menlu emirat qarqasDhubai, LiputanIslam.com – Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) Anwar Qarqash menepis pernyataan yang dikaitkan pada dirinya bahwa pasukan negara ini berhenti menyertai pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi dalam perang Yaman melawan milisi Ansarullah (Houthi).

Associated Press dari Dubai, Minggu (19/6), melaporkan bahwa dia semula memang secara resmi mengumumkan negaranya berhenti berperang di Yaman, namun belakangan dia menarik pernyataan itu dengan mengatakan negaranya masih berperang di Yaman, dan telah terjadi kesalah pahahaman atas pernyataan dia sebelumnya.

Kantor berita Turki Anadolu menyebutkan bahwa pernyataan terbaru ini keluar sehari setelah dalam kuliahnya yang dihadiri Putera Mahkota Abu Dhabi Mohammed bin Zayed, Rabu pekan lalu, dia menegaskan bahwa peranan UEA dalam perang Yaman sudah berakhir.

“Untuk UEA, perang di Yaman sudah berakhir hari ini,” katanya saat itu, sebagaimana dikutip kantor berita resmi UEA.

Dia menambahkan, “Sebuah proses politik sekarang sedang dilakukan untuk memungkinkan pemerintah yang sah (Yaman) mengelola layanan dasar dan melaksanakan tanggung jawabnya.”

Menurut Anadolu, pernyataan ini dikemukakan Qarqash sehari setelah dua helikopter militer UEA tertembak jatuh di Yemen hingga menyebabkan para pilot dan co-pilotnya tewas. Namun belakangan melalui beberapa kicaunya di Twitter dia terlihat menarik pernyataan mundur dari perang tersebut.

Ansarullah Yaman Bebaskan Ratusan Tawanan

Sementara itu, dengan semangat kemanusiaan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, kelompok Ansarullah (Houhti), Minggu (19/6), secara sepihak telah membebaskan 276 tahanan dan tawanan di provinsi Baida dan Dhamar, Yaman.

Seperti dilansir situs berita al-Masirah milik Ansarullah, kelompok yang diperangi Arab Saudi dan sekutunya ini telah membebaskan 200 tahanan di provindi Baida dan 76 tawanan provinsi Dhamar.

Pemimpin Ansarullah Abdul-Malik Badreddin al-Houth menyatakan pembebasan ini dilakukan sebagai bentuk aksi kemanusiaan dalam rangkat menyambut bulan suci Ramadhan, sekaligus sebagai bukti bahwa “tindakan ini tak ada kaitannya dengan proses perundingan yang sudah berjalan 60 hari di Kuwait.”

Sebelum ini Ansarullah juga sudah beberapa kali membebaskan tawanan pasukan antek Arab Saudi di beberapa kota Yaman.

Arab Saudi bersama beberapa negara Arab sekutunya sejak Maret 2015 melancarkan serangan ke Yaman untuk membela Presiden Abd Rabbuh Mansour Hadi yang tersingkir oleh revolusi rakyat yang digerakkan oleh Ansarullah.

Saudi semula bersumpah untuk membasmi Ansarullah dalam hitungan minggu, tapi hingga satu tahun beberapa bulan ini Ansarullah yang didukung tentara Yaman loyalis mantan presiden Ali Abdullah Saleh tetap eksis dan solid di Yaman. Karena itu, meskipun perang masih berlanjut, proses perdamaian antarfaksi Yaman yang bertikai lantas diupayakan dan hingga kini terus berjalan alot di Kuwait. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL