Teheran, LiputanIslam.com –  Gelombang unjuk rasa tandingan masih berlangsung di Iran dan memasuki hari kedelapan, Senin (8/1/2018).

Gelombang unjuk rasa kali ini antara lain melanda 10 kota di provinsi Kurdistan.  Ribuan massa mengutuk campur tangan asing dan para pelaku kerusuhan dalam demo-demo protes yang terjadi selama beberapa hari sejak 28 Desember 2017. Mereka juga menegaskan komitmen dan loyalitas mereka pada prinsip revolusi dan pemerintahan Islam Iran.

Di kota Sanandaj, ibu kota provinsi Kurdistan, massa memulai aksinya sejak pukul 10.00 waktu setempat dan massa menegaskan kesetiaan mereka kepada nilai-nilai revolusi.

Unjuk rasa di hari kedelapan juga melanda kota Qazvin di mana massa membawa poster dan spanduk bertuliskan slogan-slogan dukungan mereka kepada para pemimpinnya. Mereka mengutuk upaya-upaya menyimpangkan demo-demo protes dari jalurnya yang benar kepada tindakan-tindakan melanggar hukum dan aksi kerusuhan.

Demo tandingan juga terjadi provinsi Larestan di mana massa menegaskan bahwa demonstrasi protes melalui jalur damai harus dipisah dan diamankan dari pihak-pihak tertentu yang dengan dukungan asing berusaha menungganginya untuk tujuan menebar fitnah

“Pihak asing tak dapat menundukkan Iran. Tidak penting bagi mereka urusan ekonomi Iran, mereka hanya ingin menghantam Iran dan sistemnya,” ujar salah seorang pria setengah baya warga setempat, sebagaimana terlihat dalam video di laman situs Al-Alam milik Iran.

Seorang wanita muda mengatakan, “Kami tidak akan membiarkan perusuh, kami akan membendung mereka.”

Pemandangan serupa juga terjadi di kota Gonbad-e Kavus, provinsi Golestan, dan berbagai kota dan daerah lain.

“Rakyat ingin membuktikan bahwa mereka mengutuk para perusuh dan pihak asing yang berada di balik mereka dengan tujuan menyerang revolusi dan negara,” ungkap salah seorang demonstran di Gonbad-e Kavus.

Di Teheran, Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan bahwa tindakan Amerika Serikat (AS) mengeksploitasi serangkaian peristiwa unjuk rasa protes di Iran justru telah mempermalukan dan menjatuhkan citra AS sendiri di Dewan Keamanan PBB.

“Adalah kewajiban bagi semua untuk berbakti kepada agama, revolusi, negara, dan rakyat…. Rakyat berhak mengatakan, ‘Perhatikanlah kami, dengarlah kami, dan responlah tuntutan kami’,” ungkapnya. (mm/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL