ABC2Ankara, LiputanIslam.com — Dengan mundurnya Ahmet Davutoglu dari posisinya sebagai Perdana Menteri Turki, praktis Presiden Recep Tayyip Erdogan berhasil mengkonsolidasikan kekuasaan yang tak tertandingi.

“Davutoglu bahkan tidak memberikan alasan yang jelas mengapa ia mundur. Ini mengejutkan untuk kami semua,” kisah seorang pejabat yang dekat dengan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), kepada Deutsche Welle, yang dikutip Sputnik (11/5/2016).

Seperti diketahui, Davutoglu mengumumkan pengunduran dirinya pekan lalu. Langkah tak terduga ini dianggap sebagai buntut ketegangan antara ia dan Erdogan.

“Sebenarnya saya berusaha optimis, tetapi saya harus mengatakan bahwa kondisi politik Turki sedang menuju jalan buntu. Dari kejadian ini, kita tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya di dalam masyarakat, yang artinya, Turki telah memulai sesuatu yang tidak pasti,” papar Tarhan Erdem, dari lembaga polling Konda.

Erdem menyinggung kediktatoran Erdogan yang semakin menjadi-jadi, termasuk menghukum akademisi dan jurnalis yang kritis terhadap pemerintah.

“Jika seorang presiden memaksakan kehendaknya sendiri tanpa adanya perubahan dalam konstitusi, itu berarti bahwa demokrasi Turki telah memudar. Presiden sesegera mungkin harus kembali pada batas-batas yang ditetapkan konstitusi,” imbaunya.

“Jika Anda melihat Erdogan hari ini, semua ucapannya menjadi hukum. Setiap hari Erdogan mengambil kebijakan yang menggiring Turki menuju “one man regime”. Mulai sekarang hanya ada satu orang yang berkuasa dan memutuskan segala hal, dan orang itu adalah Erdogan,” tambah dia.

Mantan Menteri Kehakiman Turki Hikmet Sami Turk menyebutkan bahwa pengunduran Davutoglu bisa menganggu masa depan negara.

“Hal ini menjelaskan bahwa dalam setiap peristiwa Erdogan selalu memihak dan ikut campur dalam tugas-tugas pemerintah. Ia bertindak sebagai pemimpin de facto AKP, dan mengabaikan konstitusi,” ujarnya.

Ada tiga kandidat pengganti Davutoglu, yaitu Menteri Perhubungan Binali Yildrum, Menteri Kehakiman Bekir Bozdag, dan Menteri Energi Berat Albayrak. Satu diantaranya adalah sahabat dekat, sementara yang lainnya adalah menantu Erdogan.

Davutoglu sendiri tidak bisa dibilang sosok yang terpuji. Ia adalah seseorang yang ambisius, dan berambisi membawa Turki sebagai pemain utama di kawasan. Bersama Erdogan, Davutoglu melakukan petualangan politik di Suriah yang sangat berbahaya, mendukung pemberontakan Suriah,dan membiarkan Turki sebagai jalan keluar masuk teroris ke Suriah. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL