Baghdad, LiputanIslam.com –  Kekejaman kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) membuat kaum perempuan Irak di kota Fallujah, provinsi Anbar, ketakutan sehingga ada bahkan sampai tega membunuh anak-anaknya sendiri. Demikian dikatakan warga yang berhasil melarikan diri kota ini, sebagaimana dilaporkan Times, Kamis (2/6).

Lembaga-lembaga bantuan kemanusiaan menyatakan sebanyak 50,000 penduduk tertahan di Fallujah dengan kondisi kelaparan dan tercekam teror selama dua tahun di bawah pendudukan ISIS atas kota tersebut, dan dikhawatirkan banyak di antara mereka yang dijadikan perisai oleh kelompok bejat itu dalam menghadapi serbuan pasukan Irak.

Di Falllujah ada sekitar 20,000 anak kecil, dan penduduk mengatakan bahwa para teroris memaksa anak yang berusia 12 tahun ke atas ikut berperang membantu mereka.

Dalam wawancara dengan badan pengungsi PBB, Rabu (1/6), beberapa warga yang berhasil melarikan diri dari Fallujah, 50 km barat Baghdad, mengaku melihat ada ibu-ibu yang membunuh anak-anak mereka.

Seorang warga yang masih berada di Fallujah mengatakan sedikitnya ada tiga kasus bunuh diri dalam dua bulan terakhir.

“Warga mulai menderita ketika ISIS menutup jalur keluar dari kota ini. Mereka mulai menderita masalah kejiwaan dan beberapa di antara mereka bunuh diri,” ungkap seorang wanita bernama Alahin kepada pekerja PBB di kamp pengungsi.

Dia menambahkan, “Ada warga yang membakar diri mereka sendiri. Demi Allah, ada warga yang menenggelamkan anak-anak mereka, dan ada yang mencampakkan anak-anaknya sendiri di jalanan karena mereka tak memiliki makanan.”

Pejabat PBB mengaku tak dapat memverifikasi laporan itu, tapi memastikan bahwa ada trauma kejiwaan yang parah di tengah warga yang telah diwawancara.

Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi di Baghdad Caroline Gluck mengatakan, “Sebagian warga sedemikian berputus asa sehingga menelantarkan anak-anak mereka karena tak bisa merawat.  Beberapa orang telah mencoba bunuh diri karena tidak melihat masa depan dan tak ada jalan keluar… Apakah Anda tinggal dan menghadapi kematian, atau anda pergi dan menghadapi kematian? Ini adalah situasi tanpa kemenangan. ”

Christoph Wilcke, periset  Human Rights Watch (HRW) mengaku pertama kali mendengar kasus bunuh diri pada Maret lalu.

“Kami diberitahu bahwa ada dua perempuan, misalnya, melemparkan diri dan anak-anaknya ke Sungai Eufrat. Kami mendapatkan rekaman video penemuan tiga mayat, satu dewasa dan dua anak kecil, dari sungai. Kami menunjukkan rekaman itu kepada penduduk dan mereka membenarkan bahwa itu adalah kasus bunuh diri,” katanya.

Seperti diketahui, sejak pekan lalu tentara dan polisi Irak yang didukung relawan al-Hasdh al-Shaabi dan kelompok-kelompok pasukan adat setempat melancarkan operasi besar-besaran untuk membebaskan Fallujah yang diduduki ISIS sejak 2014.

Al-Alam melaporkan bahwa Perdana Menteri Irak Haider Abadi menegaskan tak ada penundaan dalam operasi pembebasan Fallujah. Dia berjanji bendera Irak akan segera berkibar di sana. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL