Oleh : Buya Syafi’i Ma’arif*

Syafii-MaarifTulisan ini tidak akan membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan ONH (Ongkos Naik Haji), perjalanan haji, dan lain-lain. Yang hendak kita sorot adalah masalah yang lebih mendasar, yaitu kaitan haji dengan perilaku moral seseorang yang sudah bertitel haji.

Posisi sebagai haji mabrur adalah dambaan setiap calon jamaah haji yang hendak berangkat ke tanah suci. Tapi hendaklah diingat bahwa haji mabrur itu tidak semata-mata mengejar surga seperti yang berulang-ulang disampaikan, sesuatu yang bersifat eskatologis. Haji mabrur juga harus punya dampak kekinian dan kedisinian.

Seorang yang sudah bertitel haji seharusnya selalu menjadi teladan moral bagi lingkungannya. Posisi ideal inilah yang tidak mudah kita temukan dalam kehidupan kolektif bangsa kita. Sebagian orang yang sudah menunaikan haji tidak mengalami transformasi moral apa-apa. Bahkan setelah haji sikap rakusnya terhadap harta haram semakin bertambah. Seakan-akan dia berfilsafat, “Naik haji tugas agama, sementara korupsi aalah profesi.” Ungkapan ini pernah dilontarkan oleh Prof. Munawir Sjadzali (mantan Menteri Agama Indonesia).

Tentunya jumlah para haji yang terlibat dalam korupsi tidaklah banyak. Tapi data sosiologis kita menunjukkan bahwa di antara koruptor Indonesia ada yang menyandang  titel haji. Bahkan setelah meninggal, masyarakat dibuatnya heboh karena harta hasil korupsinya menjadi rebutan. Fondasi moral yang rapuh merupakan sebab utama mengapa setelah lama kita merdeka, budaya korupsi, penyelewengan, dan yang sebangsa itu, tampaknya belum juga mencapai titik jenuh. Yang terjadi adalah gelombang korupsi semakin marak dan menghebat. Jumlah koruptor non-haji mungkin jauh lebih besar. Petualangan mereka dalam menggerogoti sendi-sendi perekonomian dan keuangan negara dari hari ke hari semakin tidak dapat dikontrol. Sistem hukum kita yang sangat lemah telah dijadikan lahan yang subur untuk melakukan tindak kebiadaban oleh para petualang itu.

Kolusi antara petualang dan birokrat (yang sebagian bertitel haji) telah semakin merunyamkan keadaan, padahal para birokrat itu telah ditatar P4, sebuah penataran yang gagal total memperbaiki kondisi moral bangsa.

Direktur-direktur bank yang terlibat dalam kolusi di atas telah banyak disoroti mass-media. Dan tidak jarang di antara mereka itu telah menunaikan ibadah haji. Seharusnya setelah pulang dari Mekah, seseorang akan menampilkan sosok yang memiliki integritas moral yang tangguh. Katabelece pejabat, siapa pun pejabat itu, tidak boleh meruntuhkan iman seorang direktur bank, apalagi yang sudah haji. Titel haji seharusnya menjadi tameng bagi seseorang untuk tidak berkurang dalam arus kehancuran moral. Uang negara sekian triliun menguap dengan mudah begitu saja berkat kolusi.

Bila negara tidak berani menyatakan perang total terhadap korupsi yang sudah teramat parah ini, boleh jadi seorang rakyat miskin nun jauh di pelosok akan menadahkan tangannya ke atas sambil berdoa :

“Tuhanku! Apakah masanya belum tiba untuk Engkau luluh-lantahkan para petualang ini hingga kami yang miskin ini sebelum menutup mata sempat juga hendaknya menyaksikan tegaknya keadilan-Mu. Doa ini kusampaikan oh Tuhan karena sistem pengadilan dunia tampaknya masih penuh kepura-puraan dalam menangani masalah korupsi yang sudah menjadi kanker masyarakat ini. Tuhanku! Bila palu-godam keadilan-Mu mulai Engkau ayunkan, aku masih percaya bahwa bangsa ini akan segera taubat kepada-Mu. Oh Tuhan, tiada kekuatan lain kecuali Engkau ya Tuhan yang dapat mewujudkan jeritanku ini. Aku orang miskin, tapi aku masih punya kemampuan untuk berdoa kepada-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Harapan kita selanjutnya tentu saja agar doa semacam ini akan didengar oleh mereka yang sudah terbiasa berkolusi, dan kemudian kembali ke jalan yang benar sebelum segalanya terlambat. Doa si miskin yang teraniaya akan diperhatikan Tuhan. Dan para haji yang terlanjur berkubang dosa, juga sebelum segalanya terlambat, surutlah kembali ke jalan yang benar. Keadilan Tuhan tidak pandang bulu. Sangat berbeda dengan keadilan dunia yang penuh topeng dan kongkalikong. (hd/liputanislam.com)

 

* Buya Syafi’i Maarif adalah Cendekiawan Muslim Indonesia, Mantan Ketua PP Muhammadiyah, dan Pendiri Maarif Institut. Tulisan di atas diambil dari buku karya beliau, Membumikan Islam, Jakarta : Pustaka Pelajar, 1995, hal. 156-158.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL