abu thalibLiputanIslam.com — Ketika suatu hari Rasul sedang bermunajat kepada Tuhannya, naik ke alam tertinggi dan tenggelam di dalam dunia roh, tiba-tiba orang Quraisy datang untuk menghinakannya. Rasul sedang menunaikan shalat, dan mereka ingin mengganggu shalatnya. Pekerjaan tersebut ditugaskan kepada Abdullah bin az-Zabari. Orang ini pun melaksanakannya dengan semangat. Ia mengambil kotoran dan darah sembelihan binatang lalu mendatangi Rasul yang sedang bersujud di dalam keutamaan, lalu melemparkannya ke tubuh Rasul.

Rasul tidak memiliki tempat mengadu selain Abu Thalib. Ia ingin mengadukan kepadanya penderitaan yang diterimanya agar orang tua tersebut membelanya. Setelah selesai menunaikan shalatnya Rasul pun menemui Abu Thalib dan menceritakan kejadian yang menimpanya.

Abu Thalib berang atas apa yang menimpa anak saudaranya. Ia harus menuntut balas kepada mereka. Sambil membawa anak saudaranya dan meletakkan pedang di pundaknya ia menemui kaum itu.  Kata-kata seperti guntur keluar dari mulutnya

“Demi Allah, kalau seorang saja berdiri, ia akan kutebas dengan pedangku”

Mereka pu bertiarap di tanah seperti orang yang kehilangan semangat. Abu Thalib berpaling kepada anak saudaranya dan bertanya; “Anakku, siapa yang melakukan ini kepadamu?”

Rasul menunjuk ke Ibn az-Za’bari. Tanpa basa basi, Abu Thalib menebas hidungnya hingga darah berceceran mengenai kaum itu serta membasahi wajah janggut serta pakaian mereka. Ia berbicara keras kepada mereka. Kemudian, ia kembali kepada anak saudaranya dengan bahasa penuh pembelaan, “Wahai anak saudaraku, apakah engkau telah puas? Aku bertanya siapa engkau? Engkau adalah Muhammad bin Abdullah, sungguh rangkaian nasab yang mulia. Engkau, demi Allah keturunan yang paling mulia dan memiliki kedudukan yang paling tinggi di tengah mereka. Wahai sekalian kaum Quraisy, siapa saja diantara kalian yang ingin pergi, lakukanlah. Inilah aku yang telah kalian kenal.”

Selanjutnya, ia membaca bait bait berikut:

Engkaulah Nabi Muhammad

Pemimpin yang mulia dan pemberani

Dari keturunan yang memiliki kemuliaan

Mereka mulia dan yang dilahirkan pun mulia

Pemelihara Ka’bah satu-satunya

Remehan keju pada kelopak mata

Dan kehidupan Mekkah yang sulit

Dengan demikian, terbitlah sunah

Di dalam roti diremukkan

Kami memberi minum jamaah haji

Dengannya anggur kering dicairkan

Aku telah berjanji padamu dengan tulus

Dalam ucapan yang tidak berlebihan

Kau selalu berada dalam kebenaran

Dan kau anak yang muda belia

*****

Abu Thalib membuka qasidah ini dengan pengakuan yang jelas, yang tidak menyisakan sedikitpun perdebatan.

Apakah bedanya antara orang yang mengatakan “Aku bersaksi bahwa Muhammad dalah utusan Allah,” dan orang yang mengaku “Engkaulah Nabi Muhammad….” ?

Fakta membuktikan bahwa dalam hal itu tidak ada perbedaan. Keduanya merupakan pengakuan akan kenabian Nabi Muhammad Saw. Kemudian ia memuji keturunannya dan menyebutkan pekerjaan Bani Hasyim yang mentradisikan pemberian makan kepada jamaah haji pada saat Mekkah dilanda kemarau dan kekeringan. Dalam kehidupan yang susah itu, ia memberikan harapan dan kelapangan, dan menghilangkan kehidupan yang sulit. Dengan demikian, ia menenangkan hati yang gelisah, mengenyangkan perut yang lapar dan memuaskan kerongkongan yang dahaga.

Setelah itu, dia menunjukkan kasih sayang kepada anak saudaranya sehingga tidak tersentuh tindakan sewenang-wenang selama ia masih di muka bumi ini, selama kelopak mata masih berkedip dan kaki masih berjalan . Dia bukanlah seorang yang pengecut, sementara di sekelilingnya terdapat singa-singa yang siap memangsa yang dapat membinasakan setiap orang yang menimpakan keburukan atas segala sesuatu yang tidak disukainya.

 

Dikutip dari buku Abu Thalib Mukmin Quraisy karya Abdulah al-Khanizi. (LiputanIslam.com/AF)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL