kemiskinanUmmul mukminin Aisyah ra meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda, “Orang yang murah hati dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Orang yang bakhil (pelit) jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Orang bodoh yang murah hati lebih dicintai Allah daripada orang pintar yang pelit.” (H.R. at-Tirmidzi)

Al-Qusyairi dalam Risalah al-Qusyairiyah membedakan antara orang yang murah hati dengan orang yang dermawan. Menurutnya, dermawan lebih tinggi tingkatannya dari murah hati. Orang yang memberikan sesuatu dan menyisakan sebagian, maka dia adalah orang yang murah hati. Orang yang memberikan miliknya dan menyisakan sedikit untuk dirinya, maka dia adalah orang yang dermawan.

As-Sulami, menunjukkan menifestasi kedermawanan disaat menghormati tamu. Dia mengutip sabda Nabi saw, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia membaguskan jamuan untuk tamunya.” SitiAisyah ra berkata, “Malaikat senantiasa mendoakan kalian, selama kalian menjamu tamu kalian.” Al-Zuzani meriwayatkan, “telah sampai kepadaku kisah tentang Ibrahim as. Allah bertanya kepadanya, ‘Tahukah engkau mengapa aku mengambilmu sebagai khalil (kekasih)’. ‘Tidak ya Rabb’, jawab Nabi Ibrahim as. Maka Allah menyampaikan, “Aku bedah hatimu, dan ternyata di sana Aku temukan bahwa hatimu lebih suka memberi daripada menerima”. Adapun Alqusyairi saat menafsirkan ayat, “Sudahkan sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim yang dimuliakan”? (Q.S. adz-Dzariyat: 24) mengatakan bahwa maksudnya adalah Nabi Ibrahim melayani tamunya dengan tangannya sendiri.

Dikisahkan bahwa Qais bin Sa’ad bin Ubadah adalah orang anshar yang terkenal dermawan. Ia ditanya apakah ia pernah melihat seseorang yang lebih murah hati dari dirinya. Maka ia menceritakan pengalamannya, “Ketika aku ke suatu desa, aku bertemu seorang wanita, lalu suaminya datang. Si wanita berkata kepada suaminya, ‘engkau kedatangan tamu’. Lalu suaminya keluar mengambil seekor unta dan menyembelihnya. Besoknya datang lagi tamu yang lain. Lelaki itu pun kembali menyembelih seekor unta. Aku heran melihatnya, dan berkata, ‘Tuan, aku hanya memakan sedikit unta yang disembelih semalam, menurutku tuan tak perlu menyembelih unta lagi.’ Dia menjawab, ‘Aku tidak akan menjamu tamuku dengan makanan sisa yang sudah menginap semalaman.’ Aku tinggal di rumah suami-isteri itu selama tiga hari, dan mereka selalu  memperlakukan tamunya seperti itu…”

Suatu hari Imam Ali bin Abi Thalib ra menangis, lalu seseorang bertanya kepadanya mengapa ia menangis. Beliau menjawab, “Sudah seminggu rumahku tidak kedatangan tamu, aku takut Allah menghinakanku.” Anas bin Malik ra berkata, “Zakat rumah adalah digunakan untuk menerima tamu.” Dan tentang ayat, “Tidak ada halangan bagimu untuk makan bersama-sama atau sendirian” (Q.S. an-Nur: 61), Ibnu Abbas berkata bahwa ayat tersebut bermakna pada dasarnya tidak boleh seseorang makan dengan sendirian, tapi kemudian Allah memberikan kemudahan. (Risalah al-Qusyairiyah, hal. 372).

Ketika menjelaskan keutamaan menjamu tamu, Imam Ali beliau mengatakan, “Yang menguatkan badan adalah makanan, dan yang menguatkan rohani adalah memberi makan.” Juga berkata, “Makanan yang kau makan akan lenyap, sementara makanan yang kau berikan kepada orang lain akan abadi.” (Mizan al-Hikmah, no. 3800)

Karenanya, kita harus khawatir jika rumah kita jarang didatangi tamu, dan lebih khawatir lagi jika kita tidak suka rumah kita didatangi tamu. Kalau kita mau menunbuhkan sifat kedermawanan, maka biasakanlah menjamu tamu dengan sebaik-baiknya, sekalipun dalam kesusahan. Allah memuji kedermawanan para sahabat Anshar yang merefleksikan sifat kedermawanan ini dengan firman-Nya, “…dan mereka (Anshar) lebih mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka membutuhkan (apa yang mereka berikan itu)” (Q.S. Al-Hasyr : 9). Tentang keluarga Nabi saw, Allah berfirman, Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. (Mereka berkata), “Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula (ucapan) terima kasih darimu.” (Q.S. al-Insan : 8-9)

Diceritakan, seseorang masuk ke rumah Bisyr bin Harits pada musim dingin, dan melihatnya memakai pakaian biasa sehingga tubuhnya menggigil kedinginan. Orang tersebut berkata kepada Bisyr, “Hai Abu Nashr, orang-orang saat ini merangkap pakaiannya dengan berlapis-lapis, tetapi engkau justru menguranginya.” Bisyr menjawab, “Aku teringat kepada orang-orang miskin dan aku tidak memiliki sesuatu yang bisa kuberikan kepada mereka. Karena itu aku berusaha memenuhi hak mereka dengan cara seperti ini, membiarkan diriku kedinginan seperti apa yang mereka rasakan.” Inilah empati kemiskinan.

Pernahkah kita berbuat seperti Bisyr? Pernahkah kita ketika membeli baju yang mahal, tapi  batal membelinya karena teringat akan orang-orang miskin yang tidak memiliki baju? Mana yang lebih menggembirakan kita, membeli satu baju idaman yang mahal, atau membeli sepuluh baju yang tidak mahal, kemudian memakai satu baju dan membagikan sembilan baju lainnya? Saat kita menikmati makanan di rumah atau di restoran, ingatkah kita kepada orang-orang yang kelaparan? Bahkan ketika kita sedang susah, masih ingatkah kita untuk bersedekah? Puasa mengajarkan kita untuk empati pada orang-orang miskin, dan ketakwaan yang menjadi tujuan ibadah puasa dicerminkan dengan kesediaan berbagi sebagaimana difirmankan Allah swt tentang ciri orang takwa adalah, Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhan-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menginfakkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit…”(Q.S. Ali Imran: 134).  Bahkan setiap halangan dan pelanggaran puasa, dendanya adalah memberi makan kepada fakir-miskin (Q.S. al-Baqarah: 184).

Dalam Tafsir Nur al-Quran diriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq, ketika ditanya tentang alasan perintah berpuasa, maka beliau menjawab :

Allah telah memerintahkan puasa untuk menciptakan keseimbangan antara orang kaya dan orang miskin. Hal ini agar orang kaya merasakan keadaan orang miskin dan akibatnya orang kaya menyayangi orang miskin (dengan menunaikan hak-hak mereka). Dan, karena segala sesuatu selalu tersedia bagi orang-orang kaya, maka Allah Yang Maha Kuasa senang apabila keseimbangan ditegakkan di antara hamba-hamba-Nya. Oleh karenanya, Dia telah menakdirkan orang kaya merasakan lapar dan kesulitan tersebut sehingga bersimpati kepada orang yang lemah dan merasa sayang kepada orang yang lapar.”

Jadi, puasa kita saat ini dinilai berhasil, jika pasca puasa ini, kita lebih senang memberi daripada menerima, baik ketika susah, terlebih ketika senang, dan kita lebih berempati kepada orang-orang miskin. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL