jordania-turkeyBeirut, LiputanIslam.com – Sebuah surat kabar yang berbasis di Lebanon Jumat (04/04) mengungkap keberadaan “jembatan udara” yang membentang dari Jordania ke Turki untuk memindah gerilyawan bersenjata dari Jordania ke wilayah perbatasan Turki dengan Suriah. Mereka dipindah setelah sebelumnya mendapat pelatihan militer secara intensif di wilayah Jordania. Dengan demikian, dalam pertempuran terkini gerilyawan anti pemerintah Suriah tidak hanya didukung Turki, melainkan juga dibeking oleh Jordania yang juga negara jiran Suriah.

Surat kabar bernama al-Akhbar itu menyebutkan bahwa para “jihadis” itu dipindah dari selatan ke utara tak lain untuk memperkuat posisi milisi yang berlaga melawan tentara Suriah di wilayah utara Provinsi Latakia, Suriah.

Menurut al-Akhbar, keberadaan “jalan layang” itu didukung oleh banyak data dan keterangan yang menunjukkan bahwa Jordania ternyata sangat aktif dan intensif menyokong gerilyawan yang bertempur di wilayah Kassab, Suriah, dan sekitarnya. “Data-data itu menyebutkan bahwa jembatan ini mulai aktif dengan memindah ratusan personil jihadis dari Bandara Marka, Amman, Jordania, ke Bandara Hatay (Antokia), Iskenderun, Turki. Menurut keterangan sumber oposisi Suriah, dalam tiga hari terakhir saja terdapat lebih dari 1,000 jihadis telah diboyong untuk segera terjun dalam pertempuran sengit di Latakia utara,” tulis al-Akhbar.

Al-Akhbar menambahkan bahwa gerilyawan itu berasal dari berbagai negara, termasuk Arab Saudi, Jordania dan Suriah, dan sebagian gerilyawan yang itu telah mendapat pelatihan intensif di kawasan al-Rasifa di utara Amman.  “Pelatihan dan transportasi itu,” lanjut al-Akhbar, “tentu tidak mungkin dapat dilakukan kecuali dengan kordinasi dinas intelijen Jordania dan pengawasan langsung Amerika Serikat. Sumber itu juga menyebutkan bahwa jembatan itu menjadi rencana alternatif bagi pembukaan front pertempuran dari wilayah Jordania, sebagaimana dispekulasikan sejak lama. Dengan adanya altelnatif demikian – yang bisa jadi justru merupakan rencana awal –  Jordania praktis terhindar dari dampak pembukaan front dari wilayahnya, hal yang agaknya terlampau besar resikonya bagi Jordania.”

Menurut al-Akhbar, setelah tiba di Turki para gerilyawan yang datang dari Jordania itu bergabung dengan rekan-rekan mereka yang sebagian besar adalah para petempur asal Cechnya yang sangat terlatih dan berpengalaman. Setelah itu mereka dikerahkan secara untuk kontinyu untuk masuk ke medan laga melalui perbatasan Turki.

“Hal ini diasumsikan dapat menghasilkan perubahan yang cepat dan intensif bagi kondisi pertempuran, namun sampai sekarang ternyata tidak menghasilkan kontrol yang efektif dan stabil atas berbagai titik dan posisi strategis. Peta kontrol dapat berubah dengan cepat hanya dalam hitungan jam sebagaimana terjadi di beberapa titik, terutama Observatory 45 yang sangat strategis,” tulis al-Akhbar.

Pertempuran sengit masih berlangsung di sekitar Observatory 45 di Latakia. Dalam perkembangan terbaru dilaporkan bahwa komandan milisi Gerakan Islam Syam asal Mesir, Ahmad Mazin alias Abu Safiah al-Misri, tewas di tangan tentara Suriah. Berbagai kelompok bersenjata anti pemerintah Suriah masih terus berusaha merebut kembali Observatory 45. Pertempuran juga masih berlanjut di wilayah Jabal al-Nasr, Saudah, Beit Sharuq dan Hadira di provinsi Latakia. (mm/alakhbar/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL