Qurban“Wahai manusia, ini adalah hari mengalirkan darah (menyembelih qurban) dan hari berdoa. Pada hari ini darah inatang ditumpahkan. Siapa yang niatnya benar, maka tetesan darah pertama menjadi kafarah bagi setiap dosanya. Hari ini adalah hari berdoa, maka berdoalah kepada Allah azza wa jalla.”

“Demi Zat yang Muhammad berada dalam genggaman-Nya. Tidak seorangpun meninggalkan tempat ini kecuali dalam keadaan diampuni dosa-dosanya, kecuali para pelaku dosa besar yang terus menerus melakukan dosa dan tidak ada keinginan dalam dirinya untuk meninggalkannya.”

Demikian Rasul saw meyampaikan khutbah pada saat Idul Adha 1400 tahun yang lalu. Rasul saw menyampaikan salah satu keutamaan ritual di Hari Raya Idul Adha yaitu ibadah qurban.  Jika di Baitullah, Mekkah, ritual ibadah haji diikuti oleh kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia, maka di kampung halaman sendiri, umat Islam yang tidak berangkat haji melakukan salah satu ritual penting yaitu Ibadah qurban, sebagai simbol tauhid sosial Islam yang berlaku sepanjang sejarah umat manusia.

Setidaknya ada tiga keistimewaan ibadah qurban :

1. Qurban : Syariat seluruh Umat

Salah satu fenomena historis yang berlangsung selama keberadaan manusia, dan menjadi bagian dari prosesi ritual umat sedunia adalah berqurban. Alquran menegaskan, bahwa ibadah qurban disyariatkan kepada seluruh agama, sejak Nabi Adam as, hingga umat Nabi Muhammad saw, “Dan untuk tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka...” (Q.S. al-Hajj: 34)

Dan ceritakanlah kepada mereka riwayat dua orang anak Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya melakukan qurban. Diterima qurban seorang dan tidak diterima qurban yang seorang lagi, dia mengatakan: ’tentu aku akan membunuh engkau’. Kata yang lain: Allah hanyalah menerima (qurban) dari orang-orang yang bertakwa. (Q.S. al-Maidah: 27)

2. Qurban : Syiar Allah Untuk Seluruh Umat

“Dan telah kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (disembelih), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela degan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu untuk kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. (Q.S. al-Hajj: 36).

Sebagai syiar Allah, qurban memiliki dimensi kepedulian social yang sangat tinggi. Kepedulian ini akan menciptakan keharmonisan antara orang yang kaya dan yang miskin. Bukankah kokohnya masyarakat di dukung oleh empat pilar yaitu : penguasa yang adil, Ulama yang wara’, orang kaya yang dermawan, serta doa orang miskin.

3. Qurban : Komitmen Takwa

“Tidak akan sampai daging dan darahnya itu kepada Allah, hanya yang sampai kepada Allah adalah ketakwaan kamu. (Q.S. al-Hajj: 37)

Ayat ini menceritakan, bahwa ritual penyembahan melalui qurban bukanlah seperti yang ada dalam tradisi-tradisi bangsa jahiliyah, yang mana mereka menganggap bahwa Allah swt mengharapkan qurban mereka. Di Indonesia sendiri, fenomena sesajen dan prosesi ritual masyarakat animisme menunjukkan gejala ini.

Firman Allah di atas menegaskan bahwa daging dan darah hewan sembelihan bukanlah perhatian Allah, karenanya daging tersebut mestilah dibagikan kepada manusia untuk dimakan sebagai bagian dari rezeki Allah swt. Perhatian utama Allah adalah keikhlasan dan ketakwaan.Tanpa keikhlasan dan ketakwaan, maka qurban kehilangan makna dan tertolak di sisi Allah. Dalam kisah Habil dan Qabil Alquran menyebutkan, “…Allah hanyalah menerima (qurban) dari orang-orang yang bertakwa. (Q.S. al-Maidah: 27)

Ikhlas merupakan kualitas perbuatan yang tidak tercampuri dengan ketidakmurnian, yang dapat timbul dikarenakan ingin menyenangkan diri sendiri dan makhluk lain, dan bukan berkeinginan menyenangkan Allah swt. Adapun takwa adalah kondisi ruhani yang membuat seseorang senantiasa memelihara dirinya untuk tetap berada pada jalan yang diridhai Allah swt.

Fakta ini juga terlihat pada kisah Nabi Ibrahim as, saat menyembelih putranya Nabi Ismail as. Yang mana puncak kesabaran mereka mengantarkan pada keikhlasan yang sangat tinggi sehingga sanggup mengurbankan sesuatu yang paling dicintainya, “…Ibrahim berkata: ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu’. Ia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya. Dia Kami panggil, ‘Hai Ibrahim,.sesungguhnya telah engkau laksanakan mimpi itu. Sesungguhnya begitulah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. Sesungguhnya hal ini adalah ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu  dengan seekor sembelihan yang besar.” (Q.S. Ash-Shaffat:  102-107). 

Jika kita mampu mengimplementasikan ibadah haji dan qurbandenganketakwaan dan keikhlasan, niscaya idul adha (idul qurban) menjadi momen penting untuk membina kekukuhan individu dan keutuhan masyarakat di bawah naungan berkah dan karunia ilahi. Inilah awal bagi manusia bergerak teratur dan searah menuju kesempurnaan dirinya.Dengan demikian maka jelaslah bahwa ibadah qurban menjadi benang merah yang menyambungkan antara para jemaah haji yang berangkat ke Baitullah dengan kita yang tinggal di kampung halaman ini. Taqabballallahu minna waminkum, wa taqabbal ya karim. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL