Militant Islamist fighters waving flags, travel in vehicles as they take part in a military parade along streets of Syria's northern Raqqa provinceAnkara, LiputanIslam.com – Jumlah ekstrimis bersenjata asing yang bercokol di Suriah dan ikut berperang melawan pasukan negara ini untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Bashar al-Assad mencapai lebih dari 12000 orang yang berasal dari 74 negara, dan dari belasan ribu orang itu sekitar 60 hingga 70 persen berasal dari negara-negara Timur Tengah, sedangkan sisanya dari beberapa negara Barat. Demikian dilaporkan harian Yeni Mesaj, Kamis (11/9).

Menurut koran Turki tersebut, jaringan teroris al-Qaeda berkembang pasca Perang Afghanistan, dan di Timur Tengah ada potensi kemunculan dan berkembangnya kelompok-kelompok teroris baru akibat banyaknya ekstrimis yang bergabung dengan barisan pemberontak Suriah.

Yeni Mesaj menyebut bahwa ekstrimis asing di Suriah yang berasal dari Tunisia sebanyak 3000 orang, dari Arab Saudi antara 1200 hingga 2500 orang, dari Maroko 1500 orang dan dari Jordania juga sekitar 1500 orang.

Sementara itu, koran Turki lain, Hurriyet, di hari yang sama menyebutkan bahwa pasukan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) di Suriah telah menjalin kesepakatan dengan dua kelompok pemberontak Suriah yaitu Pasukan Kebebasan Suriah (FSA) dan Front Islam untuk sama-sama memerangi kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Koran ini menilai adanya aliansi antarkelompok yang semula berjauhan satu sama lain itu tidak lepas dari hitungan mundur Amerika Serikat (AS) untuk memburu teroris ISIS di Suriah, sedangkan target mereka ialah menyingkirkan ISIS dari kawasan Raqqah dan Aleppo.

“Aliansi ini bertujuan menghentikan kezalimanan ISIS di kawasan,” ujar Menteri Pertahanan Kurdi Suriah, Esmat Sheikh Hassan, sebagaimana dikutip Hurriyet.

Dia menambahkan bahwa aliansi itu digagas oleh FSA dan Front Islam. Pada tahap awal diupayakan supaya ISIS terusir dari kawasan Jarabulus, Raqqah, Sirin, Sulaimaniyah dan komplek makam Sulaimansyah yang berjarak 35 kilometer dari garis perbatasan Suriah dengan Turki. Para pelopor aliansi ini meminta bantuan dana dari masyarakat dunia untuk menyukseskan target mereka.

Di bagian lain, seorang narasumber pemerintah Turki menyatakan kepada AFP bahwa negara ini tidak akan terlibat dalam aliansi multinasional yang dipimpin AS untuk memerangi ISIS di Irak dan Suriah.

“Turki tidak akan terlibat dalam operasi militer, dan hanya akan berkonsentrasi dalam operasi kemanusiaan saja,” ungkap narasumber yang meminta identitasnya dirahasiakan itu.

Meski demikian, narasumber itu menekankan bahwa Turki kemungkinan besar akan mengizinkan pasukan aliansi anti ISIS menggunakan Pangkalan Udara Incirlik Turki.

Sebelumnya, Turki sering mendapat kritikan karena ikut mempersenjatai kelompok-kelompok ekstrimis di Suriah, termasuk ISIS, dengan harapan dapat mempercepat ketergulingan pemerintah al-Assad.

Belum lama ini terjadi pertemuan antara Presiden Turki Recep Tayip Erdogan dengan Presiden AS Barack Obama di sela-sela pertemuan puncak Pakta Pertahanan Atlantik Utara. Keduanya membicarakan soal partisipasi Turki dalam perang melawan ekstrimis. Selain itu, menurut seorang pejabat Turki, rencananya Menteri Luar Negeri AS John Kerry hari ini, Jumat (12/9), akan mengadakan pertemuan dengan para petinggi Turki di Ankara untuk membahas kerjasama regional dalam penumpasan terorisme. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL