London, LiputanIslam.com – Mental pasukan kubu loyalis presiden tersingkir Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi melemah drastis karena mereka tak menerima gaji selama sembilan bulan sehingga sebagian dari mereka bahkan tak segan-segan menjual senjata atau informasi kepada kelompok Ansarullah (Houthi) atau kepada kelompok teroris Al-Qaeda demi mendapatkan uang. Demikian dikatakan kepala staf angkatan bersenjata kubu loyalis Hadi, Mayjen Taher Al-Aqili, seperti dilansir majalah The Economist terbitan Inggris dan dikutip laman berita Aljazeera, Sabtu (6/1/2017).

Aqili mengatakan kepada The Economist bahwa pihaknya telah mengajukan permohonan kepada pasukan koalisi Arab pimpinan Saudi supaya dibekali senjata berat untuk menghadapi kelompok Houthi, tapi koalisi ini sama sekali tidak atau belum meresponnya.

Menurut The Economist, ada pihak-pihak yang memanfaatkan situasi dewasa ini di Yaman, dan bahwa orang-orang yang dijuluki sebagai  “amir perang” justru telah menguasai sendiri bantuan-bantuan kemanusiaan.

Al-Aqili dilaporkan terkena ledakan ranjau darat, Jumat (5/1/2017), ketika sedang melakukan inspeksi pasukan di kawasan Jawf di timur laut Yaman.  Sumber lokal mengatakan mengatakan kepada Aljazeera bahwa bahwa Al-Aqili menderita cidera patah tulang dan memar ringan di bagian lutut, namun dilarikan ke Saudi untuk mendapat perawatan.

Sudah hampir tiga tahun Yaman dilanda perang antara Houthi di satu pihak dan kubu loyalis Hadi yang didukung serangan udara pasukan koalisi pimpinan Saudi di pihak lain sejak Houthi berhasil menguasai Sanaa, ibu kota Yaman, pada September 2014. (mm/aljazeera)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*