bendera yamanWashington, LiputanIslam.com – Utusan Khusus PBB untuk Yaman Ismail Ould Cheikh Ahmed dalam laporannya di hadapan Dewan Keamanan PBB, Jumat (15/4), memastikan Yaman sudah semakin dekat dengan perdamaian.

“Kita belum pernah sedekat ini dengan perdamaian,” ungkapnya, sebagaimana dilaporkan AFP dan dikutip Ray al-Youm, Sabtu (16/4).

Dia menjelaskan, “Perundingan akan dimulai di Kuwait pada 18 April dengan tujuan mencapai kesepakatan menyeluruh, mengakhiri konflik, dan memungkinkan dimulainya dialog politik yang menghimpun apa yang sesuai dengan resolusi internasional nomor 2216.” Resolusi ini dikeluarkan Dewan Kamanan PBB tahun lalu.

Dia menambahkan bahwa keberhasilan perundingan ini memerlukan kompromisasi yang berat dari semua pihak, iktikad yang kuat untuk mencapai kesepakatan, dan dukungan regional maupun global.

“Kami meminta semua pihak terkait supaya terlibat dalam perundingan dengan iktikad baik dan kelunakan sikap… Jalan perdamaian sangat sulit, namun sudah ada di depan mata sehingga kegagalan tidaklah relevan,” imbuhnya.

Menurut Cheikh Ahmed, ada penurunan signifikan pada tingkat kekerasan militer di sebagian wilayah Yaman selama gencatan senjata diterapkan sejak Minggu lalu. Namun dia mengakui ada sejumlah pelanggaran serius dan berbahaya bagi perjanjian gencatan senjata, terutama di Taiz di mana pertempuran terus berlanjut dan menjatuhkan korban sipil.

Sementara itu, channel al-Masirah, Yaman, melaporkan bahwa pada hari ini, Sabtu (16/4), Arab Saudi kembali melanggar gencatan senjata dengan menerbangkan jet-jet tempurnya berbagai provinsi Yaman.

Menurut media milik Ansarullah (Houthi) ini Saudi bahkan sudah enam hari berturut-turut melakukan pelanggaran sejak gencatan senjata diumumkan, dan pada hari ini Saudi menerbang jet-jet tempurnya di angkasa beberapa provinsi Yaman, yaitu Marib, Taiz, Sana, dan kota al-Sharafaian di provinsi Hajjah.

Saudi dan beberapa negara sekutunya melancarkan serangan ke Yaman sejak Maret 2015 dengan tujuan memulihkan pemerintahan presiden Abd RabbuhMansour Hadi yang tersingkir oleh revolusi rakyat yang digerakkan oleh Ansarullah.

Semula Saudi dan sekutunya yakin dalam waktu singkat akan dapat mengalahkan Ansarullah yang didukung tentara Yaman loyalis mantan presiden Ali Abdullah Saleh. Namun hingga satu tahun lebih serangannya ke Yaman, tak terlihat tanda-tanda Ansarullah dan sekutunya itu melemah hingga akhirnya terjadi kompromi-kompromi tertentu antara Saudi dan Ansarullah yang kemudian dilaporkan terus mengarah kepada perdamaian Yaman.

SeranganSaudi dan sekutunya menjatuhkan korban tewas dan luka ribuan orang, menyebabkan puluhan ribu orang mengungsi, serta menghancurkan 80 persen sarana infrastruktur Yaman. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL