New York,LiputanIslam.com—Duta besar Iran untuk PBB mengatakan bahwa perempuan adalah yang paling menderita akibat krisis yang terjadi di Timur Tengah.

Ketika menyampaikan duka citanya atas krisis yang terus berlanjut di wilayah tersebut, Gholamali Khoshroo, membuat catatan pada Selasa, saat mendatangi sebuah pertemuan Dewan Keamanan PBB yang diadakan di New York.

“Kaum perempuan di Timur Tengah hidup dengan keadaan takut akibat ideologi takfiri yang didengungkan oleh para ekstremis dan kelompok teroris,” ucapnya. “kelompok-kelompok teroris secara sistematis melibatkan kaum perempuan dalam perbudakan, pelecehan, dan eksploitasi seksual.”

Ia menambahkan bahwa kekejaman eksploitasi seksual dapat menyebabkan para perempuan tersebut kehilangan kesempatan untuk terlibat dalam perkembangan sosial dan ekonomi.

Utusan Iran untuk PBB tersebut lebih jauh memberikan catatannya bahwa kebijakan rezim Tel Aviv terhadap orang-orang Palestina, khususnya kaum perempuan, merupakan salah satu contoh tentang hak-hak kaum perempuan yang dilecehkan.

Israel telah melancarkan peperangan di Gaza sebanyak tiga kali semenjak tahun 2008, termasuk serangan yang dilakukan pada 2014, yang mengakibatkan lebih dari 2.200 rakyat Palestina meninggal dunia dan lebih dari 11.100 lainnya mengalami luka-luka.

Tubuh seorang gadis yang ditembak mati oleh tentara Israel pada insiden yang terjadi di West Bank pada 19 Oktober 2016

Jalur Gaza telah berada di bawah kendali Israel sejak tahun 2007. Blokade tersebut telah menyebabkan penurunan standar kehidupan secara dramatis, termasuk juga meningkatkan jumlah pengangguran dan kemiskinan.

Selain itu, ia juga menekankan bahwa sekurang-kurangnya, 1.600 perempuan telah terbunuh semenjak Saudi Arabia memulai peperangan atas Yaman.

Saudi Arabia secara terus menerus melakukan serangan ke Yaman sejak Maret 2015 dalam rangka mengembalikan kekuasaan mantan presiden Yaman, Abd Rabbuh Mansur Hadi, yang menjadi sekutu setia Riyadh, dan juga untuk melemahkan pergerakan Houthi Ansarullah. Meskipun begitu, Rezim Riyadh telah gagal mencapai tujuannya, sekalipun telah menyebabkan penderitaan yang sangat besar.

Agresi militer Saudi telah merenggut nyawa lebih dari 12.000 orang, kebanyakan adalah warga sipil. (fd/Presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL