baitullahSecara fisik, Ibadah Haji merupakan perjalanan lahiriah menuju Baitullah di Mekkah dari kampung halaman kita. Untuk melakukan perjalanan itu diperlukan persiapan matang sehingga dapat mengerjakannya hingga seluruh ritualnya selesai.

Namun, secara batiniah, ibadah haji merupakan pendakian ruhaniah menuju Tuhan dengan hijrah dari sekapan diri sendiri yang penuh nafsu, cinta dunia, ketamakan, dan kemalasan.Perjalanan menuju kesempurnaan dalam ibadah haji mesti melalui empat tahap :

  1. Berangkat haji, yaitu perjalanan dari kampung halaman menuju Baitullah di Mekah al-Mukaramah.
  2. Melaksanakan ritual haji, yaitu perjalanan di Baitullah Mekah al-Mukaramah dalam naungan ridha Allah.
  3. Pulang Haji, yaitu perjalanan kembali dari Baitullah ke kampung halaman dengan membawa makna ibadah haji.
  4. Penerapan nilai-nilai ibadah haji, yaitu perjalanan di kampung halamannya sendiri dengan bersikap sesuai ridha ilahi.

Keempat tahap di atas menunjukkan seorang hamba yang berangkat menunaikan ibadah haji tidaklah boleh terlena di dalam perjalanannya, bahkan setelah sampai di tujuan pun ia jangan terpesona, karena ia mesti kembali ke kampung halamannya dengan membawa semua pengalaman spiritualnya yang dekat dengan Allah di sisi rumah-Nya. Sehingga apabila telah kembali ke komunitasnya, ia akan tetap merasa dalam pengawasan Allah, tidak angkuh dan tidak tamak, serta menerapkan nilai-nilai ritual ibadah haji yang telah dilaksanakannya.

Diantara nilai-nilai tersebut adalah :

  1. Menanggalkan semua kecintaan pada duniawi dengan mengenakan ihram kesucian. Ihram menjadi penghalang bagi kita untuk mulai terlarang melakukan hal-hal yang sebelumnya diperbolehkan. Pakaian putih seperti kain kafan yang mengingatkan kita akan kematian.
  2. Menguatkan akidah dengan ikrar suci melalui “tangan Tuhan”  yaitu hajar al-aswad.
  3. Kecintaan pada Tuhan, disiplin, dan pengabdian yang murni sebagai nilai dari symbol bergerak teratur dan searah melalui tawaf.
  4. Bersikap jujur, kasih sayang, berani, tulus, dan sabar yang merupakan akhlak-akhlak terpuji yang disimbolkan melalui perjuangan ibunda Ismail saat melakukan sai di antara Shafa dan Marwa.
  5. Mengenal dirinya sebagai hamba—bukan sebagai tuan— sehingga keangkuhan dirinya sirna sebagai nilai penting saat bergerak menuju dan berkumpul di padang Arafah, kemudian ke Masy’ar dan akhirnya bermalam di Mina dalam kumpulan kafilah manusia. Perjalanan ini, menjadi simbol untuk menggapai puncak keyakinan tertinggi dari  ilmu al-yaqin, ainal yaqin hingga haqqul yaqin.
  6. Melawan segala bentuk kezaliman baik yang datang dari diri sendiri  maupun dari orang lain. Nilai ini terlihat dalam ritual melempar jumroh yang merupakan lambang kebohongan dan kezaliman.
  7. Ikhlas dan takwa dalam melayani manusia melalui penyembelihan qurban. Dengan ini kita membuang semua sifat kebinatangan dalam diri kita dan menyerap sifat-sifat Allah yang mulia.
  8. Menyingkirkan kotoran-kotoran diri yang tersisa melalui symbol pelaksanaan tahallul (mencukur rambut semua atau sebagiannya).

Setelah selesai melaksanakan semua ritual itu, maka kini kita di kembalikan kepada diri dan komunitasnya. Jika dalam ritual-ritual itu kita penuhkan diri dengan konsentrasi kepada Allah, maka setelah selesai kita mulai berkonsentrasi kepada kehidupan kita kembali dengan penuh makna karena membawa Allah dalam setiap kata, sikap dan tindakan kita. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL