makan 2Kita mungkin senang menikmati makanan yang panas atau hangat, terutama jika memakan sop, soto, bakso, gorengan atau lainnya yang sangat nikmat jika dinikmati selagi masih panas/hangat. Begitu juga dengan minuman seperti kopi, teh, bandrek, atau lainnya. Namun, tentu saja dalam menikmati makanan/minuman yang panas tersebut seringkali kita meniupnya agar mulut kita sanggup memakannya/meminumnya, sebab mulut kita sangat sensitif dengn rasa panas.

Perlu diperhatikan, Nabi saw menganjurkan kita untuk memakan makanan/minuman yang dingin, tetapi Nabi juga melarang kita mendinginkan makanan dengan cara meniupnya. Diriwayatkan dari Sayidina Ali bin Abi Thalib bahwa Rasulullah saw bersabda, “Dinginkanlah ia (makanan ini) sehingga ia menjadi dingin! Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak akan memberi maka kita api, dan keberkahan itu terdapat di dalam (makanan) yang dingin.” (Muntkhab Mizan al-Hikmah, no. 206). Dan cucunya Sayidina Ali yaitu Imam Ja’far Shadiq, ketika menjelaskan salah satu larangan Nabi saw terhadap makanan/minuman dia berkata, “Nabi saw melarang meniup makanan atau minuman”. (Muntkhab Mizan al-Hikmah, no. 209)

Jadi, salah satu adab dalam makan/minum adalah mendinginkan makanan atau minuman yang panas, tetapi dalam mendinginkan makanan/minuman tersebut Nabi saw melarang dengan meniupnya. Dari larangan ini, para ahli fikih menyatakan makruh hukumnya meniup makanan.

Sebagai seorang Nabi yang dibimbing wahyu, tentu saja setiap perkataan atau perbuatannya mengandung hikmah. Setidaknya setiap anjuran nabi mengandung kebaikan dan larangannya mengandung keburukan. Para ahli berusaha mengungkap hikmah tersebut sesuai dengan bidang keahliannya. Termasuk hikmah larangan meniup makanan tersebut di atas. Dari penelusuran dan penelitian para ahli kesehatan, larangan Nabi saw dalam meniup makanan memiliki hikmah menghindarkan diri dari kesehatan, sebab di mulut kita banyak bakteri-bakteri yang mengandung penyakit yang dapat berpindah ke makanan dengan cara meniupnya atau merusak senyawa kimia yang dibutuhkan oleh tubuh. Di antara hikmah larangan ini berhubungan erat dengan senyawa asam karbonat, bakteri H. Pylori, Mikroorganisme, dan kotoran. Berikut ini penjelasan ahli kesehatan seperti dilansir oleh situs viva.co.id.

Asam Karbonat

Asam karbonat atau H2C03 adalah senyawa kimia yang sebenarnya sudah ada di dalam tubuh kita dimana berfungsi untuk mengatur kadar keasaman darah. Pada normalnya darah memiliki batasan kadar keasaman atau Ph yakni 7,35 sampai 7,45. Jika kadar keasaman ini lebih tinggi dari ph normal maka tubuh dapat berada dalam kondisi asidosis yang dapat menyebabkan gangguan jantung yang ditandai dengan napas menjadi lebih cepat, sesak, pusing karena tubuh berusaha menyeimbangkan kadar ph darah. Nah, lalu apa hubungannya dengan meniup makanan panas?

Hal ini karena apabila seseorang bernafas atau meniupkan nafasnya maka dia akan mengeluarkan senyawa kimia C02 (karbondioksida). Karbondioksida ini pada dasarnya tidak boleh bersentuhan dengan air, karena jika bersentuhan dengan air yang memiliki susunan kimia H20 akan membentuk senyawa asam karbonat yang berbahaya bagi tubuh.

Bakteri H. Pylori

Bakteri H. Pylori adalah bakteri yang menyebabkan gangguan lambung mulai dari luka kecil hingga membesar menjadi tukak lambung. Yang mengerikan lagi, bakteri ini dapat dengan mudah menyebar melalui pernafasan. Akan sangat bahaya sekali jika seseorang yang memiliki gangguan lambung atau secara tak sadar memiliki gangguan lambung meniup makanan atau minuman yang akan disajikan pada tamu atau pada anaknya, sehingga bakteri tersebut berpindah dan mengontaminasi makanan atau minuman tersebut dan menular pada orang lain.

Mikroorganisme

Pernafasan adalah salah satu jalan keluar bagi mikroorganisme, virus dan bakteri untuk menyebar dan menularkan pada manusia lainnya. Misalnya virus TBC, yang terkadang tak disadari oleh yang mengidapnya dan akan menular melalaui droplet dan pernafasan yang intens. Sedangkan makanan atau minuman adalah sesuatu yang jelas akan masuk kedalam tubuh kita, diserap apa saja yang terkandung didalamnya termasuk nutrisi dan bakteri yang terkandung di dalamnya.

Kotoran Mulut

Kotoran disini diartikan kotoran yang berada di mulut. Mulut adalah tempat kita menghaluskan semua makanan yang juga dicampur dengan berbagai enzim untuk membantu menghancurkan makanan. Makanan yang hancur tak seluruhnya akan masuk kedalam lambung, pastinya ada sisa makanan yang terselip disela-sela gigi atau menempel di dinding-dinding mulut yang berubah menjadi kotoran mulut yang tentu saja mengandung bakteri penyakit. Kotoran mulut itu mudah berpindah ke dalam makanan hanya karena tiupan kita.

Penjelasan di atas tentu saja sebatas hikmah yang bisa diungkap saat ini. Tentu masih banyak hikmah-hikmah lainnya yang belum terungkap, sebab kandungan sabda Nabi saaw berlaku untuk sepanjang zaman. Namun, setidaknya penjelasan di atas memberikan sedikit masukan pada kita terhadap makna larangan meniup makanan/minuman, terutama terhadap anak-anak atau balita yang rentan terkena penyakit. Karenanya jagalah adab-adab makan yang diajarkan dalam Islam, maka insya Allah kita terhindar dari berbagai penyakit. Bukankah banyak penyakit yang disebabkan oleh makanan? (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL