Dahuk, LiputanIslam.com –  Shahd Khodr Mirza, 16 tahun, gadis minoritas Yazidi Irak korban kebiadaban kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menghembuskan nafas terakhir  di sebuah rumah sakit di Dahuk, wilayah Kurdistan Irak, Selasa (8/2/2017).

Dia meninggal akibat gagal jantung akut setelah berhasil kabur dari kawanan teroris bengis berfaham Wahabi tersebut. Derita itu diduga akibat tekanan fisik dan mental selama sekian tahun diperbudak oleh ISIS.

ISIS menculik korban bersama sejumlah anggota keluarganya yang hingga kini tak jelas nasibnya, yaitu ayah, empat saudara laki, dan dua adik perempuannya yang masih kecil, sedangkan ibunya lolos dari penculikan karena berada di rumah pamannya di desa Burk di utara Gunung Sinjar saat penculikan terjadi.

“Tubuhnya tak tahan menanggung derita penyiksaan dan pemerkosaan biadab…ISIS memperlakukannya dengan sangat keji dan membuatnya nyaris melahirkan anak. Dia keguguran dan menderita sakit jantung akibat pemukulan yang terjadi sehari-hari dan berkelanjutan,” kata seorang anggota kerabatnya, seperti dikutip laman Ezdina.

Farida Fleit dari  LSM Yazda yang peduli kepada minoritas Yazidi mengatakan bahwa selama disandera sekian tahun Shahd terus menjadi korban pemerkosaan beberapa anggota ISIS.

Mengutip pernyataan Shaher, 12  tahun, adik laki-laki korban, Farida menjelaskan bahwa Shahd diculik di depan sekolahnya di Tal Afar pada tahun 2014 oleh seorang pria Irak anggota ISIS. Shaher sendiri juga diculik saat itu.

Setelah orang tersebut memperkosa dan menyiksa, Shahd dijual di Suriah kepada seorang anggota ISIS bernama Abu Khalil al-Baghdad. Shaher dipisahkan dari kakaknya dan dibawa ke sebuah kamp ISIS di Suriah.

Shahd dan adik laki-lakinya tersebut berhasil kabur saat orang yang membeli Shahd, Abu Khalil yang juga anggota ISIS, memindahkan mereka ke daerah lain di Suriah dan dalam perjalanan ketika melewati sebuah lokasi yang dikuasai oleh milisi Kurdi.

Shahd dan Shaher kemudian dibawa ke Irak dan tiba di Kota Khan Sour pada tanggal 5 Januari. Menurut Farida, Shahd segera dipindahkan ke rumah sakit tiga hari sebelum meninggal.

Tragisnya lagi, hingga kini belum jelas bagaimana nasib ayah serta empat saudara laki-laki dan dua adik perempuan yang  juga diculik oleh ISIS ketika Shahd diculik. Sedangkan Shaher kini tinggal bersama ibu dan pamannya yang berharap dapat mengetahui bagaimana nasib para korban lainnya. (mm/alalam/alarabiya)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*