pejabat gcc di UEAAbu Dhabi, LiputanIslam.com – Negara-negara koalisi Arab pimpinan Saudi lesu dan frustasi setelah dua negara yang menjadi andalan mereka ternyata menolak terlibat dalam operasi militer bersandi “Badai Mematikan” terhadap Yaman. Demikian dikabarkan situs berita Nahrainet Minggu (12/4).

Media online yang berbasis di Irak ini melaporkan bahwa Menteri Penasehat Urusan Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) Mohammad Anwar Qarqash mengecam sikap pemerintah Islamabad dan Ankara serta menilainya ambigu, plin-plan dan kontradiktif.

Qarqash menganggap sikap Turki dan Pakistan sebagai bukti jelas bahwa keamanan negara-negara Arab dari Libya hingga Yaman sangat mencemaskan.

“Bukti terbaik atas hal ini adalah ujian ini (sikap Turki dan Pakistan),” tulis Qarqash di halaman Twitternya.

Dia menyinggung statemen Menlu Turki Mevlüt Çavuşoğlu bahwa Turki bersikap netral dalam soal Yaman serta sependapat dengan Iran bahwa krisis Yaman harus diselesaikan melalui jalur diplomatik, dan bahwa jalur ini harus diupayakan oleh Saudi, Iran dan Turki sendiri.

“Hubungan dengan Teheran tampaknya lebih penting bagi Islamabad dan Ankara daripada dengan negara-negara Teluk Persia,” keluh Qarqash.

Dia menambahkan bahwa Pakistan meminta negara-negara Arab kawasan Teluk Persia supaya bersikap tegas dan jelas, tapi ternyata sikap Islamabad sendiri yang “ambigu dan kontradiktif” dalam masalah ini. Karena itu, lanjutnya, keamanan dan kondisi kawasan Teluk sedang “diuji” dan “sekarang sudah jelas antara sekutu yang sesungguhnya dan sekutu yang sebatas slogan dan kata.”

Menyinggung keputusan parlemen Pakistan yang setelah beberapa hari menggelar rapat akhirnya menolak keterlibatan negara ini dalam serangan koalisi Saudi ke Yaman, Qarqash meengaskan bahwa Pakistan plin-plan dalam mendukung Saudi, dan ini “berbahaya dan menyalahi harapan”.

Seperti diketahui, Yaman menjadi sasaran serangan udara Saudi dan beberapa negara sekutunya, terutama negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC), kecuali Oman, dengan sandi “Badai Mematikan” sejak 26 Maret lalu. Sebagian laporan menyebutkan korban tewas akibat serangan itu mencapai lebih dari seribu orang, termasuk perempuan, anak kecil dan lansia.

Serangan itu dilakukan sebagai pelampiasan kemarahan Saudi terhadap keberhasilan revolusi rakyat Yaman di bawah komando Houthi menggulingkan pemerintahan Mansur Hadi yang bersekutu dengan Saudi dan Amerika Serikat. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL