“Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat salat.”  

(QS. Al-Baqarah :125)

maqamibrahimKetika selesai thawaf, Rasul saw. menuju ke belakang Maqam Ibrahim dan membaca ayat Alquran. “Wattakhidzu mim maqami ibrahima mushalla.”(QS. Al-Baqarah :125). Maqam Ibrahim adalah batu tempat Nabi Ibrahim as berdiri ketika membangun Ka’bah. Rasulullah saw mengerjakan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim, sehingga Maqam Ibrahim berada antara beliau dan Ka’bah. Setelah membaca Surah Al-Fatihah dalam rakaat pertama, beliau membaca surat al-Ikhlas (Qul huwaallahu Ahad). Dan setelah membaca Surah Al-Fatihah di rakaat kedua, beliau membaca Q.S. al-Kafirun (Qul ya ayyuhal kafirun). Demikian urutan surah yang dibaca Rasul saw seperti disampaikan Imam Muslim, Imam Ahmad, Al-Baihaqi, dan Ibn Katsir. Beliau lalu menuju Sumur Zamzam, meminum airnya dan sebagian beliau siramkan ke atas kepala.

Sumur zam-zam sangat erat terkait dengan kisah perjuangan Siti Hajar, seorang budak yang diperistri Nabi Ibrahim as. Hajar mencari air untuk menyelamatkan putranya, Ismail as, sambil berlari-lari antara Shafa dan Marwah, sekitar 4.000 tahun yang lalu, menemukan Sumur Zamzam ini. zamzam sendiri berarti melimpah, dan memang sumur ini sungguh ajaib. Selama empat milenium, sumur di gurun tak berpohon ini selalu siap memberi minum para jamaah haji yang sekarang berjumalh sekitar empat juta orang setiap tahun. Kemudian beliau menuju Hajarul Aswad untuk mengusapnya lagi. Rasulllah saw sampai akhir haji ini, tidak memasuki bangunan Ka’bah.

Kedudukan nabi Ibrahim as sangatlah sempurna disebabkan fakta bahwa beliau telah menghabiskan seluruh kehidupannya, seluruh kehidupan keluarganya, dan seluruh kekayaannya dalam rangka tauhid dan memelihara syiar-syiar Allah dengan membangun ka’bah. Karena kedekatan dan pengorbananya kepada Allah swt yang luar biasa itu, ia di panggil sebagai khalilullah.

Diceritakan, suatu hari sekelompok kaum nasrani mendatangi Rasulullah saw dan berkata, “Wahai Muhammad, bukankah engkau mengatakan bahwa Ibrahim itu khalil (sahabat) Allah? Rasul saaw menjawab, “benar, kami mengatakan demikian.” Lalu orang Nasrani itu berkata lagi, “Jika demikian, lantas mengapa engkau melarang kami mengatakan Isa itu anak Allah?

Maka Rasul saaw pun menjawab, “Keduanya tidak sama. Kami mengatakan Ibrahim itu khalilullah dalam pengertian kata itu merupakan turunan dari kata khullah atau khallah. Adapun kata khallah berarti miskin dan membutuhkan. Ibrahim menjadi khalil Allah karena ia hanya butuh kepada-Nya dan tidak butuh kepada selain-Nya. Saat Ibrahim dilemparkan ke dalam api dengan alat pelontar, Allah mengutus Jibril dan memerintahkan, ‘Raih hamba-Ku’. Jibril datang menemui Ibrahim saat terlempar ke udara dan berkata, ‘Beri perintah kepadaku. Allah telah mengutusku untuk menolongmu.’ Ibrahim berkata, ‘Cukup Allah saja bagiku. Sungguh Dia sebaik-baik wakil. Aku tidak akan meminta kepada selain-Nya dan tidak butuh kecuali kepada-Nya.’ Maka Allah menamakannya sebagai khalil Allah, yaitu orang yang amat memerlukan-Nya dan tidak perlu kepada selain-Nya.

Adapun jika kata itu berasal dari kata khullah yang berarti tembus maka itu berarti ia telah menembus rahasia-rahasia Allah yang tidak ada orang lain yang dapat menembusnya. Dengan demikian, kata khalil berarti orang yang mengenal Allah dan mengetahui urusan-urusan-Nya, dan itu tidak menyebabkan penyerupaan Allah dengan makhluknya (tasybih). Jika Ibrahim tidak memutuskan harapan kepada selain Allah maka ia tidak menjadi khalil Allah. Begitu juga, jika ia tidak mengetahui rahasia-rahasia-Nya. Sedangkan orang yang menjadi anak biologis seseorang akan tetap menjadi anaknya meski ia menghina orang tuanya. Karena status anak melekat kepadanya. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL