rusia-turkiMoskow, LiputanIslam.com – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan ingin memperbaiki hubungan negaranya dengan Rusia, namun keinginan ini ditolak oleh pemerintah Rusia. Demikian dilaporkan oleh beberapa media Rusia, termasuk Izvestia dan Segodnya, Jumat (1/4).

Dilaporkan bahwa Erdogan dalam pidatonya di Brookings Institute, Washington, Amerika Serikat (AS), menyatakan pihaknya ingin memulai kerjasama dengan Rusia untuk mengatasi problematika regional. Dia juga mengaku prihatin atas memburuknya hubungan Ankara – Moskow menyusul penembak jatuhan pesawat pembom Rusia Su-24 oleh pasukan udara Turki di wilayah perbatasan Turki – Suriah pada November 2015.

Erdogan berharap Kremlin dapat memahami perlunya kerjasama Rusia – Turki karena kedudukannya sama-sama penting dalam konstruksi regional.

Namun demikian, harapan Erdogan itu mendapat sambutan negatif dari Moskow. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova dalam jumpa pers mengatakan bahwa Rusia menyukai rakyat Turki dan memiliki hubungan tradisional dengan negara ini, namun Rusia belum bersedia mengubah sikapnya mengenai kerjasama dengan Turki.

Dia menambahkan bahwa Moskow bersedia memulai kerjasamanya dengan Turki dengan syarat Ankara meminta maaf atas insiden penembakan Su-24, membayar ganti rugi, dan berjanji untuk tidak mengulangi aksi tersebut.

Pernyataan senada juga dilontarkan oleh juru bicara Presiden Rusia Dmitry Peskov.

“Semua upaya yang dilakukan oleh negara-negara lain untuk menengahi hubungan Rusia – Turki pasti akan mandul. Semua orang sudah tahu sebab mengapa upaya itu tidak akan membuahkan hasil,” katanya dalam wawancara televisi ketika ditanya mengenai upaya mediasi Azerbaijan.

Dia mengingatkan bahwa Rusia mengajukan beberapa syarat untuk normalisasi hubungan dengan Turki, sebab Ankara di mata Moskow masih belum bersedia mengubah sikapnya terkait peristiwa penembakan pesawat Rusia.

“Setelah menembak jatuh pesawat Rusia, alih-alih menempuh tindakan yang semestinya untuk mengatasi masalah ini, Turki malah berlindung ke NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara),” jelasnya.

Menurut media Rusia, Turki belakangan ini mencoba melunakkan sikap Rusia, termasuk dengan menangkap warga Turki yang bertanggungjawab atas pembunuhan pilot pesawat Rusia yang tertembak jatuh tersebut. Pilot itu sempat menyelamatkan diri dengan menggunakan kursi lontar, tapi kemudian dihujani peluru dari bawah oleh para ekstrimis di wilayah utara Suriah.

Turki menelan kerugian miliaran dolar AS sejak terputusnya kerjasama Turki dengan Rusia, termasuk di sektor pariwisata. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL