riyaPada suatu hari Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya, “hal utama yang aku takutkan terhadapmu adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu?” Rasul menjawab : “Riya! Pada hari pengadilan, ketika Allah menghitung seluruh amal makhluknya, Dia akan berkata kepada orang-orang yang memiliki sifat riya, ‘Pergilah kalian kepada orang yang kalian pameri saat kalian hidup di dunia dan minta balasan dari mereka.” (Uddah ad-Dai, no. 214)

Riya berarti melakukan perbuatan baik untuk mencari perhatian, pujian atau kemashyhuran di depan manusia. Tentang ciri orang yang riya, Imam Ali berkata, “Ada tiga ciri yang menandakan bahwa seseorang melakukan riya, yaitu giat ketika dilihat manusia; malas ketika sendirian (tidak ada orang lain); dan ingin dipuji untuk semua perbuatannya.” Jika ketiga atau salah satu hal tersebut ada pada diri kita, maka kita termasuk kelompok orang-orang yang riya, nauzhubillah.  

Sifat riya ini merupakan dosa besar dan menyebabkan menurunnya kualitas bahkan matinya spiritual. Alquran menyatakan :  “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya.” (Q.S. al-Maun: 4-6) ; “Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah…” (Q.S. al-Anfal : 47)

Riya biasanya dilawankan dengan keikhlasan. Tentang ini, Imam Ghazali menyebutkan dua jenis keikhlasan. Pertama, yaitu keikhlasan beramal, yakni keinginan mendekatkan diri kepada Allah swt, mengagungkan-Nya, dan menyambut seruan-Nya. Yang mendorong hal itu adalah keyakinan yang benar. Lawan dari keikhlasan beramal ini adalah kemunafikan (nifaq), yakni mendekatkan diri kepada selain Allah. Kedua, Keikhlasan mencari pahala yaitu keinginan memperoleh manfaat akhirat dengan amal kebajikan. Lawan dari keikhlasan ini adalah riya, yakni keinginan untuk memperoleh manfaat dunia dengan amal akhirat, baik berasal dari Allah maupun dari manusia. Sebab, yang dipertimbangkan dalam riya apa adalah yang diinginkan, bukan dari siapa didapatkan.   

Apa yang dijelaskan al-Ghazali di atas diindikasikan Alquran, “Sesungguhnya orang-orang munafik menipu Allah, namun Allah (sebagai balasannya) menipu mereka. Apabila mereka berdiri melaksanakan salat, mereka melaksanakannya dengan malas, hanya untuk memperlihatkan kepada manusia bahwa mereka salat (riya) dan sedikit sekali mereka mengingat Allah” (Q.S. an-Nisa : 142); “Seperti orang yang menafkahkan hartanya secara riya dan orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kiamat” (Q.S. al-Baqarah: 264). Kemunafikan merupakan riya dalam bentuk keimanan, yaitu orang yang berpura-pura menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran, itulah kenapa orang yang beribadah seperti salat dan bersedekah secara riya disebut oleh Allah dalam ayat di atas sebagai orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Kemunafikan yang merupakan riya dalam bentuk keimanan, berkonsekuensi timbulnya riya dalam bentuk peribadatan.

Ada juga orang yang riya dalam penampilan, yang ingin mengesankan manusia kalau ia adalah orang yang dekat dengan Tuhan. Mengenakan serban besar, jubah panjang, jenggot lebat,  dahi hitam, fasih bacaan Alquran, agar disangka alim, soleh, banyak bersujud, dan taat pada agama. Begitu pula, mengenakan pakaian kasar agar dibilang zuhud, sufi, atau arif, sehingga akhirnya manusia menghormatinya dan statusnya sosialnya meningkat. Semua itu, secara zahir memang terlihat sebagai agama dan urusan akhirat, tetapi secara batin semua itu adalah syahwat duniawi. Itulah megapa Imam Ghazali di atas menyatakan bahwa riya itu ingin memperoleh dunia dengan menggunakan akhirat; ingin mendapatkan keuntungan material dengan sarana spiritual. Kalau kita menggunakan ukuran al-Ghazali ini, maka jika kita memperbanyak solat dhuha, banyak bersedekah, atau rajin puasa  senin-kamis, dan tahajud malam malam agar bisnis untung besar, atau untuk meraih kedudukan presiden, menteri, gubernur, walikota, camat, lurah, kepala dinas, dan jabatan duniawi lainnya, maka pada dasarnya kita jatuh pada riya. Rasulullah saw bersabda, “Celakalah orang-orang yang hendak mendapatkan keuntungan duniawi dengan menggunakan agama. Mereka menampilkan diri dengan memakai pakaian kasar dari kulit domba. Lidah mereka berbicara dengan suara lembut, dan berkata dengan perkataan yang lebih manis daripada madu, tetapi hati mereka adalah hati serigala. Tentang mereka Allah berfirman, “Apakah terhadap-Ku mereka (hendak) menipu dirinya sendiri?”

Namun, kita dapat mengubah fenomena riya tersebut dengan mengubah niat, bahwa segala keuntungan duniawi yang kita peroleh adalah kita butuhkan dan hendak digunakan pada jalan Allah swt. Pada posisi ini, ad-dunya mazra’atul akhirat, dunia menjadi ladang akhirat, seperti disabdakan Nabi saw. Kita harus menundukkan persoalan dunia ke dalam porsi agama, seperti dikatakan Imam Ali, “Jika urusan agamamu tunduk pada urusan duniamu, maka engkau telah membinasakan agamamu dan duniamu, dan di akhirat kelak engkau termasuk orang-orang yang rugi. (Sebaliknya), jika urusan duniamu tunduk pada urusan agamamu, maka engkau telah memelihara agama sekaligus duniamu, dan di akhirat kelak engkau termasuk orang-orang yang beruntung.”

Ibadah puasa adalah ibadah tersembunyi. Tidak ada yg mengetahui seseorang itu berpuasa kecuali hanya Allah swt dan dirinya sendiri. Kita bisa melihat solat dengan gerak geriknya, tetapi tak bisa melihat puasa hanya karena keringnya bibir. Karena itu puasa merupakan salah satu ibadah minim riya. Artinya, puasa termasuk ibadah yg sulit dicemari oleh sifat riya. Kita bisa saja berpura-pura puasa dihadapan manusia, tetapi bisa berbuka saat sendirian. Jadi orang yang mampu melaksanakan puasa hanyalah orang yang jujur, jujur kepada dirinya dan jujur dihadapan Tuhannya. Itulah makanya Allah berfirman di dalam hadits qudsi, “Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendirilah yang akan membalasnya”. Imam Ghazali menjelaskan hadis ini dengan mengatakan bahwa makna puasa itu berarti menahan dan meninggalkan (kaffun wa tarakun) yang pada dirinya sendiri adalah sebuah rahasia, yang tidak bisa dilihat secara kasat mata. Puasa adalah ibadah batin yang hanya dapat diketahuidan disaksikan oleh Allah swt. Karena itu, kita belajar mengikis riya melalui puasa. Namun, seperti diriwayatkan Imam Ahmad, Nabi saw juga mengancam kita, “Barangsiap berpuasa dengan sikap riya, maka dia telah jatuh pada kemusyrikan.” (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL