Teheran, LiputanIslam.com – Untuk kedua kalinya dalam jangka waktu 24 jam pada Sabtu (18/11/2017) Teheran mengecam permintaan Perancis agar Iran meninjau ilang kebijakan politik regional dan program rudal balistiknya, meskipun hubungan kedua negara membaik pasca penandatangan perjanjian nuklir Iran pada tahun 2015.

Presiden Perancis Emmanuel Macron Jumat lalu (17/11/2917) menyatakan kesiapannya “berdialog” dengan Teheran dengan harapan “Iran dapat menempuh strategi yang tidak terlalu agresif dan bisa menjelaskan kebijakan rudal balistiknya yang tampak tidak mengindahkan ketentuan.”

Menanggapi hal ini, penasehat pemimpin besar Iran urusan luar negeri Ali Akbar Velayati, Sabtu, menegaskan bahwa program rudal Iran “tak ada kaitannya sama sekali” dengan Macron.

Velayati menyoal, “Kami tidak meminta izin kepada pihak lain. Tak ada keuntungan apapun bagi Macron dan Perancis mencampuri urusan rudal, sebab urusan ini tak ada kaitannya sama sekali dengan Macron. Apa posisinya sehingga campurtangan?”

Dia juga menegaskan, “Jika (Macron) menginginkan perkembangan hubungan Iran-Perancis maka dia tidak boleh mencampuri urusan seperti ini karena berlawanan dengan kepentingan nasional Perancis…. Jelas bahwa reaksi kami akan negatif.”

Jumat lalu Iran juga mengecam Menlu Perancis yang setelah berkunjung ke Arab Saudi menyebut Iran berusaha mendominasi Timteng.

Jubir Kemlu Iran Behram Qassemi menyebut Perancis “berpihak dapat memperparah krisis Timteng.”

Ali Akbar Velayati yang juga mantan menlu Iran pada tahun 1981-1997 mengatakan, “Saya mengimbau Presiden Perancis agar mengikuti jejak de Gaulle. Yakni berkebijakan semi independen.” (mm/rayalyoum/fna)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL