bakhilPernahkah anda bertemu dengan orang bakhil (pelit)? Atau memiliki teman yang pelit? Mungkin dalam setiap jamuan makan, anda selalu mentraktirnya. Rokok anda terus dihisapnya, sedangkan rokoknya selalu disimpannya. Ia bukan tidak memiliki uang untuk bayar makan atau membeli rokok, yang tak diinginkannya adalah makanan dan rokoknya dinikmati oleh orang lain. Jika dijawab “Iya”, maka anda mengetahui tersiksanya berteman dengan mereka. Mungkin anda menyaksikan secara nyata kekikirannya. Allah mengecam sifat bakhil, “Ingatlah! Kalian adalah orang-orang yang diminta untuk menafkahkan sebagian harta kalian di jalan Allah, namun di antara kalian terdapat orang-orang yang bakhil. Siapapun yang bakhil, maka sesungguhnya ia bakhil terhadap dirinya sendiri, sebab Allah Maha Kaya dan kalian orang-orang miskin.” (Q.S. Muhammad : 38)

Namun, bakhil terkadang tidak terlihat nyata. Mereka mampu menyembunyikan sifatnya. Ada gurauan kepada orang bakhil, “Jangankan uangnya, dosanya pun tak mau dibaginya”. Artinya, hal yang tidak bermanfaat dan lebih layak diberikan kepada orang lain, bagi orang bakhiltetap tidak akan diberikannya dengan berbagai alasan agar dirinya tenang dan orang lain bisa menerima kebakhilannya. Inilah bakhil yang tersembunyi. Sebab, bakhil adalah menahan (tidak memberi) ketika harus/mampu memberi.

Kebakhilan tersembunyi adalah sejenis bakhil yang coba ditutup-tutupi dengan dalih agama atau rasionalisasi sehingga seolah-olah terlihat bukan kebakhilan. Bahkan ada kalanya mereka mengaburkan kebakhilan dengan istilah-istilah yang diciptakan seperti hidup ekonomis, kreatif memanfaatkan sesuatu, dsb.

Suatu hari seorang ayah berkata kepada tiga anaknya, “Anak-anakku, tolong belikan daging.” Maka bergegaslah anak-anaknya membelikan daging ke pasar dan membawa pulang untuk dimasak. Sang ayah pun memasak daging tersebut dan memakannya hingga tinggal sisa sedikit daging dan tulang-belulang. Anaknya mengamati sisa makanan tersebut. Melihat hal itu, sang ayah berkata, “Aku akan memberikan sisa daging ini kepada salah seorang dari kamu yang memiliki cara makan yang paling istimewa.”

Anak pertama menjawab, “Ayah, aku akan memakan semuanya hingga tak tersisa sedikitpun.” “Cara makanmu salah” jawab ayahnya.

Anak kedua menjawab, “Ayah, aku akan memakan semuanya hingga saat kukeluarkan kotoran sudah tidak diketahui lagi apakah itu berasal darinya atau dari makanan lain.” “Cara makanmu juga salah,” kata ayahnya.

Anak ketiga menjawab, “Ayah, aku akan mencicipinya sedikit saja, dan mengkhayalkan rasanya.” “Bagus, inilah cara makan yang baik, sisa makanan ini silahkan kau cicipi,” kata ayahnya.

Al-Jahiz dalam kitabnya al-Bukhala menceritakan bahwa salah seorang temannya dari golongan al-masjidiyyun (ahli mesjid) mengkisahkan bahwa orang-orang kikir sering berkumpul (arisan) di masjid membahas masalah pola hidup ekonomis, bermanfaat, dan teknik mengembangkan harta. Suatu hari, ketika arisan masjid orang kikir ini dilangsungkan, dimintalah setiap orang berbagai cerita dan pengalaman tentang hidup ekonomis dan bermanfaat. Seseorang pun berkata manyampaikan pengalamannya.

“Aku tak pernah berjumpa dengan orang yang mampu meletakkan sesuatu pada tempatnya dan sekaligus ahli mengambil manfaat dari barang miliknya melebihi Mu’adzah al-Anbariyah. Ia dihadiahi seekor kambing dari kerabatnya, tetapi ia bersedih, murung, dan memukul dirinya sendiri. Aku bertanya, ‘Apa yang terjadi padamu Mua’dzah?’

Muadzah menjawab, “Aku seorang janda, tidak memiliki pengetahuan mengolah daging kambing. Suamiku yang pandai mengolahnya telah wafat. Aku takut salah satu bagian tubuhnya hilang karena ketidaktahuanku. Aku sadar bahwa Allah tidak pernah menciptakan barang yang tidak berguna, baik di tubuh binatang ini ataupun di benda lain. Hanya manusia saja yang lemah memahaminya. Aku khawatir kehilangan sekalipun hanya secuil. Sebab, itu akan berakibat hilangnya manfaat yang lebih besar. Aku sedang berpikir untuk memanfaatkan semua bagian kambing ini.”

“Contohnya tanduk. Bermanfaat dijadikan pengait untuk menggantung keranjang, pelana, ataupun makanan agar terlindung dari tikus, semut, serangga, ular, dan sebagainya. Adapun usus, ia berguna sebagai tali pembusar. Tengkorak dan tulangnya bisa dihancurkan dan dimasak setelah dagingnya dimakan. Lemak yang keluar dari tulang-belulang—selain bisa dijadikan minyak lentera—juga bisa sebagai penyedap kue, bubur, dan makanan. Tulang-belulang jangan dibuang. Sebab, bila dibakar ia bisa menghasilkan api yang berkualitas terang dan asapnya sedikit. Tidak ada api yang lebih baik dari yang dihasilkan tulang-belulang. Kulitnya bisa dijadikan kantong atau baju. Kotorannya bisa menjadi kayu bakar yang sangat hebat dan tahan lama bila dikeringkan.

“Sekarang yang tersisa hanyalah darah. Allah hanya mengharamkan mengkonsumsinya. Tidak tertutup kemungkinan bagi kita untuk memanfaatkannya. Inilah yang menjadi bebanku dan penasaran yang tak berkesudahan, karena aku belum menemukan cara memanfaatkannya.” Muadzah pun mengakhiri penjelasannya.

Sejenak merenung, aku lihat raut wajahnya berubah ceria dan berkata,“Aku baru ingat bahwa di rumah ada periuk baru, dan jika diolesi dengan darah hangat dan lemak, maka perabot dari tanah itu akan tahan lama. Sekarang, aku baru merasa tenang. Semua bagian tubuh binatang ini bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin.”

Luar biasa bukan, inilah kikir tersembunyi yang berlindung di balik cara makan dan memanfaatkan ciptaan Tuhan. Terhadap orang-orang kikir ini Allah menjanjikan siksa yang pedih, “Orang-orang yang kikir dan menyuruh orang bersikap kikir serta prang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang Allah berikan kepada mereka. Kami telah menyiapkan bagi mereka siksaan yang menginakan” (Q.S. an-Nisa : 37). Semoga kita semua terhindar dari sifat kikir ini. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL