makna hidupAbu Ali ad-Daqaq menceritakan, “Ketika seorang pelayan Khalil menuduh kaum sufi menjalankan ajaran sesat, khalifah memerintahkan algojonya untuk menangkap dan menghukum mereka dengan hukuman pancung. Sementara Imam al-Junaid selamat dari tuduhan karena tertutupi dengan ajaran fikih. Beliau mengajarkan paham Abu Tsaur. Sedangkan teman-temannya, seperti Asy-Syahham, an-Nuri dan beberapa sufi lainnya telah ditangkap dan dibawa ke hadapan barisan algojo. Ketika eksekusi hendak dijalankan, an-Nuri meminta kepada algojo untuk didahulukan di pancung. Algojo tersebut keheranan, dan bertanya, “’Sadarkah engkau, ke tempat mana engkau minta disegerakan?” “Ya!”, jawab an-Nuri.

“Apa yang membuatmu ingin didahulukan?” tanya algojo itu kembali. “Aku ingin mengutamakan kehidupan sesaat kepada kawan-kawanku.” Jawab An-Nuri sambil meletakkan lehernya untuk segera di pancung.

Dalam psikologi ada mazhab logoterapi (terapi makna, logos = makna) yang dicetuskan oleh Viktor Frankl. Pada perang dunia II, dia dijebloskan ke dalam kamp konsentrasi Nazi yang mengerikan. Setiap hari, dia menyaksikan tindakan-tindakan kejam—penyiksaan, penembakan, pembunuhan massal di kamar gas atau eksekusi dengan aliran listrik. Pada saat yang sama, dia juga melihat peristiwa-peristiwa yang sangat mengharukan: berkorban untuk rekan, kesabaran yang luar biasa, dan daya hidup yang perkasa.

Di samping para tahanan yang berputus asa, yang mengeluh, “Mengapa semuanya ini terjadi kepadaku? Mengapa aku harus menanggung derita ini?” ada juga tahanan yang berpikir, “Apa yang harus kulakukan bahkan dalam situasi yang mencekam seperti ini?” Yang pertama umumnya berakhir dengan kematian. Yang kedua banyak yang lolos dari lubang jarum kematian.

Hal yang membedakan keduanya adalah pemberian makna. Pada manusia ada kebebasan yang tidak bisa dihancurkan bahkan oleh pagar kawat berduri sekalipun. Ini adalah kebebasan untuk memilih makna. Jalaluddin Rakhmat (2001) mengungkapkan ada berbagai teknik untuk mengungkap makna, tetapi ada lima situasi ketika makna membersit ke luar dan mengubah jalan hidup kita—menyusun kembali hidup kita yang porak-poranda.

Pertama, makna kita temukan ketika kita menemukan diri kita (self discovery). Sa’di penyair besar Iran, pernah kehilangan sepatunya di Masjid Damaskus. Ketika dia sedang bersungut-sungut meledakkan kejengelannya, dia melihat seorang penceramah yang berbicara dengan senyum ceria. Tampak dalam perhatiannya bahwa penceramah itu patah kedua kakinya. Tiba-tiba, dia disadarkan. Segala kejengkelannya mencair. Dia sedih kehilangan sepatu, padahal di sini ada orang yang tertawa ria walaupun kehilangan kedua kakinya.

Kedua, makna muncul ketika kita menentukan pilihan. Hidup menjadi tanpa makna ketika kita terjebak dalam suatu keadaan; ketika kita tidak dapat memilih. Seorang eksekutif pindah dari Bandung ke Jakarta. Dia mendapat posisi yang sangat baik dengan gaji berlimpah. Akan tetapi, dia juga kehilangan waktu untuk berkencan dengan keluarga dan anak-anaknya. Dia ingin mempertahankan jabatannya dan ingin mempunyai waktu lebih banyak untuk keluarga. Pada suatu hari, dia berdiri di depan rapat pimpinan dan menyatakan mengundurkan diri. Saat itu, dia merasakan kebahagiaan menemukan kembali makna hidupnya.

Ketiga, makna ditemukan ketika kita merasa istimewa, unik, dan tak tergantikan oleh orang lain. “Aku senang bersama cucuku,” kata seorang kakek. “Cucuku suka mengatakan ‘Ikuti aku Opa’, dan aku menuruti semua kemauannya. Tidak ada seorangpun yang dapat melakukan itu baginya. Ibunya juga tidak, karena terlalu sibuk.” Seorang mahasiswa merasa sangat bahagia ketika Margaret Mead menanyakan pendapatku!” Untuk mendapatkan pengalaman seperti itu, kita tidak selalu memerlukan Magaret Mead. Carilah orang yang mendengarkan kita dengan penuh perhatian, kita akan merasa hidup kita bermakna.

Keempat, makna membersit dalam tanggung jawab, Fabry berkisah tentang seorang perempuan yang berlibur ke Acapulco tanpa suaminya. Di sana, dia berkenalan dengan seorang anak muda yang tampan. Dia jatuh pada rayuannya. Ketika sang pemuda mohon diizinkan untuk mengunjunginya di kamar hotelnya, perempuan itu menyetujuinya. Dia tidak pernah berselingkuh, tetapi dia sudah berpisah dengan suaminya selama dua minggu. Ada hasrat seksual yang bergejolak. Dia menunggu pemuda itu dengan penuh gairah. Akan tetapi, ketika pemuda itu mengetuk pintu kamarnya, perempuan itu merasa ada sengatan keras di jantungnya. Ketika ketukan pintunya itu makin keras, dia teringat suaminya. Dia memutuskan untuk tidak membuka pintu. “Lalu”, kata perempuan itu, “…aku mendengar langkah-langkah kakinya menjauh. Aku menengok dia lewat jendela. Ketika aku melihatnya pergi, aku mengalami perasaan bahagia yang paling intens dalam hidupku.”

Kelima, makna mencuat dalam situasi transendensi, gabungan dari keempat hal di atas. Ketika mentransendensikan diri kita, kita melihat seberkas diri kita yang autentik, kita membuat pilihan, kita merasa istimewa, kita menegaskan  tanggungjawab kita. Transendensi, kata Zohar, adalah pengalaman yang membawa kita keluar dunia fisik, ke luar pengalaman kita yang biasa, ke luar suka dan duka kita, ke luar diri kita yang sekarang, ke konteks yang lebih luas. Pengalaman transendensi adalah pengalaman spiritual. Kita dihadapkan pada makna akhir—ultimate meaning—yang menyadarkan kita akan aturan agung yang mengatur alam semesta. Kita menjadi bagian penting dalam aturan ini. Apa yang kita lakukan mengikuti rancangan besar, yang ditampakkan kepada kita. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL