hatiKhalid bin Rabi’ menceritakan tentang Lukman, sang manusia bijaksana, dia berkata, “Lukman adalah budak Habsyi yang bekerja sebagai tukang kayu. Tuannya pernah memerintahkan kepadanya untuk menyembelih seekor kambing. Dia pun menyembelihnya. Tuannya berkata, ‘Bawakan kepadaku dua potong daging terbaik.’ Lukman pun membawakan dua potong daging : lidah dan hati. Tuannya bertanya, ‘Tidak adakah daging yang lebih baik daripada ini?’ Lukman menjawab, ‘Tidak ada!’ Kemudian tuannya memerintahkan Lukman menyembelih satu ekor kambing lagi. Lukman pun menyembelihnya. Tuannya kembali memerintahkan, ‘Bawakan kepadaku dua daging terburuk.’ Lukman pun membawakan dua potong daging : lidah dan hati. Maka tuannya keheranan, ‘Saat aku memintamu membawakan dua daging terbaik, engkau membawakan lidah dan hati, dan sekarang ketika aku memintamu membawakan dua daging terburuk, engkau juga membawakan lidah dan hati.’ Lukman berkata, ‘Tidak ada sesuatu yang lebih baik dari keduanya jika keduanya baik, dan tidak ada sesuatu yang lebih buruk dari keduanya, jika keduanya buruk.” (Imam Ahmad, Kitab al-Zuhud, hal. 82)

Kisah di atas diceritakan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam kitabnya al-Zuhd yang memuat riwayat-riwayat tentang hikmah-hikmah dari Nabi Muhammaad saw dan Nabi lainnya, hikmah dari para sahabat serta para thabiin. Lukman adalah seorang hamba Allah yang bertakwa di zamannya. Hikmah-hikmahnya yang memukau membuat sebagian orang menganggapnya sebagai salah seorang Nabi utusan Tuhan, atau setidaknya seorang yang kehidupan dipenuhi hikmah kebijaksanaan sehingga ia di panggil dengan sebutan Lukman al-Hakim. Kali ini, hikmah Lukman adalah tentang dua jenis daging yang sama tetapi bisa memiliki nilai berbeda. Dua daging itu di nilai sebagai daging terbaik, dan sekaligus sebagai daging terburuk. Itulah lidah dan hati.

Tentang lidah ini, at-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jika tiba waktu pagi, maka seluruh bagian tubuh manusia akan menyerang lidah dan berkata kepadanya, ‘Bertakwalah kamu kepada Allah karena kebahagiaan kami semua bergantung padamu, begitu pula kecelakaan kami semua bergantung padamu juga.” Adapun tentang hati, terkenal sabda Rasulullah saw, “Di dalam tubuh kita ada segumpal daging, yang apabila dia baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan apabila dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh itu. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati.” (H.R. Bukhari) Atau dalam ungkapan lain Rasulullah saw bersabda, “Hati itu bagaikan raja, dan hati itu memiliki bala tentara. Apabila raja itu baik, maka baiklah seluruh bala tentaranya, dan apabila hati itu buruk, maka buruklah seluruh bala tentaranya.” Dan saat menggambarkan hubungan lidah dan hati ini, Rasulullah saaw bersabda, “Tidak akan sempurna iman seorang hamba kecuali bersih hatinya, dan tidak akan bersih hatinya kecuali lidahnya benar.” (Ensiklopedi Mizan al-Hikmah jilid 4, hal. 114-115)

Lisan atau lidah adalah sarana manusia untuk berbicara. Dari pembicaraan itulah diketahui kualitas manusia, termasuk kualitas akhlak dan akalnya. Kalau pembicaraannya baik dan tersusun rapi, maka itu menunjukkan kaualitas akal dan akhlaknya yang mulia, tetapi jika pembicaraanya buruk, maka itu cermin dari buruknya akhlak dan pikirannya. Maka benarlah apa yang dikatakan Sayidina Ali, al-lisanu mizan al-insan, lisan adalah ukuran kemanusiaan. Dalam ungkapan lain, beliau berkata, “lidah adalah penerjemah akal.” Karena itu kebaikan manusia diukur dari lisannya dan keburukan manusia juga terlihat dari lisannya, seperti kisah Lukman al-Hakim di atas. Di Indonesi terkenal pepatah, “Lidahmu, Harimaumu”.

Hal ini juga yang disadari oleh Khalifah Abu Bakar, sehingga pada suatu hari Sayidina Umar bin Khattab, melihat Abu Bakar, sedang menarik-narik lidahnya dengan tangannya, lalu Umar bertanya, ‘Apa yang Anda lakukan wahai Khalifah Rasulullah?’ Abu Bakar menjawab, ‘Ketahuilah, tidak ada yang menjerumuskan saya ke neraka kecuali lidah ini’ (Kitab al-Zuhud, hal. 154)

Adapun hati yang merupakan dimensi batin, Allah swt menyebutkan bahwa hati itu bisa disusupi penyakit yang sangat berbahaya dan mendatangkan azab yang pedih, “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapatkan azab yang pedih karena mereka mendustakan (ayat-ayat kami).” (Q.S. al-Baqarah : 10). Dalam ayat lain dikatakan hati bisa menjadi keras, bahkan lebih keras dari batu, “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (Q.S. al-Baqarah : 74) Rasulullah saw bersabda, “Ada tiga hal yang menjadikan hati keras: bersenda gurau, berburu (binatang), dan mendatangi pintu penguasa.” Sayidina Ali mengatakan, “Air mata ini tidaklah mengering kecuali karena hati yang keras, dan hati tidaklah mengeras kecuali karena banyak berbuat dosa.” Kalau hati sudah sekeras batu, maka hati itu telah menjadi mati. Rasulullah saaw menyebutkan empat hal yang dapat mematikan hati : “dosa yang bertumpuk, banyak bercengkrama dengan wanita, berdebat dengan orang dungu…, dan duduk bersama orang mati.’ Seseorang bertanya kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang mati itu?’ ‘setiap orang kaya yang bermewah-mewahan’, jawab Nabi saw.(Ensiklopedi Mizan al-Hikmah jilid 4, hal. 10-12)

Begitulah, hati yang dalam bahasa arab disebut qalb, yang berarti berbolak-balik. Hal ini mengindikasikan bahwa sifat hati selalu mengalami perubahan sesuai kondisi dan situasinya. Adakalanya dia baik dan ada kalanya dia buruk. Adakalanya dia sehat, dan akadalanya dia sakit. Kalau hati sehat, manusia diliputi kebahagiaan. Sering dikatakan bahwa kekayaan terbesar adalah kekayaan hati. Namun, tidak ada sakit yang lebih parah dari sakit hati, sampai-sampai ada lirik lagu, “Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini”. Bagi yang pernah mengalaminya akan tahu bagaimana rasanya sakit gigi itu?

Apa saja kondisi yang dialami oleh hati tersebut? Sayidina Ali menggambarkan bahwa hati itu, seperti halnya tubuh, melalui enam kondisi : hidup, mati, sehat, sakit, tidur, bangun. Hidupnya hati adalah berkat bertambahnya ilmu, dan matinya adalah akibat tidak adanya ilmu. Sehatnya hati adalah berkat keyakinan, dan sakitnya hati adalah keraguan. Tidurnya hati adalah akibat kelalaian, dan bangunnya hati berasal dari zikir yang dilakukan.” Rasulullah saw mengajarkan doa kepada kita untuk dibaca setiap hari agar hati kita terjaga baik, “Ya Muqallib al-qulub tsabbit qalbi ‘ala dinika”, Wahai Zat Yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku dalam agam-Mu.” (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL