Washington, LiputanIslam.com –  Jubir Gedung Putih Sarah Sanders menyatakan bahwa hari ini, Rabu (6/12/2017), Presiden Amerika Serikat (AS) akan membuat pernyataan mengenai status kota Al-Quds (Baitul Maqdis/Yerussalem).

“Saya tahu ada banyak pertanyaan tentang rencana Presiden untuk Yerussalem. Besok dia akan menyampaikan pernyataan (tentang ini),” kata Sanders dalam jumpa pers Selasa kemarin (5/12/2017).

Sebelumnya di hari yang sama Trump dikabarkan telah menghubungi ketua otoritas Palestina mengenai keputusannya untuk memindah Kedubes AS untuk Israel dari Tel Aviv ke Al-Quds.

Pemerintah AS hari itu juga telah memerintahkan kepada para pegawai resminya supaya tidak berkunjung ke kota lama Al-Quds dan Tepi Barat menyusul adanya seruan demonstrasi di tengah merebaknya berbagai dugaan mengenai keputusan yang akan diambil oleh Trump untuk memindah Kedubesnya untuk Israel dari Tel Aviv ke Al-Quds yang berarti pengakuan resmi AS bahwa kota ini merupakan ibu kota bagi Israel.

Trump sendiri pada pekan ini harus membuat keputusan apakah tetap mempertahankan keberadaan Kedubesnya di Tel Aviv, ataukah akan memenuhi janjinya pada saat kampanye pilpres untuk memindahnya ke Al-Quds.

Para pejabat AS mengisyaratkan bahwa Trump tidak akan memindah Kedubes itu secara langsung, melainkan akan menegaskan niatnya untuk berbuat demikian dan bahkan akan bertindak lebih jauh agar Al-Quds diakui sebagai ibu kota Israel.

Berbagai negara, organisasi, dan tokoh dunia mengingatkan AS bahaya kemungkinan Trump mengakui Al-Quds sebagai ibu kota Israel.

Pihak Palestina bersikukuh bahwa Al-Quds Timur merupakan ibu kota bagi negara Palestina yang ingin mereka dirikan. Sikap ini mendapat dukungan dari negara-negara Arab dan Islam. Karena itu, mereka mengingatkan bahwa pengubahan status Al-Quds menjadi ibu kota Israel akan mengundang kemarahan rakyat yang luas dan menamatkan riwayat proses perdamaian.

PresidenTurki, Selasa, mengingatkan Trump bahwa pengakuan AS atas Al-Quds sebagai ibu kota Israel akan membuat Turki berkemungkinan memutus hubungan diplomatiknya dengan Israel.

“Saya katakan kepada Tuan Trump, Al-Quds merupakan garis merah bagi umat Islam, dan jika langkah demikian diambil maka kami akan menyelenggarakan pertemuan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Istanbul, dan menggerakkan dunia Islam melalui aktivitas-aktivitas penting,” katanya.

Faksi Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, menyerukan kepada seluruh anak bangsa Palestina dengan semua faksi dan elemennya agar menjadikan hari Jumat mendatang (8/12/2017) sebagai “hari amarah” untuk menandai penolakan mereka terhadap keinginan Trump mengakui Al-Quds sebagai ibu kota Israel. (mm/rayalyoum/pic)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL