Washington,LiputanIslam.com-Menhan AS dalam sebuah wawancara secara resmi mengakui keberadaan pasukan negaranya di jantung Yaman.

Pengakuan ini terlontar dari mulut James Mattis, tiga tahun setelah berlalunya agresi atas Yaman.

Saudi dan UEA adalah dua pemain utama militer di Yaman. Secara lahiriah, mereka tergabung dalam sebuah koalisi untuk menggempur Yaman. Namun sebenarnya dua negara ini saling bersaing untuk menguasai sejumlah kawasan strategis di negara miskin tersebut.

Sebelum ini, UEA bersepakat dengan Mansour Hadi untuk menyewa Socotra selama 99 tahun. Socotra adalah pulau terbesar di perairan Laut Arab dan Teluk Aden. Dengan cara ini, UEA mengesankan invasi militernya sebagai hal legal.

Mattis sebagai menhan AS belum pernah mengakui secara resmi keberadaan pasukannya di Yaman. Maksimal dia hanya membenarkan suplai bahan bakar untuk jet-jet Saudi.

Dalam wawancara dengan Politico, Minggu (11/3), Mattis ditanya, apakah pasukan AS berada di perbatasan timur Yaman?

Dia menjawab,”Ada sedikit pasukan AS (di timur Yaman) yang kerap bekerjasama dengan UEA dan organisasi antiteroris Yaman.”

Dia lalu mencontohkan kerjasama AS-UEA yang tempatnya tidak berhubungan dengan perbatasan timur Yaman dan jaraknya 480 km dari Oman.

“Misalnya, al-Qaeda sempat menguasai pelabuhan Mukalla selama setahun. UEA, dengan bantuan intelijen AS, memasuki pelabuhan itu dan membebaskannya dalam waktu 36 jam,”jelas Mattis.

Menyadari bahwa dia kelepasan bicara, Mattis lalu segera mengubah topik dan mengatakan,”Tentu saja kami (AS) tidak ada di sana. Anda tahu, tentara kami tidak terlibat di perang darat Yaman.”

Pelabuhan Mukalla adalah salah satu pelabuhan strategis di selatan Yaman. Pelabuhan ini menghubungkan kanal Socotra dengan daratan utama Yaman. Seperti yang diungkap Mattis, juga kesepakatan UEA-Hadi, pulau dan pelabuhan itu kini dikuasai UEA. (af/alalam)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*