah swt. Merendahkan kehormatan ka’bah, seperti pernah dilakukan tentara gajahnya Abrahah, akan mengundang kemurkaan Allah. Namun, bagi Rasulullah saw, kehormatan umat Islam jauh lebih besar. Maka jelaslah, meruntuhkan kehormatan orang muslim melalui prasangka buruk terhadap akidah, ibadah, dan akhlaknya, merupakan hal yang dibenci Allah. Ini berarti, menjaga kehormatan kaum muslimin, merupakan hal yang sangat disenangi Allah dan mendatangkan rahmat serta kerunia-Nya.Karenanya membela kehormatan kaum muslimin adalah kewajiban sebagaimna wajibnya membela ka’bah. Sekarang, perhatikan sekeliling kita, tetangga atau teman-teman kita, jika mereka berbeda dengan kita, identifikasilah prasangka anda terhadapnya. Dan berhati-hatilah, karena kehormatannya lebih mulia dari ka’bah. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL