Damaskus., LiputanIslam.com –   Lembaga Observatorium Suriah untuk HAM yang dekat dengan pihak oposisi menyatakan bahwa Pasukan Arab Suriah (SAA) menguasai 25% wilayah Ghouta Timur di pinggiran Damaskus, namun sumber Suriah di lapangan, Minggu (4/3/2018), menyebutkan angka 40%.

Sumber  militer itu menjelaskan bahwa SAA menyerang dan bergerak maju dari beberapa arah sehingga banyak kawanan teroris yang tewas di kawasan pertanian dan beberapa distrik pada arah Harasta dan Duma. Selain itu, beberapa markas, terowongan, dan kubu pertahanan, dan peralatan tempur teroris hancur.

Bersamaan dengan ini  SAA masih menyediakan jalur khusus yang aman bagi keluarnya warga sipil dari Ghouta Timur, namun warga masih tertahan di sana dan dijadikan sebagai tameng oleh kawanan bersenjata.

Presiden Suriah Bashar Assad menginstruksikan kontinyuitas operasi militer di kawasan yang dikepung oleh tentara tersebut.

“Kami harus melanjutkan operasi ini bersamaan dengan dibukanya peluang bagi warga untuk keluar,” tegasnya kepada wartawan.

Tentara Suriah meraih kemajuan dalam pertempuran tak lama setelah Rusia mengumumkan gencatan senjata yang diberlakukan sejak Selasa lalu namun dengan batasan waktu dari pukul 09.00 hingga 14.00 waktu setempat (07.00-12.00 GMT)  guna memberikan kesempatan bagi warga sipil untuk keluar dari kawasan itu melalui jalur al-Wafidin di timur laut kota Duma.

Assad menambahkan, “Selagi masih ada penduduk yang kami yakin jumlahnya mayoritas ingin keluar dari rangkulan teroris ke pangkuan pemerintah maka harus ada gencatan senjata. Di saat yang sama, tak ada kontradiksi antara gencatan senjata dan pertempuran. Kemajuan Pasukan Arab Suriah kemarin dan kemarin dulu di Ghouta dicapai oleh tentara Suriah di saat ada gencatan senjata ini.”

Pasukan pemerintah Suriah melancarkan serangan udara dan darat secara besar-besaran ke Ghouta Timur sejak 18 Februari lalu. Tekanan hebat terhadap kawanan teroris dan pemberontak Suriah mengundang kecaman negara-negara Barat terhadap Suriah dan Rusia. Barat menegaskan bahwa Damaskus dan Moskow bertanggungjawab atas “penderitaan” warga sipil di Ghouta Timur akibat serangan tersebut.

Menanggapi kecaman ini, Assad mengatakan istilah penderitaan terkait dengan Suriah dalam kamus barat berarti “pergerakan maju tentara Suriah”.  (mm/alalam/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*