cobaltKinshasa, LiputanIslam.com—Laporan Amnesty Internasional terkait penambangan kobalt, bahan penting dalam gadget, di Kongo, mendapatkan reaksi luas. Dalam laporan tersebut terungkap bahwa penambangan kobalt dilakukan dengan memperkerjakan anak-anak dalam kondisi yang sangat buruk.

Amnesty International telah merilis detil hasil investigasi terhadap kobalt, logam langka yang menjadi bahan penting dalam baterai lithium pada tanggal 19 Januari lalu. Menurut laporan ini, lebih dari setengah suplai kobalt dunia datang dari Kongo, 20 persen di antaranya datang dari penambang “artisanal” di bagian selatan negara itu.

“Penambang artisanalini, atau disebut juga ‘creuseurs’di Kongo adalah penambang yang menggunakan tangan kosong sebagai alat dalam menggali bebatuan dari terowongan jauh di bawah tanah,” demikian ditulis di laporan berjudul “This Is What We Die For”

“Penambang artisanaltermasuk anak-anak usia 7 tahun yang mengeruk dan mencari-cari bebatuan yang mengandung kobalt sebagai sisa produk dari tambang industri, dan mereka yang membasuh dan memilah bebatuan itu sebelum dijual.”

Hampir semua kobalt dijual ke berbagai perusahaan oleh Congo Dongfang Mining International, sebuah perusahaan yang dimiliki China’s Huayou Cobalt Company Ltd. Dari perusahaan China ini, kobalt dijual ke berbagai perusahaan raksasa dunia, termasuk Apple Inc., Dell, HP Inc. (formerly Hewlett-Packard Company), Huawei, Lenovo (Motorola), LG, Microsoft Corporation, Samsung, Sony dan Vodafone, juga perusahaan mobil seperti Daimler AG, Volkswagen dan perusahaan China, BYD.”

Dalam menghasilkan laporan ini, Amnesty Internasional mewawancarai 87 penambang dan mantang penambang, termasuk 17 anak dari lima tambang berbeda. Secara keseluruhan, ada sekitar 110.000 hingga 150.000 creuseurs di Kongo, termasuk ribuan anak. Angka pasti sulit didapat tetapi angka yang disebut oleh UNICEF menyebut sekitar 40.000 anak bekerja sebagai penambang di Kongo, sebagian besar dari mereka bertugas menambang kobalt.

Laporan ini juga menyebut bahwa kondisi pekerja anak itu sangat buruk, mereka dipukuli, dipaksa bekerja berat dalam kondisi sangat buruk, serta mendapat upah sangat minim, 1-2 dollar per hari.(dw/mintpressnews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL