Sanaa, LiputanIslam.com –   Gerakan Ansarullah Yaman (Houthi) menggelar parade akbar di Sanaa, ibu kota Yaman, Kamis (21/9/2017), untuk menandai peringatan tiga tahun keberhasilan mereka menguasai Sanaa, ibu kota Yaman. Pada momen ini Ansarullah kembali melontarkan pernyataan-pernyataan pedas terhadap Arab Saudi yang memimpin serangan koalisi Arab terhadap Yaman sejak tahun 2015.

Seperti ditayangkan AFP, ratusan ribu orang berdatangan ke  al-Sabin Square di pusat kota Sanaa dengan sistem pengamanan ekstra ketat, sementara jet-jet tempur pasukan koalisi Arab pimpinan Saudi terbang di angkasa kota.

Sejumlah peserta acara ini membawa bendera Yaman, sementara kelompok paduan suara yang terdiri atas sejumlah pria berpakaian tradisional serba putih melantunkan lagu-lagu mars perjuangan.

Abdul Aziz Bin Jabtur, kepala pemerintahan “Penyelematan Nasional” yang dibentuk oleh Ansarullah, di tengah massa parade menegaskan, “Dari bundaran yang diberkahi ini kita akan membebaskan seluruh tanah Yaman.”

Dia mengecam “pendudukan secara langsung  Saudi dan Uni Emirat Arab” atas sebagian provinsi Yaman.

“Kami pantang mundur dalam pembebasan wilayah kami,” imbuhnya.

Pada siang hari Minggu 21 September 2014 Ansarullah melalui pergerakan militer secara cepat yang didukung oleh tentara loyalis Mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh berhasil menduduki gedung-gedung pemerintahan di Sanaa dan menguasainya tanpa kontak senjata besar.

Lima bulan kemudian Ansarullah yang dituduh mendapat dukungan dari Iran menguasai Istana Presiden di Sanaa dan membentuk dewan pemimpin. Sebulan kemudian, pemerintahan dan Presiden Abd Rabbuh Mansour Hadi yang diakui di luar negeri kabur ke kota Aden di Yaman selatan dan menyebut kota ini sebagai ibu kota sementara, sebelum kemudian kabur ke Riyadh, ibu kota Saudi, kemudian kembali lagi ke Sanaa.

Konflik Yaman merebak setelah Saudi memimpin aliansi Arab dan melancarkan serangan militer pada Maret 2015 menyusul keberhasilan Ansarullah menguasai banyak kawasan di negara miskin ini. Ansarullah menguasai sebagian besar provinsi Taiz yang sebagian di antaranya dikuasai oleh pasukan pendukung Mansour Hadi yang dibela oleh aliansi Arab.

Sejak itu pertempuran berkobar hebat dan diwarnai serangan udara besar-besaran  dan menghancurkan oleh Saudi dan sekutunya di Yaman yang terbelah menjadi dua bagian, satu dikuasai oleh Ansarullah dan sekutunya di utara, dan yang lain dikuasai oleh pasukan loyalis Mansour Hadi di selatan.

Pada 14 September 2017, pemimpin Ansarullah Abdel Malik al-Houthi, 38 tahun, mengancam akan merudal Uni Emirat Arab dan melancarkan serangan laut terhadap instalasi dan tanker-tanker minyak Saudi.

Menurut catatan PBB, sejak Saudi dan sekutunya melancarkan invasi militer ke Yaman, sebanyak lebih dari 8500 orang, minimal 1500 di antaranya anak kecil, tewas dan 49,000 lainnya luka-luka terkena serangan udara aliansi Arab.

Selain itu, terjadi pula wabah kolera yang telah merenggut lebih dari 2000 korban jiwa sejak April 2017, dan lembaga Palang Merah Internasional bahkan kuatir jumlah orang yang terjangkit wabah penyakit mematikan ini akan membengkak menjadi 850,000 pada akhir tahun ini. Pihak Ansarullah menyatakan wabah ini sengaja ditebar oleh Arab Saudi. (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL