Dr. Otong Sulaeman*

Pernyataan Rocky Gerung bahwa kitab suci itu fiksi saat ini sedang menuai pro-kontra yang cukup meluas, dan saat ini sudah masuk ke ranah hukum. Amplifikasi kontroversi pernyataan ini tentu saja tak bisa lepas dari masalah politik. Saya tidak akan masuk ke dalam wilayah politik dan hukum. Yang akan saya sampaikan berikut ini murni analisis ilmiah dari sudut pandang ilmu logika.

Sebagaimana yang bisa kita lihat pada video acara saat melontarkan pernyataan itu, dan juga klarifikasi yang disampaikan olehnya di berbagai media, Rocky menyatakan, kesimpulan bahwa kitab suci itu fiksi didasarkan kepada penalaran atas dua proposisi berikut.

  1. Fiksi mengaktifkan imajinasi
  2. Kitab suci mengaktifkan imajinasi.

Dari kedua proposisi itu, diambil kesimpulan bahwa kita suci itu fiksi.

Ada tiga kata kunci yang dikemukakan oleh Rocky dalam model penalaran yang ia sampaikan, yaitu: ‘fiksi’, ‘mengaktifkan-imajinasi’, dan ‘kitab-suci’. Pada proposisi pertama, Rocky mempertautkan antara konsep ‘fiksi’ dan konsep ‘mengaktifkan-imajinasi’. Pada proposisi kedua, yang dipertautkan adalah konsep ‘kitab-suci’ dan konsep ‘mengaktifkan-imajinasi’. Lalu, diambil kesimpulan berupa pertautan antara konsep ‘kitab-suci dan konsep ‘fiksi’.

Dalam ilmu logika, pengambilan kesimpulan berdasarkan kepada dua proposisi hanya bisa diambil secara benar dalam dua kondisi:

  1. Kedua pernyataan yang dijadikan sebagai proposisi sama-sama memiliki relasi ekuivalensi. Jika A ekuivalen dengan B; dan B ekuivalen dengan C, maka A ekuivalen dengan C.
  2. Kedua pernyataan membentuk silogisme deduktif, di mana ketiga konsep tersebut membentuk relasi umum-khusus-absolut (yang dalam ilmu matematika disebut ‘himpunan-bagian’) secara bertingkat. Jika A adalah bagian dari himpunan B, dan B adalah bagian dari himpunan C, maka A adalah bagian dari himpunan C.

Empat Model Relasi

Kedua kondisi ini mengacu kepada empat model relasi di antara dua konsep. Dalam ilmu logika (dan juga matematika), ketika dua konsep dipertautkan, kemungkinan relasinya ada empat: ekuivalensi, diferensia (saling-lepas), umum khusus absolut (himpunan bagian), dan umum khusus beririsan (himpunan berpotongan). Kita lihat keempat model relasi ini.

  1. Eekuivalensi, bermakna ‘sama’. Maksudnya, kedua konsep sama-sama bisa diterapkan pada objek (atau objek-objek) yang identik. Contohnya adalah ‘makhluk-hidup’ dan ‘tumbuh-berkembang’; ‘manusia’ dan ‘mampu-berpikir’.

Simbol dari ekuivalen adalah  = (sama dengan).  A = B bermakna A ekuivalen dengan B.

Ekuivalensi terjadi ketika satu konsep dipertautkan dengan sifat substansial (bukan sifat aksidental) dari konsep lainnya. Mampu berpikir adalah sifat substansial dari manusa. Ciri khas dari relasi ekuivalensi ada pada kebolehan antara kedua konsep untuk bertukar tempat ketika berada dalam sebuah kalimat. Contohnya, kita bisa menyatakan: ‘Setiap manusia mampu berpikir’. Kita juga bisa menyatakan: ‘Setiap yang mampu berpikir adalah manusia’. ‘Setiap makhluk hidup itu tumbuh dan berkembang’, dan ‘Setiap yang tumbuh dan berkembang adalah makhluk hidup’.

  1. Diferensia, secara sederhana bermakna ‘berbeda’. Dalam matematika, diferensia memiliki istilah ‘himpunan yang saling lepas’, disimbolkan dengan tanda ⫗.  A ⫗ B bermakna A berbeda dari B .

Relasi ini terjadi di antara dua konsep yang  betul-betul berbeda. Tidak ada titik persinggungan objek di antara kedua konsep. Contoh dari relasi diferensia adalah hubungan antara ‘manusia’ dan ‘harimau’, ‘batu’ dan ‘kuda’, dan lain-lain.

Dua konsep yang dipertautkan oleh model relasi diferensia juga bisa bertukar posisi, tapi dalam dua kalimat negatif: ‘Setiap batu bukan kuda’ dan ‘Setiap kuda bukan batu’. Kedua kalimat ini bisa juga dinyatakan dengan model kalimat lain, yaitu: ‘Tak ada batu yang merupakan kuda’ dan ‘Tak ada kuda yang merupakan batu’.

  1. Umum-khusus absolut, dalam matematika memiliki istilah ‘himpunan bagian’, dan disimbolkan dengan tanda  “ϲ“. A ϲ B  bermakna: A adalah bagian dari B . Ini adalah relasi di antara dua konsep di mana salah satunya menjadi objek bagi yang lainnya. Contohnya adalah relasi antara dua konsep ‘makhluk hidup’ dan ‘manusia’.

Di sini, manusia menjadi objek bagi makhluk-hidup. Kedua konsep ini hanya bisa dinyatakan dalam satu model kalimat: ‘Setiap manusia adalah makhluk hidup’. Posisinya tidak bisa ditukar. Adalah salah kalau kita menyatakan: ‘Setiap makhluk hidup adalah manusia’. Kenapa? Karena ada makhluk hidup yang bukan manusia. Ada hewan, tumbuhan, dan yang lainnya (misalnya malaikat, jin, setan, bagi yang percaya). Kalaupun mau dibalik, pernyataannya menjadi bersifat parsial: Sebagian dari makhluk hidup adalah manusia.

  1. Umum-khusus beririsan, adalah relasi di antara dua konsep yang objeknya bisa diterapkan pada sebagian objek bagi yang lainnya. Dalam matematika, relasi ini disebut relasi berpotongan dengan simbol ∩ . A ∩ B bermakna: sebagian anggota A berpotongan/beririsan dengan sebagian anggota B. Contohnya adalah konsep ‘kain’ dan ‘warna-putih’. Ada sebagian objek yang bisa diterapkan untuk kedua konsep ini, yaitu kain yang berwarna putih.

 

Harap diperhatikan bahwa ‘kain-putih’ itu hanyalah salah satu objek, baik bagi konsep ‘kain’ ataupun konsep ‘warna-putih’, karena ada kain yang tidak berwarna putih (misalnya kain hitam), dan ada warna-putih yang tidak berbentuk kain (misalnya kapas). Ketika dinyatakan dalam bentuk kalimat, yang muncul adalah pernyatan parsial (ditandai dengan kata ‘sebagian’), yaitu: ‘Sebagian kain berwarna putih’ dan ‘Sebagian yang berwarna putih adalah kain’.

Sebelumnya sudah disampaikan bahwa kesimpulan bahwa ‘kitab suci itu fiksi’ (dengan mempertimbangkan tautannya, yaitu konsep ‘mengaktifkan-imajinasi’) hanya bisa diambil dalam dua kondisi, yaitu, pertama jika “kedua pernyataan yang dijadikan sebagai proposisi sama-sama memiliki relasi ekuivalensi”, atau, kondisi kedua, “jika kedua pernyataan membentuk silogisme deduktif, di mana ketiga konsep tersebut membentuk relasi umum-khusus absolut (himpunan bagian) secara bertingkat”.

Menguji Asumsi Ekuivalensi

Kita uji kemungkinan yang pertama: apakah di antara ‘fiksi’ dan ‘mengaktifkan-imajinasi’ terjadi relasi ekuivalensi? Jawabannya adalah tidak. Mengaktifkan imajinasi bukanlah sifat substansial dari fiksi, melainkan sifat aksidental. Anda tidak bisa menyatakan secara bolak-balik: ‘Setiap fiksi mengaktifkan imajinasi’, dan ‘Setiap yang mengaktifkan imajinasi adalah fiksi’. Setiap fiksi memang mengaktifkan imajinasi. Akan tetapi, yang mengaktifkan imajinasi itu bukan hanya fiksi, tapi bisa juga ada pada hal lain, misalnya biografi seorang tokoh, foto seseorang, bahkan kuliah yang ilmiah dari seorang profesor. Jadi, relasi antara kedua konsep ini adalah umum-khusus-absolut, yang dalam bahasa matematika disebut sebagai relasi himpunan bagian.

Bagaimana dengan relasi antara ‘kitab-suci’ dan ‘mengaktifkan-imajinasi? Dengan memperhatikan objek dari kedua konsep tersebut, kita bisa memastikan bahwa relasi keduanya bukan ekuivalensi, melainkan ‘umum-khusus-beririsan’. Objek yang beririsan itu adalah hal-hal spiritual yang ada dalam kitab suci, misalnya masalah eskatologi (kehidupan sesudah kematian). Pernyataannya adalah: Sebagian (bukan semuanya) isi dari kitab suci adalah eskatologi (karena kitab suci juga memuat tata aturan bertransaksi, etika-sosial, sejarah masa lalu, dan lain-lain). Pernyataan kedua adalah: Sebagian yang mengaktifkan imajinasi adalah konsep eskatologi.

Karena tak ada satupun dari kedua pernyataan di atas yang mempertautkan dua konsep secara ekuivalen, maka bisa dipastikan kesimpulan yang diambil juga keliru.

Asumsi Silogisme

Kini kita lihat asumsi kedua, yaitu bahwa kedua pernyataan membentuk silogisme deduktif di mana terjadi relasi umum-khusus mutlak (himpunan bagian) bertingkat. Antara konsep ‘fiksi’ dan ‘mengaktifkan-imajinasi’ memang membentuk relasi ini. Akan tetapi, relasi yang sama tak terjadi antara ‘kitab suci’ dan ‘mengaktifkan-imajinasi.

Supaya lebih jelasnya, kita lihat contoh silogisme deduktif yang sudah lama kita kenal.

Premis mayor: Semua manusia mati (mengalami kematian).

Premis minor: Plato adalah manusia.

Kesimpulan: Plato pasti mati (mengalami kematian).

Relasi antara konsep ‘kematian’ dan ‘manusia’ adalah umum-khusus absolut. Manusia adalah salah satu objek dari kematian. Setiap manusia pasti mati. Plato juga salah satu objek dari manusia, dan antara keduanya membentuk relasi umum-khusus absolut. Maka, kesimpulannya, ‘Plato’ adalah objek dari ‘kematian’ (Plato pasti mati).

Dengan melihat model silogisme seperti ini, kalau mau ‘dipaksakan’, supaya bisa diperoleh kesimpulan ‘Kitab suci adalah fiksi’ (yang ditautkan dengan konsep ‘mengaktifkan-imajinasi’), mestinya:

  1. Antara ‘fiksi’ dan ‘mengaktifkan-imajinasi’ terjalin relasi umum-khusus absolut, dan ‘mengaktifkan-imajinasi’ menjadi objek-mutlak dari ‘fiksi’, sehingga premisnya adalah: Setiap yang mengaktifkan imajinasi adalah fiksi.
  2. Antara ‘mengaktifkan-imajinasi’ dan ‘kitab-suci’ juga terjalin relasi umum-khusus absolut, dan ‘kitab-suci’ menjadi objek-mutlak dari ‘mengaktifkan-imajinasi’, sehingga pernyataannya adalah: Seluruh isi kitab suci mengaktifkan imajinasi.

Jika bisa dibuktikan kebenaran kedua proposisi di atas, barulah bisa diambil kesimpulan bahwa kitab suci adalah fiksi. Padahal, premis pertama di atas keliru, karena terbalik. Yang benar bukanlah ‘setiap yang mengaktifkan imajinasi adalah fiksi’, melainkan sebaliknya, yaitu: setiap fiksi membangkitkan imajinasi.

Begitu juga dengan premis kedua. Kitab suci bukanlah himpunan bagian dari ‘mengaktifkan imajinasi’. Relasi keduanya adalah umum-khusus-beririsan.

Karena syarat-syaratnya tidak dipenuhi maka tidak bisa diperoleh kesimpulan yang benar.

Relasi ‘Kitab-Suci’ dengan ‘Fiksi’

Lalu, bagaimana sebenarnya relasi antara ‘kitab-suci’ dan ‘fiksi’ yang ditautkan dengan ‘mengaktifkan imajinasi’? Berdasarkan kepada model pembuktian relasi antar-konsep di atas, diagram yang menghubungkan antara ketiga konsep ini adalah sebagai berikut.

Diagram ini dibaca: Setiap fiksi mengaktifkan imajinasi. Sementara itu, sebagian yang mengaktifkan imajinasi merupakan isi dari kitab suci, dan sebagian dari isi kitab suci mengaktifkan imajinasi. Adapun kitab suci bukan fiksi, dan fiksi juga bukan kitab suci. Maka, relasi antara konsep ‘fiksi’ dan ‘kitab-suci’ adalah diferensia (relasi saling lepas). Kesimpulannya, kitab suci itu bukan fiksi. Wallahu a’lam. []

*Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra, Peneliti Indonesia Center for Middle East Studies (ICMES)

DISKUSI:
SHARE THIS:

One Comment

  1. Penulis sudah memperbaikinya. Terima kasih atas koreksiannya.

Leave a Reply to Farid Cancel

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*