Oleh : Nur el-Fikri

suasana ricuh sidang DPR (foto; Kompas)

suasana ricuh sidang DPR (foto; Kompas)

Rabu (01/10/14), sebanyak 560 anggota DPR RI dilantik untuk masa jabatan 2014-2019. Dengan pelantikan ini resmilah mereka bekerja sebagai wakil rakyat. Ingat! wakil rakyat, bukan wakil partai. Artinya, meskipun mereka dicalonkan oleh partai, tetapi mereka dipilih oleh rakyat, karenanya setelah resmi menjadi  aggota DPR, maka mereka resmi pula untuk menjadi juru bicara rakyat, yang mendahulukan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi, kelompok dan partainya. Sebab, selama lima tahun ke depan mereka akan digaji oleh uang rakyat, bukan uang partai.

Hal ini penting diperhatikan, karena tak bisa dinafikan bahwa krisis kepercayaan melanda kita dalam setiap pergantian anggota legislatif ini. Bayangkan, sejak jajaran anggota DPR RI, hingga DPRD Provinsi dan Kabupaten, cukup banyak para wakil rakyat mengkhianati amanat rakyat. Bahkan terdapat aggota DPR terpilih yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), bahkan ketua DPR RI yang baru terpilih di sinyalir memiliki potensi terlibat beberapa masalah hukum.

Begitu pula, sidang perdana anggota DPR yang kita saksikan mempertontonkan jati diri mereka yang lebih mementingkan syahwat kekuasaan, dari pada nalar kebijaksanaan. Amanat rakyat seolah tak lagi melekat pada jiwa dan hati mereka. Yang ada adalah kepentingan kelompoknya (koalisinya) masing-masing. Bahkan ruang sidang tak lebih hanyalah tempat bermain mereka untuk melepaskan syahwat kekuasaan terseut. Hal ini mengingatkan kita kembali  pada peryataan Almarhum Gus Dur, bahwa DPR tak lebih dari kumpulan siswa Taman Kanak-Kanak, bahkan Play Group.

Sebagai anggota DPR, mereka merupakan elit negara, yang menjadi penentu arah maju-mundurnya negara ini, semestinya menjadi tuntunan uswatun hasanah (teladan kebaikan), bukan malah menjadi tontonan dengan sikap-sikap mereka yang memalukan. Itulah mengapa agama mengajarkan untuk memperbaiki diri sebelum memperbaiki orang lain. Ali bi Abi Thalib perah berkata : “Barangsiapa yang menempatkan dirinya sebagai pemimpin manusia, maka dia harus mendidik dirinya sebelum mendidik orang lain; dan menjadikan pelajaran melalui tingkah lakunya lebih dahulu sebelum mengajar dengan lidahnya. Orang yang mampu mendidik dan melatih dirinya lebih berhak dihormati daripada orang yang mendidik dan melatih orang lain.”

Harus disadari, anggota legislatif itu, dianugerahi jabatan politis yang sangat strategis dalam mengelola kehidupan masyarakat dalam berbagai aspeknya. Karenanya, menjadi wakil rakyat itu tidaklah cukup hanya dengan memiliki ilmu pengetahuan tetapi yang jauh lebih penting adalah integritas pribadi. Sebab kondisi di ranah kekuasaan politis adalah kondisi di mana hawa nafsu dan kepentingan pribadi selalu menyelimutinya. Karena itu Ahmad Syauqi Beik pernah berkata mengingatkan para pengemban kekuasaan,tegak dan kukuhnya bangsa hanyalah mungkin dengan budi pekerti dan moralitas. Jika mereka tak lagi berbudi pekerti, tunggu saja kehancurannya”.

Jadi, dalam dunia politis, yang mana manusia merupakan makhluk terbaik hasil kreasi Tuhan, dijadikan sebagai pengemban amanah untuk memakmurkan jagat raya. Kemakmuran hanya didapatkan dengan sistem amanah bukan kekuasaan. Amanah ini didasarkan pada kepercayaan dan tanggung jawab, sedangkan kekuasaan diazaskan dengan kepemilikan dan kebebasan. Karenanya, pengelolaan negara dengan amanah akan menghasilkan pemeliharaan yang sesuai dengan karakteristik kepentingan rakyat, sedangkan pengelolaan berdasarkan kekuasaan dan kepemilikan hanya akan memberlakukan rakyat sesuai dengan keinginan dan kesenangan. Sebab itu, politik yang amanah akan menjadikan kekuasaan sebagai sarana menuju kemaslahatan negara termasuk mengantarkan masyarakat pada kesejahteraannya.

Untuk mewujudkan itu semua, kita membutuhkan sekelompok orang yang memahami kebutuhan masyarakatnya dan memiliki empati atas penderitaan rakyat. Kita tidak butuh wakil rakyat yang berprinsip ABS (Asal Bapak Senang) atau APS (Asal Partai Senang), yang kita butuhkan wakil rakyat yang berprinsip ARS (Asal Rakyat Senang). Itulah sejatinya wakil rakyat, bukan wakil  partai. Semoga! (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL