abu thalibliputanislam.com –Kaum Quraisy yang menginginkan Abu Thalib menghentikan Nabi Muhammad menyampaikan dakwahnya memikirkan cara lain untuk membuat Abu Thalib berubah pikiran. Mereka membawa ‘Imarah bin al- Walid kehadapannya.

“Wahai Abu Thalib, inilah ‘Imarah bin al – Walid seorang pemuda yang gagah, pandai bersyair dan tampan. Ambillah dia. Kamu dapat memanfaatkan kecerdasannnya dan kesiapannya untuk membelamu.Jadikanlah dia anakmu sehingga dia menjadi milikmu. Sebagai imbalannya, serahkanlah anak saudaramu kepada kami, yaitu orang yang telah menyalahi agamamu dan agama bapak -bapakmu, serta mencerai-beraikan jemaah kaummu dan mencemoohkan akal mereka. Kami akan membunuhnya karena ia seorang laki – laki seperti laki – laki lain.”

Abu Thalib menjawab dengan tenang

“Demi Allah, betapa buruk yang kalian tawarkan. Apakah kalian akan memberikan kepadaku anak kalian untuk aku beri makan, sementara aku harus menyerahkan anakku untuk kalian bunuh? Demi Allah ini tidak akan pernah terjadi !”

Al Muth’imbi Adi bin Naufal bin Abd Manaf, salah seorang sahabatnya pernah berkata,“Demi Allah, wahai Abu Thalib, kaummu telah berlaku adil kepadamu. Mereka berusaha untuk membebaskanmu dari sesuatu yang tidak kamu sukai. Akan tetapi, aku tidak melihatmu ingin menerima sesuatupun dari mereka.”

Abu Thalib menjawab, “Demi Allah, mereka tidak berlaku adil kepadaku, namun kamu telah sepakat untuk menghinaku dan agar kaum itu melawanku. Oleh karena itu, lakukanlah apa yang kamu inginkan.”

Abu Thalib menggubah syair yang menceritakan tindakan Al Muth’im bin Adi yang telah menghinanya, juga dari kabilah Abd Manaf dan orang- orang dari kabilah Quraisy yang memusuhinya

Katakan kepada Amr,  al- Walid, dan Muth’im

Alangkah baiknya kalau unta muda melindungimu

Yang penuh dari kelemahan dan banyak bicara

Tetesan kotorannya menetes hingga kedua betisnya

Tertinggal di belakang mawar dan tidak pernah menyusul

Ketika di atas batu besar, disebutlah kucing

Kulihat dua saudara kami seayah seibu

Bila ditanya, menjawab “Berikan perkara itu pada selain kami”

Tentu, keduanya punya urusan, tapi keduanya jatuh

Seperti batu jatuh pada dari puncak gunung Dzu ‘Alaq

Aku khususkan Abd Syams dan Naufal

Keduanya membuang kami bagai membuang bara api.

Keduanya mencela saudara mereka di tengah kaum

Sehingga keduanya menjadi yang paling jauh akalnya

Keduanya bersekutu terhadap kemuliaan orang yang tidak berayah

Di tengah manusia, kecuali menyebutnya secara bisik bisik.

Dan Taym, Makhzum, dan Zahrah, dari mereka

Mereka maula kami ketika pertolongan dibina

Demi Allah, tidak berguna bagimu permusuhan dan kami

Dan dari mereka, selama tak seorangpun dari keturunan kami

Akal dan pikiran mereka telah beku

Dan mereka seperti anak – anak, betapa buruknya perbuatan anak – anak

Bukankah itu selain kemuliaan yang dikhususkan bagi kami

Oleh Tuhan para hamba

Dan memilih kami jadi kebanggaannya

Orang – orang cenderung kepada pendengki dan membenci

Orang yang memiliki ketinggian, maka selamanya menjadi keganjilan di tengah mereka

Walid, ayahnya, adalah budak kakek kami

Tipu daya mengubahnya menjadi keledai liar

Dikutip  dari buku Abu Thalib Mukmin Quraisy, karya Abdullah al-Khanizi (liputanislam.com/AF)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL