janjiPemimpin adalah orang yang dijadikan rujukan dan contoh dalam kehidupan. Dalam pameo para ahli sejarah terkenal kaidah sejarah, “Agama rakyat mengikuti agama penguasa/pemimpinnya”, ini berarti jika pemimpin memilih agama tertentu, maka rakyat juga akan cenderung mengikuti agama tersebut. Begitu pula, jika pemimpin berkarakter tertentu, maka rakyat juga akan menyesuaikan diri dengan karakter pemimpinnya tersebut.

Diantara ajaran Islam tentang karakter pemimpin adalah menepati janji, terlebih janji adalah hal yang sering dilontarkan para pemimpin. Janji memberikan harapan, semangat perjuangan dan juga tuntutan. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji itu.” (Q.S. al-Maidah : 1); “Dan tunaikanlah janji, sesungguhnya janji itu pasti akan diminta pertanggungjawabannya.” (Q.S. al-Isra : 34).

Dikatakan, ada tiga hal yang tidak terdapat uzur di dalamnya. Pertama, menyampaikan amanah kepada orang baik maupun orang jahat. Kedua, menepati janji kepada orang baik ataupun orang jahat. Ketiga, berbakti kepada kedua orang tua, entah mereka baik ataupun jahat.

Karena itu ketika seorang beriman mengikat janji dengan orang lain, sekalipun orang kafir, maka ia wajib memenuhi janjinya. Baik janji perorangan maupun kelompok. Dan janji pemimpin dapat dikatakan mencakup kedua jenis janji tersebut. Sebagai seorang pribadi, pemimpin itu mengikat janji perorangan, tetapi sebagai pemimpin, ia mengikat janji atas nama seluruh rakyatnya. Karena itulah nilai pemimpin sama dengan nilai seluruh rakyatnya. Janji pemimpin adalah janji rakyatnya. Menepati janji, walaupun adakalanya tidak menyenangkan, akan memberikan pegaruh besar dan hikmah yang mendalam. Bahkan para pembenci Islam, rela memeluk Islam hanya karena keteguhan janji para pemimpinnya.

Masih ingatkah dengan perjanjian Hudaibiyah (Shulh al-Hudaibiyyah), yang salah satu isi perjanjian itu adalah, “Jika ada seorang dari kaum Muslimin menyeberang ke pihak kaum musyrikin Quraisy, ia tidak akan dikembalikan.”

Baru saja perjanjian ditandatangani, tiba-tiba datanglah Abu Jandal bin Suhail. Abu Jandal telah masuk Islam, maka ia pun lari dari Mekah dan berniat bergabung dengan Rasulullah saw. Ia sampai ke hadapan Nabi dengan kondisi menyedihkan, kehausan, kelaparan, penuh luka, dan tangan di rantai. Suhail melihat anaknya tersebut dan marah serta memukuli Abu Jandal. Suhail menuntut Nabi memenuhi janjinya. Maka Nabi pun, walau dengan hati sedih, menyerahkan Abu Jandal kembali kepada kaum kafir Quraisy. Nabi hanya bersabda, “Wahai Abu Jandal, tabah dan sabarlah…Kami telah mengikat perjanjian dengan mereka, dan tidak akan mengkhianati perjanjian tersebut.” Maka Abu Jandal pun di bawa kembali ke Mekah.

Peristiwa ini ternyata memberikan hikmah luar biasa. Dengan adanya perjanjian ini, maka Nabi saw diakui kaum Quraisy sebagai pemimpin Madinah yang harus dihormati. Nabi dan kaum muslimin memiliki hak hidup yang sama dengan mereka di jazirah Arab. Dakwah secara damai diberikan kepada pengikut Nabi saw. Inilah yang dimanfaatkan Abu Jandal yang tinggal di Mekah. Melalui dakwahnya, banyak orang memeluk Islam. Ibnu Hisyam mengatakan, “bayangkan ketika dalam perjanjian Hudaibiyah jumlah kaum muslimin hanya sekitar 1500 orang, tetapi dua tahun kemudian, ketika Rasulullah saw merebut kota Mekah, jumlah kaum muslimin mencapai 10.000 orang.” Karena itulah Allah menyebut perjanjian ini sebagai pintu kemenangan Islam, “Telah kami limpahkan kepadamu (Hai Muhammad) suatu kemenangan yang nyata” (Q.S. al-Fath : 1).

Keteguhan menepati janji yang ditunjukkan Nabi saw sebagai pemimpin kaum muslimin ketika itu, kembali ditunjukkan oleh khalifah setelahnya yaitu Sayidina Umar bin Khattab ra.

Dikisahkan, Ketika kaum Muslimin di masa kekhalifahan Umar bin Khattab ra, berhasil menaklukkan Ahwaz, Persia, mereka menangkap Raja Harmazan dan menghadapkannya kepada Sayidina Umar di Madinah.

Khalifah Umar berkata, “Jikalau Anda ingin selamat, maka berimanlah! Dan jika tidak, niscaya aku membunuhmu.” Harmazan mengatakan, “Engkau pasti membunuhku. Sekarang, bawakan air sekedarnya untuk menghilangkan rasa dahagaku.”

Sayidina Umar menyuruh orang agar membawakan air untuk Raja Harmazan. Air dibawa dalam gelas kayu. Harmazan berkata, “Saya tidak sudi minum dari gelas ini. Karena, saya terbiasa minum menggunakan gelas yang dihiasi permata.”

Sayidina Ali ra yang hadir pada saat itu berkata, “Penuhi permintaannya. Bawakan untuknya apa yang diinginkannya!” Merekapun membawakannya. Harmazan mengambil gelas itu dan meletakkannya di mulutnya, tetapi tidak meminumnya.” Melihat hal itu, Khalifah Umar berkata, “Demi Allah! Aku berjanji tidak akan membunuhmu sampai engkau minum air tersebut.”

Mendadak Harmazan menumpahkan gelas itu. Sayidina Umar terkejut melihatnya, dan menoleh ke arah Sayidina Ali untuk meminta pendapat, “Apa yang harus kulakukan sekarang?”

Sayidina Ali menjawab, “Karena engkau telah berjanji membunuhnya dengan syarat minum air itu, maka penuhilah janjimu, engkau tidak bisa lagi membunuhnya. Tetapkan baginya pajak orang kafir.” Sayidina Umar pun bersedia mengampuni Harmazan.

Mendengar hal itu, Harmazan berkata, “Aku tidak bersedia membayar pajak. Sebab, sekarang dengan penuh kesadaran, tanpa rasa takut dan terpaksa, aku menyatakan diri masuk Islam.” Harmazan pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Khalifah Umar ra memeluknya dengan gembira. Harmazan diberikan rumah di Madinah dan setiap tahun berikan 10.000 dirham.

Harmazan masuk Islam tiada lain karena melihat keteguhan khalifah Islam dalam memegang janji mereka, sekalipun terhadap kaum kafir dan musuhnya. Bagaimana dengan para pemimpin kita sekarang ini? Silahkan dijawab masing-masing. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL