Damaskus, LiputanIslam.com –  Kawanan teroris di Suriah menggunakan senjata dan kekerasan untuk menghalangi evakuasi warga sipil dari distrik Ghouta Timur di pinggiran Damaskus, ibu kota Suriah.

Militer Rusia menyatakan bahwa kawanan teroris menembaki jalur evakuasi warga sipil dari daerah tersebut beberapa jam setelah pemberlakuan jeda kemanusiaan untuk membantu warga menyelematkan diri dari kawasan yang dikuasai oleh militan tersebut.

Presiden Rusia Vladimir Putin Senin lalu memerintahkan pelaksanaan gencatan senjata lima jam sehari di Ghouta Timur sejak Selasa dan penyediaan koridor kemanusiaan untuk digunakan warga sipil meninggalkan kawasan tersebut.

Namun, seperti dilaporkan kantor berita Rusia, kepala kelompok yang mengendalikan zona de-eskalasi di wilayah tersebut, Viktor Pankov,  Selasa (27/2/2018), menyatakan tidak ada satupun warga sipil yang dapat meninggalkan daerah tersebut melalui koridor di pemukiman Vafidin.

“Pada pukul 9 pagi 27 Februari sebuah koridor kemanusiaan dibuka sebagai pintu keluar warga sipil dari zona de-eskalasi. Sekarang serangan intensif sedang berlangsung dari pihak militan dan tidak ada warga sipil yang beranjak,” ujar Pankov.

Pasukan pemerintah Suriah yang dibantu tentara Rusia telah menciptakan kondisi yang diperlukan agar warga sipil dapat diterima dengan selamat di Vafidin, dan di sana tersedia fasilitas perawatan medis. Sejumlah armada bus telah disiagakan untuk membawa warga sipil ke penampungan sementara.

Kelompok militan takfiri Jaish al-Islam yang bercokol di pinggiran Damaskus itu membantah telah melakukan penembakan terhadap jalur tersebut.

PBB melaporkan bahwa pertempuran berkecamuk di Ghouta Timur pada hari Selasa, meskipun ada pemberlakuan gencatan senjata selama lima jam.

“Jelas situasi di lapangan tidak seperti konvoi yang bisa masuk atau evakuasi medis bisa keluar,” ungkap juru bicara kemanusiaan PBB Jens Laerke di Jenewa, Swiss.

Gencatan senjata itu diberlakukan tiga hari setelah Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat menyetujui resolusi yang menuntut pemberlakuan gencatan senjata selama 30 hari “tanpa penundaan” untuk memungkinkan akses bantuan dan evakuasi medis.

Ghouta Timur, daerah yang terkepung di pinggiran kota Damaskus dan dihuni oleh sekitar 400.000 orang, diwarnai aksi kekerasan dalam beberapa hari terakhir. Dari kawasan itu kawanan teroris yang disponsori asing melancarkan serangan mortir ke Damaskus untuk menebus kekalahan, namun Barat selalu saja menyalahkan pemerintah Suriah dan Rusia atas kondisi tersebut. (mm/presstv/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*