Oleh : Dr. Syaikh Ahmad Sabban Rajagukguk, MA

sabban“Tuan, saya suka baca ‘statusnya’ karena setiap pesan yg tuan posting selalu ada kalimat ‘menyejukkan’, sehingga kita pun membaca dan meresponnya jadi ikut sejuk.” Demikian bunyi pesan inbox yang masuk ke saya. Tentu saya merasa senang bukan ‘bangga’ karena segala pujian hanya milik Allah Swt dan saya masih merasa sebagai hamba yang ‘buruk’ karena belum bisa berbuat banyak untuk Islam dan menampilkan sikap ‘Rahmatan Lil ‘Alamin.

Tapi saya ingin melanjutkan tentang Islam yang ‘menyejukkan’ sebagaimana apresiasi di atas. Pesan ini menjadi fotenote diskusi akhir pekan. Saya melihat fakta ‘keragaman pemikiran Islam’ sekarang ini tidak bisa lagi dibendung. Berbagai aliran, mazhab, ormas Islam, partai Islam ‘tumbuh’ bagaikan jamur di musim hujan. Lantas kita bagaimana meresponya? Mau kita salahkan, kita sesatkan dan kita ‘berangus’, sangat tidak mungkin. Kenapa? Karena mereka punya dalil, punya Guru Besar bahkan sampai mau buat khilafah lagi. Punya ribuan dan jutaan jamaah ‘pengikut’, punya loyalitas siap mati, berkontribusi terhadap bangsa dan bangsa pun secara undang-undang mengakomodirnya. Mau kita usir, memangnya bisa. Mau kita bilang, Islam kita paling benar, masa iya. Atau cuma kita yang faham ‘makna tunggal’ Alquran dan sunnah yang lain tidak, konyol kali kita. Mau kita ‘paksa’ mereka ikut pemikiran kita, justru itu kekerasan. Mau kita hina mereka, memangnya kita sudah mulia. Kita sesatkan mereka, mereka juga ‘menyesatkan’ kita. Mau kita bilang Islamnya dangkal, memang sudah dalam kali Islam kita.

Kalau begitu bagaimana sikap terbaik kita merespon itu. Cara terbaik adalah hindarilah Islam ‘gaduh’. Yakni Islam yang dengan kehadiranmu buat Islam lain gaduh. Misalnya contoh sederhana yang masih mengemuka. Sudah ratusan tahun umat Islam hidup harmonis, hikmat dan ‘khusyu’ dalam satu masjid. Jamaah masjid itupun ada Ulama dan kaum intelektualnya. Terus kita pun datang jadi jamaah, karena kita merasa ‘sok tahu’ hanya gara-gara lafazh niat, zikir dan doa bersama, akhirnya pun jamaah mulai gaduh. Padahal salah seorang Ulama yang aktif jamaah di situpun ada alumni Makkah, Mesir dan lainnya, tapi tidak buat gaduh. Kenapa? Karena mereka tidak sempit memahami Islam. Ini barangkali hanya contoh terkecil.

Coba bayangkan saja jika seluruh mazhab dan aliran, merasa paling benar dan terus memaksa orang lain harus ikut. Bayangkan apa yg terjadi dan siapa yang di untungkan. Islam akan lemah dan mudah diobok-obok. Islam hadir 1.500 tahun yang lalu, tentu perkembangan pemikiran Islam semakin kompleks dan deras. Banyaknya ‘aliran’ Islam sebenarnya tidak menjadi masalah. Bahkan itu bisa menjadi kekuatan paling dahsyat dalam Islam asal kita jangan ‘gaduh’. Terus menjunjung tinggi ‘kehormatan dan martabat’ Islam. Lihat itu dunia Islam ‘tercabik-cabik’ Palistina, Irak, Libya, Suriah, dan lainnya. Sadisnya, dunia Islam lain bukan hanya ‘diam menonton’ tapi malah memberi pangkalannya bagi Sekutu Zionis utk ‘membumihanguskan’ dunia Islam lainnya. Tentu banyak argumentasi kenapa itu terjadi tapi salah satu yang tidak bisa diabaikan adalah lemahnya persatuan Islam karena sekat mazhab dan aliran. Itu barangkali secara dunia internasional.

Secara ‘keindonesiaan’ kita pun sudah mulai parah. Antar sesama aliran Islam pun di negara kita sudah sering ‘kontak fisik’. Lain halnya lagi secara politik keislaman kita. Kita sibuk dan ikut terus ‘memaki Ahok’ karena dia Gubernur Kristen dan keturunan Cina pertama di Ibu Kota Negara berpenduduk Islam terbesar di dunia. Pertanyaanya, memangnya selama ini apa yang sudah dibuat Gubernur-Gubernur, Bupati, Walikota yang Islam sebelumnya. Contoh, mashlahat apa rupanya yang paling kentara yang dapat dirasakan Gubernur, Bupati dan Walikotanya Islam, hafizh dan alim dibandingkan dengan Gubernur yang bukan Islam. Kira-kira apa yang bisa dikenang oleh sejarah umat Islam ke depan. Bukankah Islam selama ini hanya sekedar ‘Komuditas politik’ saja. Kalau memang benar pemimpin Islam sejati, tunjukkan kepada umat. Supaya umat bisa terus mengawalnya.

Kembali ke ‘Islam Gaduh’. Inilah pengamal-pengamal Islam yg membuat Islam gaduh. Oleh karenanya, karena teladan kita adalah Nabi Mulia Muhammad Saw yang keluhuran akhlaknya di jamin Allah Swt. Beliau Saw disebut Quran berjalan. Maka ‘umatnya’ yang paling dekat dengan Alquran dan Rasulullah Saw adalah mereka yg akhlaknya juga mulia. Kehadiran Rasul Saw sangat menyejukkan ‘menyenangkan’ bahkan membuat orang yang bertikaipun ‘luluh’ dengan sendirinya karena keluruhan dan kesejukan akhlaknya. Banyak yg membencinya, akhirnya bersyahadat karena keagungan akhlaknya.

Berbeda dengan kita sesama muslim saja pun bisa ‘gaduh’ gara-gara kita. Oleh karenanya ‘berhentilah’ dari pemahaman Islam yg membuat Islam itu sendiri gaduh. Gak ada kita pun di dunia ini, Islam akan ‘dipelihara’ Allah dan masih banyak umat Rasulullah yang bisa menyampaikam Islam dengan kesejukan sebagaimana nature-nya Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin. Rahmat buat semesta ‘alam, dimana setiap pribadi muslim memberikan rahmat kepada siapapun. Bukan hanya kepada seluruh umat manusia tapi juga kepada makhluk binatang sekalipun. (hd/liputanislam.com)

*Sumber : Akun FB tuan guru Ahmad Sabban Rajagukguk. Dr. Ahmad Sabban Rajagukguk, MA, adalah Doktor Komunikasi Islam dari UIN Sumut. Dosen di STAIN Malikussaleh dan UIN Sumut ini juga Pengasuh dan Tuan Guru di Rumah Sufi dan Peradaban Tarekat Naqsyabandiyah di Sumatera Utara.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL