baitullahBanyak orang yang pergi berhaji, tetapi sedikit  sekali yang ‘memahami’ ibadah hajinya, yang mampu menyingkap rahasia ibadah haji. Sebab, ibadah haji menyimpan rahasia, makna, dan hikmah serta aspek-aspek filosofis dan spiritual yang amat dalam dibalik beragam amalan yang dilaksanakan, yang harus disingkap oleh siapa saja yang ingin agar ibadah hajinya sempurna. Karena itu, cucu Rasulullah saw, yaitu Imam Ja’far Shadiq,  menjelaskan makna-makna ibadah haji dan menyampaikan pesan suci untuk para kafilah ruhani yang akan melaksanakannya. Berikut pesan suci beliau :

“Jika engkau berniat melaksanakan ibadah haji, sebelum memutuskannya, arahkanlah hatimu kepada Allah, singkirkanlah setiap hambatan dan halangan antara dirimu dan Allah. Percayakanlah seluruh persoalanmu kepada Maha Penciptamu dan bergantunglah pada-Nya dalam seluruh gerak dan diammu. Menyerahlah pada kebijakan dan putusan-Nya. Tinggalkanlah dunia ini, tempat peristirahatanmu, dan seluruh makhluk. Laksanakanlah kewajiban-kewajiban yang harus engkau penuhi terhadap orang-orang lain. Janganlah mengandalkan perbekalanmu, hewan yang engkau kendarai, sahabat-sahabatmu, makananmu, masa mudamu dan kekayaanmu, waspadalah, mereka dapat menjadi musuh-musuhmu dan menyakitimu, dalam hal ini engkau akan menyadari bahwa tak ada kekuasaan, tak ada kekuatan, dan tak ada daya upaya selain melalui lindungan Allah dan anugerah kesuksesa-Nya.

Bersiap-siaplah menghadapi ibadah haji sebagai orang yang tidak berharap untuk kembali. Carilah sahabat-sahabat yang baik dan giatlah dalam mengerjakan seluruh kewajibanmu terhadap Allah dan Nabi Suci. Waspadalah untuk selalu menunjukkan sopan santun, ketabahan, kesabaran, rasa terima kasih, kasih sayang dan kedermawanan (senantiasa mendahulukan orang lain daripada dirimu) bahkan terhadap orang-orang yang menolakmu. Berwudhu’lah dengan air pertobatan tulus bagi dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan. Kenakanlah busana kejujuran, kesucian, kerendahan hati, dan ketakwaan. Dengan mengenakan busana-busana haji, kendalikanlah dirimu dari segala sesuatu yang mencegahmu dari mengingat Allah, atau yang dapat menghalangimu dari menunjukkan ketaatan kepada-Nya.

Penuhilah seruan-Nya dengan jawaban yang bermakna jelas, suci, dan tulus ketika engkau menziarahi-Nya. Kukuhkanlah keimananmu kepada-Nya. Tawafkanlah hatimu bersama para malaikat yang mengitari arasy, sebagaimana engkau bertawaf dengan kaum muslim mengitari Ka’bah. Berlarilah seperti engkau berlari cepat dari hawa nafsumu, bebaskanlah dirimu dari asumsi-asumsi kekuatan dan kekuasaan pribadimu. Tinggalkanlah kecerobohan dan kesalahan-kesalahanmu ketika engkau menuju Mina, janganlah mendambakan apa yang haram bagimu dan apa yang tidak pantas engkau dapatkan. Akuilah dosa-dosamu di Arafah (buatlah perjanjianmu dengan Allah Yang Maha Esa), dekatkanlah dirimu kepada-Nya dan takutlah kepada-Nya di Muzdalifah. Mendakilah dengan jiwamu menuju maqam (kedudukan) tertinggi ketika engkau  mendaki bukit Arafah. Sobeklah tenggorok nafsu dan keserakahanmu dalam berkurban. Lemparilah batu pada syahwat, kerendahan perilaku, kekjian, dan perbuata-perbuatan terkutukmu ketika engkau melempari pilar Aqabah dengan batu. Cukurlah kesalahan-kesalahan luar dan dalammu ketika engkau mencukur rambutmu. Masukilah keamanan Allah, perlindungan-Nya, selubung-Nya, naungan-Nya, dan penjagaan-Nya. Serta tinggalkanlah pengejaran syahwat-syahwatmu dengan memasuki Tanah Suci. Kunjungilah rumah-Nya, berjalanlah mengitarinya untuk mengagungkan Allah, kebijakan-Nya, kebesaran-Nya, dan kekuasaan-Nya.

Peluklah hajar Aswad, merasa puaslah dengan putusan-Nya, dan merendahlah di hadapan kekuatan-Nya. Tinggalkanlah segala sesuatu yang selain Dia dalam tawaf perpisahan. Sucikanlah jiwamu dan hatimu yang paling dalam untuk bertemu dengan Allah pada hari ketika engkau dapat menemui-Nya ketika engkau berdiri di Shafa. Raihlah penghormatan dari Allah dengan menghancurkan sifat-sifat burukmu di Marwah. Konsistenlah dalam kondisi-kondisi hajimu dan penuhilah perjanjian yang telah engkau buat dengan Tuhanmu, yang mana (jika begitu) engkau telah membantu dirimu berhubungan dengan-Nya pada hari kiamat.

Ketahuilah bahwa Allah mewajibkan ibadah haji, dan memilihnya dari seluruh ibadah yang berkaitan dengan diri-Nya ketika Dia berfirman, ‘mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.’ Nabi Suci saw. Mengokohkan koordinasi elemen-elemen ritual-ritual haji, sebagai persiapan untuk dan indikasi kematian, kuburan, kebangkitan kembali, dan hari kiamat. Dalam pelajaran bagi umat manusia ini, Rasulullah saw. Membedakan antara orang-orang yang akanmemasuki surga dengan orang-orang yang akan memasuki neraka, dengan jalan mendemonstrasikan ritual-ritual haji dari awal hingga akhir bagi mereka yang memiliki kecerdasan dan kebijaksanaan.” (hd/liputanislam.com)

*Sumber : Hajinya Para Nabi dan Malaikat karya Husain Mazhahiri.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL