London, LiputanIslam.com – Presiden Sudan Omar Al-Bashir menyatakan penolakannya terhadap konfrontasi politik maupun militer antara Arab dan Iran. Hal ini dinyatakan usai pertemuan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, di Moskow, seperti dilansir Ray Al-Youm yang bermarkas di London, Inggris, Sabtu (25/11/2017).

Al-Bashir juga menegaskan bahwa krisis di Timteng terjadi akibat campurtangan Amerika Serikat (AS) dan Eropa yang juga telah andil memecah belah Sudan.

Statemen ini dia nyatakan tak lama setelah Putera Mahkota Arab Saudi Mohammad Bin Salman melontarkan pernyataan pedas terhadap Iran dengan menyebut Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei sebagai “Hitler” baru yang berambisi menghancurkan Timteng.

Menurut pemimpin redaksi Ray Al-Youm, Abdel Bari Atwan, pernyataan ini menandai perceraian Sudan dari koalisi Arab pimpinan Saudi, merupakan perkembangan yang bobotnya dengan ketika Sudan bergabung dengan koalisi yang menyerang Yaman ini, dan menunjukkan bahwa Sudan kembali ke posisi semula sebelum Saudi mengobarkan perang terhadap Yaman, yakni berpihak pada poros muqawamah (resistensi anti Zionis Israel).

Menariknya lagi, Al-Bashir tanpa tedeng aling-aling mengatakan, “Tak ada perdamaian di Suriah tanpa kebertahanan Bashar Al-Assad dalam pemerintahan.”

Atwan berpendapat bahwa Sudan tak lama lagi akan atau bahkan bisa jadi sudah mulai menarik pasukannya dari perang Yaman.

Dalam dalam pertemuan dengan Putin di kota Sochi, Rusia, Kamis (23/11/2017), Al-Bashir telah meminta Negeri Beruang Merah ini menjalin hubungan militer dengan Sudan dan melindungi Sudan dari agresivitas AS.

“Saya sudah lama memimpikan kunjungan ini… Kami sangat berterima kasih atas posisi Rusia di arena internasional, termasuk posisi Rusia dalam melindungi Sudan. Kami membutuhkan perlindungan dari aksi-aksi agresif AS,” katanya kepada Putin.

Seperti diketahui Al-Bashir adalah buronan Mahkamah Kejahatan Internasional karena didakwa bertanggungjawab atas genosida dan kejahatan perang dalam peristiwa konflik Darfur tahun 2003 yang, menurut PBB, menewaskan sedikitnya 300,000 orang dan membuat lebih dari 2.5 juta orang mengungsi. (mm/rayalyoum/dailynation/france24)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL