Washington,LiputanIslam.com-Seorang analis AS berpendapat, tujuan Donald Trump dalam mengaktifkan kembali sanksi-sanksi atas Teheran, adalah memicu kerusuhan jalanan di Negeri Mullah. Namun, dengan sejumlah alasan, ia menyebut Trump akan gagal mewujudkan tujuannya.

“Tampaknya, sejumlah pejabat AS berharap sanksi-sanksi ini akan berujung pada pemberontakan rakyat di Iran. Namun, apakah mereka benar-benar sudah memikirkannya?”tulis Carol Giacomo dalam rubrik Opini di harian New York Times.

Giacomo menilai, tujuan lain Trump dari sanksi-sanksi tersebut adalah memaksa Iran untuk tunduk di hadapan sejumlah tuntutan AS, termasuk penghentian semua aktivitas nuklir serta peran militer Teheran di Suriah dan Yaman.

Analis ini bertanya, apakah pemerintah Trump sudah memikirkan konsekuensi dari tindakannya atau tidak? Giacomo menilai, langkah Trump yang memperluas ketegangan di kawasan mungkin justru akan membawa hasil yang terbalik.

Dia juga memperingatkan sikap individualis pemerintah Trump dan penyingkiran para sekutunya dalam menentukan kebijakan terhadap Iran.

“Upaya negara-negara Eropa untuk menghindari sanksi-sanksi AS adalah bukti kemarahan para sekutu AS terhadap Trump. Apakah rencana mereka berhasil atau tidak, itu adalah persoalan lain,”tulis Giacomo.

“Sebagian analis berkeyakinan, langkah-langkah ini justru akan menguntungkan para rival yang berhasrat mengganti dolar dengan mata uang lain. Dengan demikian, AS akan menerima konsekuensi dalam jangka panjang.”

Giacomo menegaskan, sanksi-sanksi baru akan efektif jika para sekutu AS bekerjasama. Jika tidak, maka sanksi-sanksi yang diaktifkan kembali atas Iran tak akan membawa hasil. (af/alalam/fars)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*