Teheran,LiputanIslam.com-Menlu Iran, Mohamamad Javad Zarif, dalam sebuah wawancara menanggapi pernyataan anti-Iran para pejabat tinggi Turki. Dia berkata,”Anda melihat kelakuan Turki? Kami prihatin terhadap mereka, tapi tampaknya daya ingat teman-teman kami ini lemah. Mereka menuduh Iran sektarian, tapi mereka lupa bahwa kami tidak bisa tidur hingga pagi saat mereka dikudeta, walau mereka bukan Syiah. Mereka pelupa dan sekaligus tidak tahu balas budi.”

Baru-baru ini, Recep Tayyip Erdogan, presiden Turki, dan Mevlut Cavusoglu, Menlu Turki, menuduh Iran sebagai negara sektarian.

Zarif menganggap kebijakan-kebijakan Iran di Timteng telah membuahkan hasil. “Semua tahu kami adalah penentu di kawasan. Pihak-pihak yang tidak berhasil di kawasan ini membuat kegaduhan untuk mengarahkan kebijakan-kebijakan Trump. Siapakah mereka? Mereka adalah pihak-pihak pendukung ISIS dan Jabhat al-Nusra. Semua orang tahu, kondisi genting di Timteng adalah dampak dari kebijakan mereka,”ungkap Zarif.

Turki dan Saudi, Para Pecundang di Timteng

Terkait pernyataan para pejabat Turki dan Saudi di Pertemuan Keamanan Munich, Menlu Iran mengatakan,”Mereka adalah para pecundang. Keduanya adalah negara-negara yang kebijakan-kebijakannya menemui jalan buntu. Dalam sebuah wawancara, saya pernah menyebut koalisi internasional anti-ISIS sebagai “koalisi pertobatan.” Sekarang saya menyebutnya “koalisi para pecundang.” Semua pihak yang gagal di kawasan, kini membentuk koalisi dan berbicara ini-itu. Menurut saya, mereka tak perlu ditanggapi serius. Andai kondisi mereka lebih baik dari sekarang, kelakukan mereka akan berbeda.”

Zarif lalu membandingkan pidatonya di Munich dengan pidato Menlu Saudi dan Turki. “Kami berbicara tentang kondisi internasional dan keharusan dialog serta kerjasama untuk mengatasi masalah di kawasan Teluk Persia, namun mereka justru ‘melempar batu’. Melempar batu biasanya dilakukan orang yang tak punya kekuatan. Orang yang kuat seharusnya menyampaikan programnya dan menentukan masa depan, bukan dengan menghujat pihak lain,”tuturnya.

Turki dan Saudi Lemah di Hadapan Iran

Menurut Zarif, Turki dan Saudi tidak memiliki kekuatan di hadapan Iran. Dia mengatakan, jika sebagian pengamat memprediksi jalan yang akan ditempuh Iran di masa depan lebih sulit, itu disebabkan keseragaman sikap Trump dengan dua negara ini.

“Sebagian pihak di kawasan merasa telah gagal. Sebab itu, mereka tidak ingin sendirian menjadi obyek konflik. Mereka juga menyeret rival yang telah mengalahkan mereka dalam konflik ini. Ini jelas bukan hal yang baik, tapi lumrah,”ungkap Zarif.

Zarif menyatakan, Iran tidak mengharapkan kelakuan semacam ini dari negara-negara tetangganya. Dia yakin, kelakuan semacam ini justru akan merugikan diri mereka sendiri.

Saudi Terjebak di Rawa Yaman

Terkait agresi Saudi ke Yaman, Zarif mengatakan,”Sebelum Saudi menyerang Yaman, Iran telah memperingatkan bahwa ini bukan solusi yang tepat. Masih ada solusi yang lebih masuk akal.”

“Sayang mereka tidak mendengarkan nasihat Iran dan kini terjebak di rawa-rawa perang Yaman. Mereka menyerang Iran dalam pidato dan wawancara untuk membebaskan diri dari rawa-rawa ini,”ujar Zarif.

“Para tetangga Iran ini mestinya tahu, kami hanya menghendaki stabilitas di Timteng. Iran sama sekali tidak ingin membalas kekeliruan mereka di masa lalu, seperti dukungan mereka terhadap Saddam atau kesalahan-kesalahan mereka yang lain,”pungkasnya. (af/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL