puasa bicaraaSeorang wanita hamil diusir dari kampung halamannya, karena dituduh mengandung anak dari hasil perzinahan. Dengan susah payah ia menuju suatu kebun kurma. Sambil bersandar pada sebatang pohon kurma, ia merenungi nasibnya. Ia mengeluh sedih, “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.”

Tiba-tiba si wanita terperanjat, karena di hadapanya muncul sosok memikat. “Siapa engkau”? tanya wanita itu. “Aku adalah malaikat yang diutus Tuhan untuk menghiburmu. Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan kalau engkau lapar, maka goyanglah pohon kurma itu, maka pohon kurma itu akan menggugurkan buahnya yang masak kepadamu”, jawab sosok tersebut.

Malaikat itu melanjutkan kata-katanya, “Dengan adanya sungai dan pohon kurma ini, maka makan dan minumlah serta bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah kepada mereka: “Sesungguhnya Aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, maka Aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”.

Mendengar itu, senanglah hati wanita tersebut.Dia pun mengandung anaknya dengan sukacita hingga melahirkan seorang bayi laki-laki yang menawan hati. Setelah melahirkan ia kembali ke kampung halamanya.Kaumnya berkumpul mengejeknya. Karena ia puasa bicara, maka ia pun menunjuk pada anaknya.

Mengejutkan semua orang, anak bayi yg masih dalam buaian itupun berbicara : “Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku al-Kitab dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati dimana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku salat dan zakat selama aku hidup. Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yg sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimphakan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Lihat Q.S. Maryam :  23-33)

Kisah diatas menginformasikan kepada kita salah satu jenis puasa yang pernah dilakukan oleh manusia suci  yaitu PUASA BICARA.

Hari ini, kita mengerjakan puasa utk menahan diri dari yang membatalkan puasa seperti makan, minum, dan bersenang-senang.  Tetapi ternyata ada puasa yang berbeda. Dalam puasa tersebut, diperbolehkan makan dan minum, tetapi tidak melakukan pembicaraan. Inilah yang dikenal dengan PUASA BICARA alias DIAM SAJA.  Siapa pelakunya?

Alquran menyebutkan, pelakunya adalah Maryam binti Imran, Ibunda Nabi Isa as. Maryam dipersilahkan untuk makan dan minum, tetapi dilarang dari berkata-kata. Al-Quran mengisahkan, “Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: “Sesungguhnya Aku Telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, maka Aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini” (Q.S. Maryam : 26).

Namun, bukan hanya Maryam, paman yang mengasuhnya yakni Nabi Zakariya as, juga melakukan puasa bicara. Alquran menceritakan keheranan Nabi Zakaria ketika akan memiliki keturunan, padahal isterinya mandul, maka Alllah meyakinkannya hal itu akan terjadi. Maka, “Zakariya berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda’. Allah berfirman, ‘Tandanya bagimu adalah kamu tidak berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat…” (Q.S. Ali Imran : 41)

Menariknya, kisah puasa bicara Siti Maryam dan Nabi  Zakariya memiliki titik lokus yang sama, yakni tentang kehamilan dan diperolehnya anak. Maryam yang suci tanpa pernah disentuh oleh pria manapun dan isteri Nabi Zakaria yang mandul, ternyata bisa hamil dan akhirnya melahirkan anak soleh, yakni Nabi Isa as dan Nabi Yahya as. Seolah-olah ayat ini menginformasikan kepada kita, jika ingin mendapatkan anak yang soleh, dianjurkan bukan hanya menjaga makanannya, tetapi juga hendaklah menjaga lisannya.

Sekarang bayangkan, hari ini kita berpuasa untuk tidak makan dan minumtetapi apakah kita sanggup untuk tidak berbicara? Silahkan mencoba untuk tidak berbicara selama satu hari saja. Tentu sulit rasanya. Bahkan kalau lagi “ngegosip”, kita rela menunda makan dan minum, walapun sudah waktunya (Maaf ya kalu ada yg merasa tersinggung).

Apa hasil puasa tersebut? Diriwayatkan, bahwa pada malam mi’raj, Allah swt berfirman kepada Rasulullah saaw tentang hasil puasa bicara, “Hasil dari berpuasa adalah sedikit berbicara dan sedikit makan. Hasil diam adalah kebijaksanaan, hasil kebijaksaan adalah pencerahan, hasil pencerahan adalah keyakinan yang mulia; dan keyakinan yang mulia menjadikan seseorang tidak pernah merasa cemas untuk memulai harinya apakah dengan kemudahan atau kesulitan, tragedi atau kesenangan. Inilah kedudukan manusia yg telah mencapai tingkatan ridha yang ditandai dengan tiga ciri utama: (1). Berterima kasih (syukur) yang tidak dikotori dengan kebodohan; (2). Zikir yang tidak bercampur dengan kelalaian; (3). Cinta sejati ilahi yang tidak bercampur dengan cinta pada lainnya.”

Sudahkah puasa kita menghasilkan ketiga hal itu? Jika belum, sebaiknya kita belajar utk puasa bicara, dimana selain menahan makan dan minum, juga menahan lisan dari berkata yang sia-sia. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL