Washington, LiputanIslam.com –  Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampak tanpa beban membuat pernyataan yang merendahkan negara-negara Arab di kawasan Teluk Persia. Dalam konferensi pers bersama sejawatnya dari Perancis, Emmanuel Macron, usai pembicaraan antara keduanya di Washington, AS, Selasa (24/4/2018), Trump menyebut negara-negara itu “tidak akan bertahan barang seminggu” tanpa perlindungan AS, dan karena itu dia meminta mereka mengirim pasukan ke Suriah untuk “mengusir teroris” dan menanggung biaya tambahan untuk mendukung upaya AS di Suriah.

“Negara-negara yang berada di daerah itu, beberapa di antaranya sangat kaya, tidak akan ada di sana tanpa AS, dan pada tingkat yang lebih rendah Prancis… Mereka tidak akan ada di sana kecuali karena AS. Mereka tidak akan bertahan barang seminggu. Kami melindungi mereka. Mereka sekarang harus meningkatkan dan membayar apa yang terjadi.”

Dia juga memandang negara-negara Teluk tidak akan kaya tanpa perlindungan AS.

“Negara-negara ini tidak akan kaya tanpa proteksi AS, dan kami tidak dapat menanggung peningkatan biaya keberadaan militer kami di kawasan. Kami telah membayar lebih dari US$ 7 triliun, dan tidak mendapat imbalan apa-apa… Negara-negara yang sangat kaya di kawasan akan membayar tambahan dana di Suriah, sedangkan kami sendiri tidak akan terus membayar, saya ingin tentara kami pulang ke negerinya,” ujar Trump.

Mengenai keberadaan Iran di Suriah dia mengatakan, “Kami tidak akan memberi Iran kesempatan untuk mencapai Laut Tengah, kami akan memulangkan pasukan (ke AS) dalam waktu dekat ini, dan kami telah melakukan tindakan besar terhadap IS (ISISI di Suriah dan Irak.”

Di pihak lain, menyinggung perjanjian nuklir Iran, Presiden Macron mengatakan, “Perjanjian nuklir Iran tak dapat dikoyak tanpa ada kerangka alternatif yang lebih luas dari perjanjian sekarang.”

Kepada Trump dia mengatakan, “Anda meyakini bahwa perjanjian Iran sangat buruk, sedangkan saya mengatakan bahwa perjanjian ini tidak ideal, tapi ini memungkinkan kita untuk tidak memperkenankan Iran melakukan aktivitas nuklir sampai tahun 2025, demikian pula halnya pembatasan aktivitas (rudal) balistik, dan penciptakan situsi yang kondusif bagi inisiasi penyesaian secara politik untuk pembatasan aktivitas Iran di kawasan.” (mm/ washingtonexaminer/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL