abu thalib

liputanislam.com — Kaum Quraisy marah karena Nabi Muhammad Saw mencela berhala mereka, yang biasa mereka sembah. Merekapun mengadukan hal ini kepada Abu Thalib.

“Wahai Abu Thalib, anak saudaramu telah mencela tuhan – tuhan kami, menghina agama kami, menganggap bodoh akal kami, dan memandang sesat bapak- bapak kami. Apakah engkau menghentikan dia atau menyerahkannya kepada kami, karena engkau berbeda pandangan dengan apa yang kami lakukan. Oleh karena itu, kami memandang engkau dapat memperingatkannya.”

Abu Thalib bersikap lembut kepada mereka dan menjawab dengan kata – kata halus sehingga mereka beranjak meninggalkannya. Sementara itu, Rasul terus menyebarkan dakwahnya dan menampakkan agama Allah

Karena mereka tidak mendapat tanggapan atas yang mereka adukan, hasil yang diharap tidak kunjung tiba, dan tujuan tidak tercapai, mereka sepakat untuk mendatangi Abu Thalib lagi.

“Wahai Abu Thalib, engkau adalah orang yang dituakan, orang yang dimuliakan, dan memiliki kedudukan di tengah kami. Kami telah memintamu menahan anak saudaramu, tetapi engkau tidak menghentikannya. Demi Allah, kami tidak lagi dapat bersabar terhadap masalah ini, karena bapak -bapak kami telah dicaci maki, akal kami telah diremehkan, dan tuhan- tuhan kami dicela hingga engkau menghentikannya atau kami sendiri yang menghadapi dirinya dan sekaligus dirimu, sehingga salah satu dari kedua kelompok itu binasa.”

Abu Thalib berdiri di antara dua arus yang deras ini. Masing- masing memiliki kepentingan dan kekuatan yang sama. Oleh karena itu, ia merasa takut untuk menyatakan peperangan yang sengit dengan kaumnya yang hanya akan membinasakan orang tua dan anak- anak. Di sisi lain, ia dapat menelantarkan risalah langit, padahal ia telah berjanji untuk membelanya. Ia pun tidak dapat membiarkan anak saudaranya, yaitu utusan langit, sementara ia memiliki hak darinya berdasarkan wasiat ayahnya yang ia sampaikan pada akhir hayatnya

Ia menegarkan hatinya dan menguatkan tekadnya. Lalu, ia memanggil anak saudaranya dan menyampaikan pesan utusan Quraisy kepadanya seraya ingin tahu, melalui pembicaraan ini, sejauh mana tekad dan kesungguhan anak saudaranya itu dalam dakwahnya ini. Kemudian ia melanjutkan; “Kasihanilah aku dan dirimu! Jangan bebani aku dengan perkara yang tidak mampu aku pikul!”

Rasul menjawab,

“Wahai pamanku, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan tugas ini sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya, maka aku tidak akan meninggalkannya!”

Abu Thalib menajamkan pandangannya, lalu ia merasa gembira. Tekadnya menguat lagi. Ia telah mengalahkan arus deras ini sehingga ia harus membelanya. Ia lebih mengutamakan pembelaan terhadap agama ini dan perlindungan kepada Rasul, bahkan kalaupun pembelaan dan perlindungan tersebut mendatangkan permusuhan dari kaum Quraisy seluruhnya, bahkan jika dari bangsa Arab semuanya.

Ia harus berjuang dan tidak merendah selama kehendak langit menganugerahinya limpahan karunia untuk menolongnya, lalu memilihnya menjadi benteng dan gua, pengasuh dan pemelihara, sejak hari pertama kehidupan Rasul dan pada awal terbitnya fajar risalah Islam.

“Pergilah, hai anak saudaraku! Sampaikanlah apa yang ingin kau katakan. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkanmu pada sesuatu apapun selama – lamanya!”

Kemudian, ia berbisik kepadanya sambil membaca bait – bait syair berikut:

Demi Allah, mereka semua tidak akan menyentuhmu

Hingga aku terkubur berkalang tanah

Jalankan tugasmu, dan jangan merendah

Sampaikan tugas itu dan sejuklah matamu

 

Kau seru aku, dan ku tahu, kau menasehatiku

Kau benar, karenanya kau aman

Kutahu bahwa agama Muhammad

Sebaik- baik agama bagi umat manusia

 

Dikutip dari buku Abu Thalib Mukmin Quraisy karya Abdullah al-Khanizi

(liputanislam.com/AF)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL