rudal scud yamanSanaa, LiputanIslam.com –   Juru bicara militer Yaman, Brigjen Sharaf Ghalib Luqman, menyatakan bahwa pasukan perlawanan rakyat Yaman akan menyerang tiga kota Arab Saudi, yaitu Abha, Jeddah dan bahkan Riyadh. Demikian dilaporkan situs berita al-Masirah milik Ansarullah, Minggu (6/9).

Menyinggung serangan rudal pasukan Yaman yang menewaskan 60 tentara Uni Emirat Arab, Bahrain dan Arab Saudi belum lama ini, Luqman mengatakan, “Militer Yaman profesional dan terlatih dengan baik serta memiliki kapasitas yang besar.”

Seperti pernah diberitakan, tentara dan pasukan rakyat Yaman dalam sebuah operasi khusus di kawasan Safir, provinsi Marib, belum lama ini telah menembakkan rudal Tochka yang selain membunuh puluhan “pasukan agresor” juga telah menghancurkan beberapa mobil lapis baja, pesawat tempur dan helikopter Apache milik UEA. (Baca: Diamuk Rudal Balistik Yaman, 45 Tentara Emirat dan 5 Tentara Bahrain Tewas )

Dalam wawancara telefon dengan surat kabar al-Akhbar, Luqman mengatakan bahwa serangan mendatang rudal Scud dan Tochka pasukan Yaman akan lebih sengit dan telak.

“Kami sekarang ingin menerapkan strategi balasan setimpal. Seharusnya strategi ini diterapkan sejak awal, tapi saat itu pihak pimpinan kami memiliki pertimbangan lain… Reaksi setimpal menuntut kesiapan dari kami… dan sekarang kami sudah siap. Kami memiliki pasukan yang terlatih, profesional dan berkemampuan untuk menggempur sasaran dengan tepat,” paparnya. rudal tochka yaman

Dalam peristiwa terbaru yang dilaporkan Saba, beberapa tentara Saudi tewas terkena gempuran roket pasukan Yaman terhadap beberapa pangkalan militer Saudi. Selain itu, dua mobil militer di pangkalan militer al-Mashfaq dan satu gudang senjata dan amunisi di kawasan al-Tiwal, Jizan, Arab Saudi, juga hancur diterjang roket pasukan Yaman.

Unjuk Rasa di Riyadh

Sementara itu, sekelompok massa yang terdiri atas keluarga tentara Saudi menggelar unjuk rasa di depan gedung Kementerian Pertahanan (Kemhan) Saudi, Riyadh, memrotes penugasan anak-anak mereka untuk berperang di Yaman, Sabtu lalu (5/9).

Alwaienews melaporkan bahwa massa yang terdiri atas puluhan orang itu sebagian besar adalah keluarga tentara Saudi yang tewas dan yang terluka dalam perang Yaman. Mereka mengungkapkan kesedihan mereka atas tumpahnya darah anak-anak mereka demi sesuatu, yang menurut mereka, tak jelas dan yang tak ada kaitannya dengan kepentingan anak-anak mereka maupun dengan negara Saudi. Mereka menyatakan pemerintah Saudi harus bertanggungjawab atas tumpahnya darah tentara Saudi dalam Perang Yaman.

Unjuk rasa ini terjadi menyusul santernya pemberitaan mengenai semakin banyaknya tentara Saudi yang tewas dan luka dalam perang Yaman.

Para saksi mata mengatakan tidak ada satupun petinggi Kemhan Saudi yang keluar dari gedung untuk mendengarkan tuntutan para pengunjuk rasa. Massa berkonsentrasi selama beberapa jam dalam kondisi demikian hingga akhirnya membubarkan diri.

Sanaa Digempur Lagi

Minggu pagi (6/9), sebagaimana dilaporkan al-Youm7, beberapa jet tempur pasukan koalisi Arab pimpinan Saudi kembali memulai serangannya terhadap posisi-posisi milisi Ansarullah dan pasukan pendukung mantan presiden Ali Abdullah Saleh di Sanaa, ibu kota Yaman.

Penduduk setempat mengatakan bahwa jet tempur koalisi menggempur markas Brigade I Pasukan Lapis Baja, Universitas al-Iman yang dijadikan Ansarullah sebagai gudang senjata, dan beberapa sasaran lain di bagian barat Sanaa hingga menimbulkan kepulan asap tinggi di angkasa.

Menurutnya, mesin-mesin penangkis serangan udara pasukan Ansarullah dan pasukan pendukung Ali Abdullah Saleh juga berkecamuk memuntahkan peluru ke angkasa.

Sumber-sumber rumah sakit Yaman menyatakan puluhan warga sipil terbunuh akibat gempuran Saudi dan sekutunya terhadap Sanaa.  Sedangkan sumber di Departemen Kesehatan Yaman, menyatakan bahwa Rumah Sakit al-Sab’in milik negara di Sanaa berhenti beroperasi akibat gencarnya serangan koalisi Arab terhadap Sanaa, sehingga pasien dipindah ke rumah sakit lain.

Pasukan udara Saudi dan sekutunya yang tergabung dalam koalisi Arab menebar bom di Yaman sejak Maret lalu setelah pemerintahan presiden Abd Rabbuh Mansur Hadi yang bersekutu dengan rezim Riyadh terdepak oleh revolusi rakyat yang digerakkan oleh milisi Ansarullah (Houthi).

Riyadh bersumpah untuk menumpas Ansarullah dan memulihkan pemerintahan Hadi, namun sudah lima bulan milisi Ansarullah yang didukung tentara Yaman terus bertahan. Ribuan korban jiwa melayang akibat serangan Saudi, termasuk kaum perempuan, anak kecil dan lansia.  (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL