badanRasulullah saw bersabda, “Likulli syai’in zakatun wa zakat al-abdan as-shiyam”, Segala sesuatu ada zakatnya, dan zakat badan adalah puasa”. (Mizan al-Hikmah, no. 3716)

Secara bahasa, zakat berarti kesucian. Al-Zaki bermakna orang yang penuh kesucian, kebaikan dan kemuliaan. Secara syariat, zakat diartikan sebagai memberikan sebagian harta kekayaannya jika telah sampai nisab (ukuran) dan haul-nya (waktunya). Jadi, simpanan harta kita yang mencapai ukuran tertentu selama satu tahun, maka kita diwajibkan mensucikannya dengan mengeluarkan 2,5 % kekayaan itu untuk diberikan kepada kaum miskin. Inilah yang dikenal zakat harta.

Namun nabi menyebutkan bahwa selain zakat harta, terdapat zakat lainnya. Setelah setahun badan kita menikmati berbagai makanan, minuman, dan bersenang-senang, maka kini gilirannya untuk disucikan dengan menyisihkan satu bulan untuk menghentikan aktivitas kesenangan badaniah melalui puasa. Inilah zakat badan. Pengekangan kesenangan-kesenangan badaniyah ini dalam tradisi tasawuf disebut dengan tazkiyah an-nafs, penyucian diri.

Tazkiyah an-nafs dilakukan bagi orang yang ingin mencapai kesempurnaan spiritual dan kedekatan kepada Tuhan. Tazkiyah dilakukan secara lahir dan batin. Secara lahir, dilakukan dengan meninggalkan perbuatan yang diharamkan Tuhan, seperti zina, minuman keras, dan makanan haram. Sedangkan secara batin dilakukan dengan menjauhi dosa-dosa batin yang bersifat akhlaki, seperti iri, dengki, riya, dan mencintai hal-hal duniawi. Puasa yang bertujuan untuk menggapai ketakwaan, tentu sangat penting memperhatikan kedua bentuk tazkiyah tersebut. Sebab takwa adalah pemeliharaan diri dari dosa yang umumnya berasal dari nafsu-syahwat.

Puasa akan mengendalikan nafsu-syahwat sehingga mampu mengekang kesenangan terhadap duniawi dan bersabar dalam penderitaan serta ketaatan pada perintah Allah swt. Karenanya kalimat “Wahai orang-orang yang beriman” yang ada pada ayat puasa, merupakan kalimat sapaan yang mengarahkan dan mendorong kesiapan kita untuk menerima perintah yang akan dibebankan Allah, sekalipun perintah itu bertentangan dengan keinginan dan kebiasaan kita.  Ganjarannya adalah keberkahan dan pahala yang besar di sisi Allah swt. Saat menafsirkan ayat, “Sesungguhnya Kami akan mengujimu dengan suatu cobaan, yaitu ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Berilah kebar gembira kepada orang-orang yang sabar” (Q.S. al-Baqarah : 155), Al-Qusyairi dalam Risalah-nya berkata bahwa yang dimaksud adalah berilah kabar gembira dengan pahala yang besar karena mereka bersabar menahan sakitnya lapar. Karena itu melaparkan diri, salah satu cara menarik limpahan rahmat dan jalan menuju kedekatan pada ilahi.

Jadi, setiap  orang yang ingin menuju kesempurnaan dan kedekatan dengan Tuhan, yang petama sekali harus dilakukannya adalah  mengekang diri dari memuaskan keinginan-keinginan syahwat dan nafsu badaniahnya, meskipun hal itu keinginan terhadap hal-hal yang dihalalkan. Selain itu, hatinya juga disucikan dari kecintaan terhadap duniawi. Jika kita  mampu menjaga diri dari kesenangan kepada yang halal, maka tentu kita akan lebih mampu memelihara diri dari segala yang diharamkan. Melaparkan diri dan mengendalikan keinginan, akan memancarkan kebijaksanaan, keyakinan, serta ma’rifah dan ketakwaan. Sahal bin Abdullah berkata, “Ketika Allah menciptakan dunia, Dia menjadikan kenyang untuk kemaksiatan dan kebodohan, dan menjadikan lapar untuk ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Oleh karena itu, Yahya bin Muadz berpendapat, lapar bagi orang yang hendak menuju Allah adalah latihan, bagi orang yang tobat adalah ujian, bagi orang yang zuhud  adalah pengaturan, dan bagi orang yang ma’rifat adalah kemuliaan.”

Diceritakan bahwa Abul Khair al-Asqalani tidak pernah makan ikan selama dua tahun, sehingga suatu hari sangat ingin makan ikan. Kemudian ia pun memperoleh ikan. Ketika mengulurkan tangannya hendak makan, jarinya tertusuk duri ikan hingga luka. Dia berkata, “Ya Rabb, Engkau memberi hukuman ini bagi orang yang mengulurkan tangannya karena sangat menginginkan makanan yang halal. Lantas bagaimana jadinya jika makanan yang diinginkannya adalah makanan yang haram.”

Karena itu, perhatikanlah makanan dan keinginan-keinginan kita. Jadikan puasa sebagai sarana untuk mengendalikan keinginan-keinginan tersebut. Tentu saja, pengendalian itu bukan hanya saat berpuasa, tetapi yang terpenting juga ketika berbuka puasa. Kita sudah berusaha mengendalikan nafsu selama hari siang, jangan biarkan ia lepas  kendali ketika malam menjelang. Abu Ahmad ash-Shaghir berkata, “Aku diperintah oleh Abdullah bin Kaff agar menghidangkan sepuluh biji anggur untuk buka puasanya setiap malam. Di suatu malam aku merasa khawatir, maka aku menambahkan untuknya lima biji. Abdullah bin Kaff pun menegurku, ‘siapa yang memerintahkanmu berbuat seperti ini?’ dan dia tetap hanya makan sepuluh biji dan meninggalkan sisanya.” Beginilah semestinya kita mengendalikan diri ketika berbuka, berbukalah dengan sewajarnya, jauh dari kesan berlebihan.

Begitu pula, ketika Sahal bin Abdullah ditanya tentang penilaiannya terhadap berapa kali seseorang makan dalam satu hari. Sahal menjawab, “Jika makan satu kali sehari, maka itu cara makannya orang-orang baik (abrar). Jika makannya dua kali sehari, maka itu makannya orang-orang mukmin. Dan jika makannya tiga kali sehari, maka itu orang yang menjadi kandang binatang.” Sekarang jawablah masing-masing, berapa kali kita makan dalam sehari? (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL