Foto: Press TV

Baghdad, LiputanIslam.com –  Seorang tokoh senior kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang diringkus oleh pasukan keamanan Irak telah mengungkap berbagai fakta mencengangkan mengenai tumbuhnya ISIS dan sosok pemimpinnya, Abu Bakar al-Baghdadi.

Tokoh bernama Ismail Alwan Salman al-Ithawi alias Abu Zaid al-Iraqi yang andil besar dalam penyusunan ideologi ISIS itu adalah sosok dosen bidang ilmu keislaman di sebuah institusi pendidikan tinggi yang semula bernama Universitas Saddam pada tahun 2003 dengan gelar doktor yang dia dapat dari universitas yang sama.

Sebagaimana dilansir al-Sumaria, Senin (10/9/2018), Al-Ithawi mengaku mulai menjalin hubungan dengan kelompok-kelompok bersenjata setelah diktator Iran Saddam Hussain terguling pada tahun 2003. Di situ dia memberikan “pengarahan syar’i dan fatwa” untuk “Brigade Fathi al-Jibouri” yang berkonfrontasi dengan pasukan keamanan Irak dan tentara Amerika Serikat (AS). Dia juga menjabat sebagai imam Masjid Jami’ al-Ghufron serta menyeru penduduk supaya bergabung dengan kelompok-kelompok bersenjata.

Pada awal tahun 2006 para ekstremis dari berbagai negara dunia mengalir ke ke brigade itu sehingga kelompok-kelompok bersenjata di kawasan lantas sepakat menyatukan barisan di bawah satu bendera, yaitu bendera jaringan teroris tersohor al-Qaeda, sebelum kemudian bendera ISIS dengan skala organisasi yang lebih luas.

Pada tahun 2008 al-Ithawi ditangkap oleh pasukan AS ketika dalam perjalanan menuju provinsi Salahuddin dan mendekam dalam penjara selama lima tahun. Dia dibebaskan pada tahun 2013 lalu bergerak ke provinsi Nineveh dan segera masuk ke dalam komponen ISIS.

Dari situ dia pindah ke provisni Anbar kemudian ke Suriah, tepatnya kota Raqqa. Di kota inilah dia pertama kali berjumpa dengan Abu Bakar al-Baghdadi yang datang ke “ibu kota kekhalifahan” itu untuk berpidato di depan para anasir ISIS. Sejak itu dia mulai melibatkan diri di ranah pendidikan ISIS dan menjadi anggota Dewan Komisaris ISIS yang merupakan lembaga tertinggi ISIS yang berhubungan langsung dengan al-Baghdadi. Tapi dia terkendala oleh berbagai persoalan akibat perbedaan pendapatnya dengan para petinggi ISIS lain, termasuk al-Baghdadi sendiri.

Menurut al-Ithawi, al-Baghdadi sendiri bukanlah orang yang memiliki kompetensi ilmiah untuk “menyusun pemikiran dan membuat keputusan yang paling sahih.” Al-Baghdadi juga tak yakin sepenuhnya kepada orang-orang sekitarnya, terutama setelah terjadi kasus kaburnya “pejabat badan zakat” ISIS bersama dana sekira US$ 350,000, dan dia meminta orang-orang terdekatnya untuk mengendalikan ISIS karena kondisi kesehatannya memburuk.

Al-Ithawi memastikan al-Baghdadi juga bukan orang yang berkompeten memimpin ISIS, apalagi dengan status “khalifah”. Dia memimpin hanya karana faktor kebetulan, bukan karena kompetensi, setelah pendahulunya, Abu Umar al-Baghdadi, terbunuh.

Al-Ithawi mendekam dalam penjara ISIS selama beberapa bulan. Dia bebas setelah ISIS kalah dan kehilangan sebagian besar wilayahnya dan terjadi pembebasan semua tahanan. Dia kemudian memutuskan untuk tidak kembali kepada pekerjaannya, melainkan berusaha kabur ke Turki melalui wilayah Suriah, tapi tertangkap oleh tentara Suriah karena tidak mengantongi dokumen resmi. Dia kemudian diekstradisi ke Irak dan diringkus oleh pasukan Irak segera setelah keluar dari Bandara Baghdad. (mm/alsumaria)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*