isil1London, LiputanIslam.com – Kelompok ekstrimis produk al-Qaida yang bernama Daulat Islam Irak dan Suriah (ISIS) dilaporkan telah menjelma menjadi organisasi terkaya akibat dukungan dana secara besar-besaran di para donator di negara-negara kawasan Teluk Persia.

Harian The Times terbitan Inggis memberitakan bahwa jutaan Dolar AS telah mengalir ke pundi-pundi ISIS dari berbagai kalangan swasta di negara-negara Teluk Persia, dan kalangan ini berjanji masih akan terus menyuntik ISIS dengan jutaan Dolar AS lagi agar kelompok ekstrim ini dapat mempertahankan kobaran krisis di Suriah.

The Times juga menyebutkan bahwa Inggris yang sempat membatasi bantuan dananya ke ISIS menyusul tersiarnya laporan mengenai kekejaman kelompok ini di Suriah kini mulai menggalakkan lagi bantuan dananya sehingga kelompok ini menjelma menjadi organisasi yang paling kaya.

“ISIS memiliki rekening-rekening bank senilai 1,2 miliar Pound Sterling, dan kini ISIS sudah mendekati kemandirian di bidang keuangan,” tulis The Times, seperti dikutip al-Alam Sabtu (21/6/2014).

Menurut The Times, kelompok yang memiliki ribuan anggota di Irak dan Suriah itu didukung dana sedemikian besar sehingga dapat menggaji atau memberi upeti kepada kelompok-kelompok adat serta sebagian pejabat.

Koran ini menambahkan bahwa para donatur teroris di berbagai negara Arab Teluk Persia telah mengalirkan dana besar sejak akhir tahun 2011, namun pemerintah negara-negara tersebut menyepelekan dan membiarkan hal ini berkelanjutan.

Untuk diketahui, para ekstrimis berdatangan ke Suriah sejak negara ini untuk dilanda pemberontakan pada tahun 2011. Semula pemerintah Suriah sempat kewalahan menghadapi pemberontakan, namun belakangan tentara Suriah berhasil menumpas para pemberontak dan militan ekstrimis di sebagian besar wilayah Suriah.

Dewasa ini ISIS sebagai salah satu kelompok ekstrim terbesar di Suriah beralih memusatkan operasi terornya di wilayah utara Irak. Mereka sempat menguasai banyak kawasan, terutama kota Mosul, namun belakangan mereka terus dipukul mundur pasukan Irak, pasokan kelompok-kelompok adat dan relawan di berbagai kawasan. Pasukan relawan Irak kini terus tergalang untuk mendukung operasi militer Irak menumpas teroris dan memenuhi seruan jihad melawan teroris yang dikumandangkan oleh para pemuka agama negara ini, khususnya Grand Ayatullah Sayid Ali al-Sistani.

Sementara itu, Press TV melaporkan bahwa massa dalam jumlah besar yang terdiri atas penduduk dan imigran di Australia menggelar unjuk rasa di kota Sidney, Sabtu (21/6/2014). Mereka yang berasal dari berbagai komunitas agama dan etnis itu mengutuk aksi militan ISIS di Irak serta mendukung perjuangan pemerintah dan rakyat Irak melawan teroris.

Massa menegaskan bahwa apa yang terjadi di Irak bukanlah konflik antara Sunni dan Syiah sebagaimana diklaim ISIS dan diberitakan oleh media Barat, melainkan konflik ISIS dengan pemerintah dan militer Irak.

Massa juga mendesak pemerintah Australia agar mengirim bantuan kemanusiaan ke Irak dan berusaha mencegah para takfiri lokal Austria terlibat dalam kampanye mendukung terorisme ISIS. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL