Hajar-Aswad-Dalam-HadisKa’bah secara harfiah berarti bangunan berbetuk kubus. Seperti namanya, Ka’bah memang berbentuk kubus dengan ukuran 30, 35, dan 40 kaki yang mempunyai empat pojok atau rukn yang masing-masing dinamakan rukn al-Iraki sebelah utara, rukn asy-syami sebelah barat, rukn al-Yamani sebelah selatan, dan rukn al-Aswad sebelah timur, yang menjadi tempat hajarul aswad.

Hajar al-aswad berarti batu hitam yang terletak di rukn al-aswad sebelah timur di mana ia titik tempat dimulai dan diakhirinya tawaf. Thawaf adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali dengan syarat-syarat tertentu. Tawaf menyerupai amalan para malaikat yang mengelilingi arasy (singgasana) Allah. Sebagaimana tawaf para malaikat mengitari arasy Allah yang mulia merupakan tanda kecintaan mereka terhadap Allah, maka tawaf yang dilakukan oleh para hamba Allah dengan mengitari Baitullah (Ka’bah) juga merupakan tanda kecintaan para hamba Allah terhadap-Nya.

Al-baihaqi meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, “Kami memasuki Mekah di waktu dhuha, pagi sebelum zuhur. Nabi saw mendatangi pintu masjid dan menghentikan unta di depan masjid. Rasul saw turun, memasuki masjid dan langsung ke hajarul aswad. Tatkala mengusap dengan tangan (istilam), air mata beliau menetes tanda beliau menangis, kemudian beliau berjalan cepat setengah berlari (ramala) sejauh tiga lingkaran mengelilingi ka’bah dan berjalan (masya’) sepanjang empat lingkaran dan selesailah sudah tawaf itu. Beliau  berhenti dekat hajarul aswad, meletakkan satu tangan beliau di atas hajarul aswad dan dengan kedua tangannya beliau mengusap wajah beliau.” (H.R. al-baihaqi)

Rasulullah saw bersabda bahwa orang yang melakukan tawaf pada siang hari dengan kepala telanjang, kaki telanjang, membuat langkah-langkah pendek, menutup matanya (memandang ke bawah, tidak memperhatikan orang-orang lain) dan menyentuh hajar aswad pada setiap putaran yang ia lakukan, tanpa menyakiti siapapun dan tanpa mengurangi puji-pujiannya kepada Allah, maka setiap langkahnya akan diganjar dengan pahala 70.000 amalan saleh, 70.000 kejahatannya akan dihapuskan, kedudukannya akan naik 70.000 derajat; ia akan diberikan ganjaran seolah-olah membebaskan 70.000 udak, yang mana nilai masing-masing budak yang ia bebaskan adalah 10.000 dirham; 70 anggota keluarganya akan disembuhkan dari penyakit apapun, dan 70.000 kebutuhannya akan dipenuhi—cepat atau lambat.

Rasulullah saw bersabda, “Sentuhlah hajar al-aswad, karena ia merupakan ‘tangan kanan’ Allah di antara makhluk-Nya, yang degannya Dia menyalami hamba-hamba-Nya, salam seorang hamba. Ia akan menjadi saksi kesetiaan.”

Kita juga dianjurkan menciumnya, namun jika tidak mungkin, maka cukuplah menyentuhnya; jika tidak mungkin juga, maka cukuplah memberi isyarat dengan jari atau tangan.

Thawaf diwajibkan dari Hajar Aswad dan disunnahkan memulainya dengan menghadap ke arah Hajar Aswad dan membaca doa:

Alhamdulillahil ladzi hadana lihadza wama kunna linahtadiya lau la an hadanallahu, subhanallah wal hamdulillah, wala ilaha illahallah wahdahu la syarika lahu.”

Bacalah juga doa ini setiap kali melewati Hajar Aswad:

“Allahu akbar, assalamu ‘ala rasulillah shallallahu ‘alaihi wa alihi.”

Lalu, jika telah sampai di depan pintu Ka’bah, disunnahkan berdoa sambil mengangkat tangan:

“Sailuka faqiruka miskinuka bibabika, fatashaddaq ‘alaihi fil jannati allahumma al-baitu baituka wal haramu haramuka wal ‘abdu ‘abduka wa hadza maqamul ‘aidzi bika minannari fa’tiqni wa walidayya wa ahli wa wuldi wa ikhwanil mu’minin wal mu’minati minannari ya jawwadu ya karim.”

Dan jika telah selesai, maka bacalah doa selesai thawaf berikut ini :

“Ilahi qad madda ilaikal khathi’ul mudznibul yadayhi lihusni zhannihi bika, ilahi qad jalasa musi-u baina yadayka muqirran laka bis su-I ‘amalih, wa rajiyan minkas shafhi ‘an zalalihi, ilahi qad rafa’az zalimu kaffaihi ilaika rajiyan fima ladayka, fala tukhayyibni birahmatika min fadhlika, ilahi qad jatstsal ‘a-idzi minal ma’ashi baina yadayka khaufan min yaumi yajtsu fil khalaiqi bayna yadaika khaufan, ilahi qad ja-akal ‘abdul khathi-u rajiyan, wa fadhat abratuhu mustaghfiran nadiman, ilaha fashalli ‘ala muhammdin wa ali muhammadin waghfirli birahmatika ya arhamar rahimin.” (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL