abu thalib

LiputanIslam.com — Kekuatan Rasul bertambah kokoh sehingga jauhlah jarak di antara Bani Hasyim dan Muthalib dengan kaum Quraisy. Abu Thalib semakin mewaspadai kaum Quraisy terhadap Rasul melebihi hari – hari sebelumnya. Ia selalu melindunginya dan selalu merasa khawatir bila malapetaka menimpanya. Rasul hampir tidak pernah jauh dari pandangannya agar kesusahan dan kesulitan tidak terjadi padanya.

Abu Thalib pernah merasa kehilangan anak saudaranya ini. Ia terus menerus mencarinya tetapi tidak menemukannya. Oleh karena itu, ia mulai cemas dan khawatir, serta wajahnya menjadi pucat karena bercampurnya kegelisahan, kesedihan dan ketakutan terutama setelah ia mendengar bahwa kaum Quraisy berencana akan membunuh Muhammad untuk menghentikan dakwah Islam.

Ia memanggil pemuda dari kalangan Bani Hasyim dan Muthalib. Ia memerintahkan kepada mereka agar menyembunyikan senjata tajam masing – masing di balik baju. Kemudian ia menyuruh setiap orang dari mereka berdiri di samping pemuka Quraisy dan memberi tanda. Apabila ia telah berputus asa mencari Muhammad dan atau darahnya telah tumpah sia- sia padahal darahnya yang tertumpah tidak sebanding dengan darah mereka semua atau jika Muhammad telah terbunuh, maka mereka dapat  mendatangi para pemuka Quraisy itu dalam sekejap mata dengan menghunus senjata tajam sehingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk membalas.

Masing – masing pergi menuju sasarannya. Anak- anak muda itu mulai menempati tempat masing – masing yang telah ditentukan oleh Abu Thalib. Ia sendiri pergi ke berbagai tempat untuk mencari anak saudaranya.

Kemudian, ia menemukannya dalam keadaan baik, tidak terluka sedikitpun, Abu Thalib menggandeng tangannya dan membawanya ke tengah – tengah khalayak Quraisy sambil berteriak kepada mereka, “Wahai sekalian kaum Quraisy, tahukah kalian apa yang telah aku sembunyikan?”

Anak – anak muda dari Bani Hasyim dan Muthalib pun memperlihatkan senjata mereka yang telah disembunyikan untuk menantang mereka dan menunjukkan kekuatannya  kepada mereka. Tampaklah kekalahan pada wajah kaum Quraisy, yang paling tampak jelas adalah wajah Abu Jahal. Abu Thalib berkata kepada mereka,

“Demi Allah, kalau kalian membunuhnya maka aku tidak akan membiarkan siapapun dari kalian tetap hidup hingga kami dan kalian binasa!”

Kemudian, Abu Thalib menggubah bait – bait syair. Di dalamnya ia memuji anak saudaranya, setelah mencela kaum Quraisy dan menyatakan ia berpihak kepada Muhammad dan keluarganya. Dialah pengasuh dan pemeliharanya, yang kecintaan kepadanya tertanam di dalam hatinya dan memenuhi dadanya. Ia bukanlah seorang pemutus tali silaturahmi.

Sampaikanlah kepada Quraisy apa yang terjadi

Terdapat tipuan dari semua rahasia

Aku dan para pelantun tasbih setiap hari

Dan apa yang dibaca ahli surga yang masyur

Pelindung dan pemelihara bagi keluarga Muhammad

Dan dengan cintaku sepenuh dada dan batin

Bukanlah aku pemutus kekeluargaan dan dari anakku

Walaupun para jagal menjalankan kezalimannya

Apakah mereka suruh anak – anak yang lemah untuk membunuh Muhammad?

Dan perintah itu merupakan kelaliman

Demi ayahmu, kaum Quraisy tidak beroleh

Dan tidak mengimani petunjuk walau mereka ditunjuki

Anak saudaraku jantung hati bagiku

Airnya jernih banyak berlimpah

Sesudahnya anak anak minum sampai puas

Dan Ahmad telah menjanjikan baginya kubur.

 

Dikutip dari buku Abu Thalib Mukmin Quraisy, karya Abdullah al -Khanizi (LiputanIslam.com/AF)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL