Khartoum, LiputanIslam.com –   Aksi unjuk rasa besar melanda beberapa kota Sudan, Kamis (17/1/2019), dan terjadi  gangguan terluas sejak kerusuhan dimulai di negara ini pada 19 Desember 2019.

Saksi mata mengatakan bahwa Khartoum, ibu kota Sudah, diwarnai bentrokan sengit antara polisi dan demonstran.

Komite Dokter Sudan, sebuah kelompok yang terkait dengan oposisi, melaporkan bahwa dalam kekerasan itu seorang dokter dan satu anaknya tewas akibat luka tembak di bagian kepala.

“Satu dokter dan seorang anak terbunuh dalam demonstrasi hari ini,” ungkap Komite Dokter Sudan yang turut andil dalam gerakan protes yang dipelopori oleh Asosiasi Profesional Sudan (SPA).

Kematian itu juga dikonfirmasi oleh kerabat kedua korban kepada AFP, setelah para pemrotes mencoba berbaris di istana presiden dan menuntut pengunduran diri Presiden Omar al-Bashir.

Para saksi mata mengatakan bahwa massa pengunjuk rasa yang meneriakkan “kebebasan, perdamaian, keadilan” berkumpul dan berpawai di pusat kota Khartoum, namun polisi anti huru hara segera menghadang mereka dan berusaha membubarkan massa dengan tembakan gas air mata.

Demonstrasi juga terjadi di kota-kota lain, meningkat menjadi yang terbesar dalam tiga dekade pemerintahan tangan besi Bashir, dan memicu bentrokan mematikan antara massa dan pasukan keamanan.

Pekan lalu, Amnesty International menyatakan lebih dari 40 orang terbunuh dan lebih dari 1.000 ditangkap, sementara Human Rights Watch mencatat bahwa korban tewas antara lain anak kecil dan staf medis. (mm/aljazeera)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*